Arsip Tag: true story

The Conjuring – review

James Wan, kreator film Saw dan Insidious yang sukses bikin saya ketakutan, kembali meneror kita semua lewat film horor terbarunya The Conjuring. Walau timing rilisnya nampak menyalip Halloween season beberapa bulan lebih awal, namun secara mengejutkan The Conjuring menempati posisi unggul di box office dengan pendapatan sekitar US$ 41 juta (and counting), hampir dua kali lipat dari budgetnya sendiri.

Screen shot 2013-07-25 at 10.59.20 AM
Meet the unlucky Perron family

Screen shot 2013-07-25 at 11.04.37 AM

Formula yang digunakan The Conjuring sebetulnya masih sama, yaitu seputar keluarga yang pindah ke hunian baru dan perlahan menyadari kalau ada ‘sesuatu’ yang tidak sewajarnya, dan memutuskan untuk memanggil investigator paranormal. Sisanya ya memang pintar-pintarnya sutradara dalam mengolah adegan yang bisa bikin penonton stress 😀 Itu sudah terbukti ampuh dalam Paranormal Activity (note: hanya yang pertama), Insidious dan Sinister yang juga memiliki formula kurang lebih sama dengan approach yang sedikit berbeda. Adapun yang memberi The Conjuring sentuhan yang lebih horor karena embel-embel ‘based on true story’ yakni dari kasus milik pasangan investigator paranormal ternama Ed dan Lorraine Warren. Ternyata mereka berdua juga yang dulu menyelidiki tragedi pembunuhan brutal Amityville.

Lanjutkan membaca The Conjuring – review

Iklan

The Hammer – review

Ternyata selain The Wrestler (2008) dan Warrior (2011), pada tahun 2010 terselip satu film yang diangkat dari kisah nyata mengenai sosok petarung UFC (Ultimate Fighting Championship). Lantas apa yang membedakan The Hammer dari kisah ‘zero to hero’ lainnya? Keistimewaan terletak pada sosok yang diangkat yakni Matt Hamill, pegulat tuna rungu pertama yang menjuarai  National Collegiate Wrestling Championship. ‘The Hammer’ sendiri diambil dari nama panggung Matt sebagai pegulat.

Terlahir sebagai tuna rungu, Matt dibesarkan dengan kepercayaan bahwa ia tidak berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Didikan tersebut terutama datang dari Stanley, kakeknya, yang sudah melihat kecerdasan dan bakat Matt dalam gulat sejak awal. Bahkan ia memotivasi Matt untuk mengejar program beasiswa untuk atlet  di Universitas Purdue yang prestisius. Walau begitu, sebagai satu-satunya tuna rungu di kota kelahirannya Loveland, Ohio, tentu ada saatnya dimana ia menghadapi saat-saat sulit sebagaimana remaja lainnya; tenggelam dalam patah hati dan kekecewaan. Tidak terbiasanya Matt menggunakan sign language pun ternyata menyulitkan kegiatan belajar mengajarnya di Purdue, sampai akhirnya ia terpaksa drop out.

Matt  yang  sudah putus asa, akhirnya berhasil diyakinkan kakeknya untuk mencoba kesempatan kedua di Rochester Institute of Technology (RIT). Tidak seperti Purdue, kampus tersebut memang memiliki komunitas tuna rungu yang cukup besar. Siapa sangka sejak ia melangkahkan kakinya di RIT,  untuk pertama kalinya Matt tidak lagi merasa ‘terasing’ dengan kondisinya sebagai tuna rungu. RIT tak ubahnya kampus biasa dengan segala hiruk pikuk mahasiswa pada tahun ajaran baru, bedanya kini ‘keramaian’ tersebut ditemuinya lewat sign language kemanapun ia memandang. Walau sempat gugup untuk kembali bersosialisasi, di sinilah Matt perlahan membangun kembali self-esteemnya dengan membuka diri pada lingkungannya, persahabatan dan juga, cinta! 😀

Lanjutkan membaca The Hammer – review

The First Grader – review

Pada tahun 2003, seorang kakek berkebangsaan Kenya, Kimani Ng’ang’a Maruge, telah mencatat rekor pada Guiness Book sebagai orang tertua (84 tahun) yang mendaftar masuk sekolah dasar. Dibuatlah sebuah film berdasarkan kisah inspirasional ini pada tahun 2010, dengan kerjasama BBC Films serta sutradara Justin Chadwick yang sebelumnya menggarap ‘The Other Boleyn Girl’ (2008)

The First Grader mengajak kita menyoroti Kenya era post-kolonial dimana Pemerintah Kenya saat itu menjanjikan pendidikan dasar cuma-cuma bagi semua. Hal ini tentu disambut gembira oleh warga, tidak terkecuali warga sebuah desa di salah satu daerah terpencil Kenya. Satu-satunya sekolah dasar yang terdekat dengan desa tersebut sempat kewalahan menghadapi serbuan orangtua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah. Situasi semakin pelik ketika satu sosok kakek tua bernama Kimani Maruge secara mengejutkan mengemukakan keinginannya untuk ikut mendaftar.

Maruge sendiri buta huruf karena sepanjang hidupnya tidak sempat mengenyam pendidikan apapun sejak kecil diakibatkan tidak adanya biaya. Ia adalah keturunan suku Kikuyu yang pada tahun 1950an mencetuskan Pemberontakan Mau-Mau, di mana ia tergabung dalam kelompok pemberontak anti kolonial yang menentang militer pemerintah Inggris yang saat itu menduduki Kenya.

Lanjutkan membaca The First Grader – review

50/50 – review

Nampaknya karena Joseph Gordon Levitt memang dianugerahi wajah yang melas, ia cocok sekali memerankan peran tokoh teraniaya macam Cameron James di 10 Things I Hate About You, Tom Hansen di 500 Days of Summer, atau seperti perannya sebagai Adam di film 50/50 ini. Kecuali tentunya saat ia mendobrak itu semua lewat Hesher (2010) :p. Well anyway, back to 50/50, Adam adalah pemuda twenty-something biasa, bekerja sebagai produser di sebuah stasiun radio dan memiliki pacar cantik yang tinggal bersamanya. Dunianya seketika jungkir balik saat ia divonis dokter mengidap sebuah kanker tulang belakang yang langka. Tentunya bukan kabar yang ingin didengar seseorang di saat usianya baru saja 27 tahun.

Adam: A tumor? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: Me? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: That doesn’t make any sense though. I mean… I don’t smoke, I don’t drink… I recycle…

Untuk fim dengan tema kanker, plotnya cukup mudah dicerna, tidak semelankolis Dying Young (1991) atau sedepresi Funny People (2009). Namun ada benang merah yang menghubungkan 50/50 dengan Funny People, yakni sama-sama dibintangi Seth Rogen. Disini Seth Rogen berperan sebagai Kyle, sahabat Adam yang ceplas-ceplos. (well, Seth Rogen is being Seth Rogen indeed 😀). 50/50 sendiri adalah angka presentasi kesembuhan Adam yang diprediksi oleh dokter.  Keistimewaan kisah 50/50 ini memang terletak pada kesederhanaannya. Seolah menyampaikan that shit does just happen sometimes and it doesn’t discriminate, even to a guy as decent, as mild, as good as Adam. Adam kini menjalani kesehariannya dengan rangkaian kemoterapi, berkenalan dengan pasien kanker lain, juga sesi terapi dengan psikiater kikuk Katherine (Anna Kendrick). Ia pun harus menghadapi kepanikan sang ibu (Anjelica Huston, in one of her less-scary gesture here :D) dan the girlfriend we’d all love to hate, Rachael (Bryce Dallas Howard, yang nampaknya mulai menapaki spesialis peran antagonis sejak akting gemilangnya di The Help :D). Seiring waktu dan penyakit yang kian menggerogoti, makin sulit bagi Adam untuk tetap bersikap positif.

Lanjutkan membaca 50/50 – review

Made In Dagenham – review

Mumpung masih suasana hari buruh, kemarin malam menyempatkan menonton Made In Dagenham (2010). Filmnya sendiri merupakan dramatisasi dari kisah nyata para buruh wanita di pabrik mobil Ford tahun 1968. Back then, women didn’t get paid as much as men, just because….they’re women. Sucks, huh?

Di tengah ribuan pegawai pabrik Ford -yang termasuk salah satu pabrik dengan angka tenaga kerja terbesar di Inggris saat itu- yang rata-rata pria, terdapat 187 pegawai wanita, yang bertugas menjahit properti interior mobil Ford. Mulai merasa tidak puas dengan kondisi tempat kerja mereka yang memprihatinkan serta  status mereka yang dikategorikan ‘unskilled work‘ secara sepihak, bersama dengan Serikat Pekerja mereka mengadakan pertemuan dengan para petinggi Ford untuk menuntut keadilan. Rita O’Grady (Sally Hawkins) awalnya hanya pegawai biasa yang pemalu, namun setelah diberi kepercayaan oleh teman-teman sesama pegawai dan salah seorang perwakilan dari serikat, Albert (Bob Hoskins), maka majulah ia untuk menyuarakan pendapatnya.  Beberapa kendala datang seiring rentannya kepentingan politik dan agenda terselubung dari pihak-pihak yang terlibat.

Kenyataan pahit mesti diterima Rita saat ia mempelajari fakta bahwa para buruh wanita tidak mendapat gaji sebesar buruh pria, hanya dikarenakan isu gender semata. Makinlah ia termotivasi untuk menuntut apa yang menjadi bukan hanya hak-nya, tapi hak para buruh wanita di seluruh negeri. Saat Rita membawa gerakan ini ke berbagai kota dan mulai mendapat perhatian media termasuk juga salah seorang petinggi Kabinet MacMillen saat itu Barbara Castle (Miranda Richardson), ia harus membuktikan bahwa perjuangannya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Selain kisah pergolakan buruh wanita dari Dagenham, juga diceritakan sub-plot kehidupan pribadi Rita sebagai seorang ibu dan dilemanya dalam menjalani misi yang diembannya, dimana hal tersebut mempengaruhi kondisi keluarga serta orang orang terdekatnya. Kemunculan tokoh Lisa Hopkins (Rosamund Pikes), istri salah satu petinggi Ford yang justru bersimpati pada Rita, walaupun tidak banyak namun mempertegas ironi yang menimpa para wanita saat itu.

 Lisa Hopkins: I’m Lisa Burnett, I’m 31 years old and I have a first class honours degree from one of the finest universities in the world, and my husband treats me like I’m a fool. 

Di luar dugaan, Made In Dagenham ini bisa dibilang tidak terlalu rumit. Maka itu di luar berbagai pujian yang dilayangkan untuk film ini, memang ada beberapa kritik mengenai kemasan yang terlalu ‘manis’ dan ringan dalam menggambarkan pergerakan kaum buruh wanita saat itu. Namun Sally Hawkins tetap mempesona sebagai wanita rapuh dan berani di saat yang bersamaan. Setelah diperhatikan, ia mirip sekali dengan Kate Beckinsale dan Sandra Bullock ya? 😀 Yang paling mengesankan mungkin Miranda Richardson (selama ini dikenal sebagai tokoh Rita Skeeter dalam seri Harry Potter) yang sukses menampilkan karakter si tangan besi Barbara dengan lugas. Terutama adegan saat ia berdebat dengan bawahannya saat ia mengemukakan keinginannya untuk bertemu Rita dan para pengunjuk rasa lainnya.

Barbara Castle: I am what is known as a fiery redhead. Now, I hate to make this a matter of appearance and go all womanly on you, but there you have it. And me standing up like this is in fact just that redheaded fieriness leaping to the fore. Credence? I will give credence to their cause. My god! Their cause already has credence. It is equal pay. Equal pay is common justice, and if you two weren’t such a pair of egotistical, chauvinistic, bigoted dunderheads, you would realise that. Oh, my office is run by incompetents and I am sick of being patronised, spoken down to, and generally treated as if I was the May Queen. Set up the meeting! 

Dan tentu saja, props dan wardrobe 1960an-nya sangat memanjakan mata :D. Jangan lupa simak juga credit title dimana terdapat footage wawancara dengan tokoh tokoh asli pergerakan buruh wanita ini.

For a feel good movie, Dagenham made 7.5/10

Women empowerment, yeay! 🙂

Conviction – review

Hilary Swank, our Oscar darling kembali dengan akting memikatnya dalam film Conviction. Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai perjuangan Betty Anne Waters, dalam memperjuangkan keadilan bagi kakak laki lakinya Kenneth Waters yang didakwa tuduhan pembunuhan di kampung halaman mereka, Ayer pada tahun 1983. Kisah dua bersaudara ini diceritakan secara back to back antara kilas balik dengan masa kini. Betty Anne (Hilary Swank) dan Kenny (Sam Rockwell), kakak beradik yang saling menyayangi walaupun sejak kecil sudah harus berpisah karena dititipkan pada rumah asuh yang berbeda. Namun mereka tetap berhubungan sampai masing-masing tumbuh dewasa, menikah dan memiliki keluarga sendiri.

Pada suatu hari, Kenny, si sulung dengan temperamen yang meledak-ledak,  tertimpa kesialan  dimana ia dicurigai oleh polisi setempat yakni Nancy Taylor (Melissa Leo) atas kasus pembunuhan brutal pada penduduk setempat. Sempat dilepaskan karena tidak cukup bukti, secara mengejutkan tiga tahun kemudian polisi kembali mendatanginya untuk kali ini betul betul menjebloskannya ke dalam penjara. Dengan rentetan barang bukti, alibi yang lemah dan keterangan saksi yang memberatkan, vonis seumur hidup pun tidak terhindarkan lagi.

Betty Anne yang cukup terpukul atas kejadian ini mulai memutar otak untuk membuktikan jika Kenny tidak bersalah. Bukan perkara mudah, karena Pengacara publik memasang tarif mahal dan Kenny pun sempat melakukan percobaan bunuh diri di penjara karena nyaris putus asa. Sampai akhirnya Betty Anne mengambil keputusan berani: kembali ke bangku kuliah untuk mengambil gelar hukum agar bisa menjadi pengacara untuk kakaknya. Disinilah perjuangan Betty Anne dimulai. Begitu berdedikasinya ia pada upayanya ini hingga pernikahannya pun tanpa sengaja menjadi korban. Terbebani peran single mother, berbagai tugas kuliah dan ancaman drop out membuat Betty Anne nyaris menyerah di tengah jalan jika bukan karena dorongan semangat dari teman kuliahnya Abra Rice (Minnie Driver).

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Betty Anne menemukan sebuah organisasi non-profit bernama Innocence Project, yang membantu menangani kasus kasus wrongful convictions seperti yang dialami Kenny. Ternyata teknologi DNA baru marak pada saat itu dan konon pencocokan DNA bisa diajukan pada kasus lama yang  diragukan keabsahannya. Betty Anne kembali merunut bukti-bukti lama, menanyai saksi saksi lama, hingga titik cerah akan kasus Kenny perlahan mulai menyeruak. Apakah perjuangan Betty Anne selama belasan -bahkan puluhan tahun membebaskan kakaknya akan berbuah hasil?

Mungkin tanpa harus diberitahu akhir cerita pun, sudah bisa tertebak ya :). Tapi bukankah pada kisah seperti ini, yang menarik adalah prosesnya? Secara keseluruhan kisah ini betul betul menginspirasi dan menyentuh, betapa setia dan tidak putus-putusnya kepercayaan Betty Anne  pada kakaknya. Perhatikan transformasi karakter Betty Anne yang awalnya hanya seorang ibu rumah tangga biasa menjadi mahasiswa dan akhirnya seorang pengacara. Film ini menunjukkan betapa jahatnya sebuah ‘sistem’ yang korup, betapa dahsyat dampaknya pada orang orang yang terjerumus pada sistem tersebut, dan betapa mahal harga yang harus dibayar — waktu dan keluarga.  This ain’t a simple cinderella story, this is an endless devotion of a loving sister whom put up a good fight. Bahkan sejak awal Betty Anne tidak pernah mempertanyakan apakah kakaknya betul-betul tidak bersalah.  If that’s not true faith, i don’t know what is 🙂

Bukan hanya Hilary Swank, namun performa Sam Rockwell sebagai Kenny dengan pasang surut emosinya pun sayang untuk dilewatkan, hingga tidak kurang dari tiga nominasi sebagai Best Supporting Actor di berbagai festival film diraihnya untuk peran ini. Sang sutradara Tony Goldwin, berhasil mengemas kisah ini dengan begitu memikat dan sama sekali tidak membosankan. Sebelumnya ia lebih banyak menangani serial TV seperti The L Word, Grey’s Anatomy, hingga Dexter. Namun mungkin orang akan lebih mengenal sosoknya sebagai aktor yakni sebagai antagonis Carl Brunner dalam film ‘Ghost’ (1990) yang amat populer.

Conviction, a crusade for justice that’s worth-watching 8/10