Arsip Tag: thriller

Triple Play: Cheap Thrills (2014), 13 Sins (2014), Would You Rather (2012)

Halo! Long time no see, haha. Sudah lama sekali tidak menulis ulasan film, padahal beberapa bulan terakhir banyak menonton film-film yang cukup menarik X’D. Walau sedikit terlambat, tapi saya ingin menulis tentang  tidak hanya satu tapi tiga film sekaligus! Jadi ceritanya beberapa waktu lalu saya menemukan film yang secara kebetulan mengangkat tema yang serupa: keputusasaan, keserakahan dan psychological terror!.
Akan saya bahas sesuai urutan saya menonton. Let’s start!
Lanjutkan membaca Triple Play: Cheap Thrills (2014), 13 Sins (2014), Would You Rather (2012)

Iklan

Pieta (2012) – review

Pieta (bahasa italia untuk pity, belas kasihan) dalam literatur dan seni merupakan karya yang menyimbolkan sosok Yesus setelah penyaliban dalam pangkuan Bunda Maria. Rasa duka/belas kasih seorang ‘ibu’ atas penebusan dosa ‘anak’nya, kurang lebih itulah yang diintrepretasikan film Pieta karya Kim Ki-duk ini. Untuk tema hubungan ibu dan anak mungkin film Mother (Ma-deo) (2009) karya Bong Joon-ho lebih populer, namun saya sendiri lebih suka Pieta walau plotnya sendiri justru jauh lebih sederhana 😀

Lanjutkan membaca Pieta (2012) – review

Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

There’s always several movies that left an uneasy feeling, stir us up emotionally  especially when you’re a woman. Beberapa film ini misalnya seperti North Country (2005), An American Crime (2007), Changeling (2008), The Duchess (2008), hingga I Spit on Your Grave (1978/2010). Nah, Bedevilled ini termasuk salah satunya. Film Korea yang jadi jawara Puchon International Film Festival tahun 2010 ini menyoroti sudut pandang dari dua wanita dengan nasib dan kehidupan yang bertolak belakang, Hae-won (Ji Sung-won) dan Kim Bok-nam (Seo Young-hee). Sama-sama besar di kepulauan terpencil Mudo di selatan Korea, Hae-won kemudian memutuskan untuk mengejar karir dan mimpi di ibukota Seoul. Di awal film ditunjukkan bahwa hidup Hae-won tidaklah seindah yang dibayangkan. Tekanan dari persoalan kehidupan di kota besar mulai membuatnya frustrasi. Sebuah surat lama dari Kim Bok-nam, teman kecilnya, mendorongnya untuk kembali sejenak ke Mudo untuk menjernihkan pikiran.

Lanjutkan membaca Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

Stoker – review

Sebelum saya tahu kalau aktor Wentworth Miller lulusan sastra Inggris di Princeton, saya sejujurnya agak pesimis apakah script yang dibuatnya layak jadi debut penyutradaraan sutradara jawara Cannes, Park Chan-wook untuk film Hollywood :p. Dari poster dan trailernya memang sudah terasa sekali ‘feel’ ala film thriller Korea. Itu juga yang membuat saya cemas, karena toh tidak semua aktor/aktris Hollywood cocok ‘dikemas’ dengan gaya seperti ini. Saya sendiri mengagumi beberapa karya Park Chan-wook sebelumnya seperti Oldboy (2003) dan Thirst (2009). Namun setelah menonton film ini, rasa pesimis saya buyar seketika dan malah bersyukur tim produser Ridley Scott cukup jeli mempertemukan script Miller dengan sutradara yang memang sudah ahli mengolah cerita dengan twist seperti ini.

Lanjutkan membaca Stoker – review

Confessions (Kohuhaku)

Familiar dengan film Kill Bill, I Spit On Your Grave, Hard Candy,  Oldboy, The Skin I Live In, dan I Saw The Devil? Tema ‘vengeance‘ alias balas dendam yang jadi benang merah film-film yang barusan disebutkan memang selalu seru untuk diangkat ke layar lebar. Jika selama ini balas dendam digambarkan identik dengan aksi vigilante yang disertai bumbu bloody-gore, maka film Confessions (2010) dengan cerdas menyajikan  ‘balas dendam’ dari permainan alur  serta multiple vantage point. Film yang juga sempat masuk shortlist Academy Awards 2011 untuk Best Foreign Language Film ini bisa dibilang lebih kental dengan aroma psychological thriller yang mencekam secara emosi.

“Revenge is a dish best served cold

Begitulah peribahasa yang  sering dilontarkan terkait upaya balas dendam. Nampaknya prinsip inilah yang dipegang Yuko Moriguchi (Takako Matsu), seorang guru dan ibu tunggal yang kehilangan anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun, Manami, dalam sebuah kejadian tragis di sekolah tempat ia bekerja. Di hari terakhirnya mengajar, dengan kalemnya ia ‘mengaku’ pada anak-anak didiknya bahwa ia tahu penyebab kematian Manami bukanlah kecelakaan, namun putrinya adalah korban dari konspirasi pembunuhan yang keji. Pelakunya, tak lain adalah dua orang siswa yang ada di kelas tempat ia mengajar, yang ia samarkan dengan nama ‘Student A’ dan ‘Student B’.  Karena kejahatan oleh anak di bawah umur tidak bisa dijerat hukum menurut undang-undang Jepang (biasanya hanya berakhir dengan hukuman rehabilitasi), Moriguchi memutuskan untuk  menggunakan metodenya sendiri untuk memberi pelajaran kepada para pembunuh putrinya tersebut.

The calm before the storm

Lanjutkan membaca Confessions (Kohuhaku)

The Skin I Live In – review

Walaupun sudah familiar dengan nama besar Pedro Almodovar, ternyata ini pertama kalinya saya menyaksikan karya beliau. Film yang diadaptasi dari novel crime/thriller ‘Mygale’ karya Thierry Jonquet ini sontak mendapatkan publikasi yang luas saat diikutkan festival Cannes 2011, apalagi kemudian The Skin I Live In menjadi salah satu nominator untuk penghargaan tertinggi Palme d’Or.

Film berbahasa Spanyol yang berjudul asli La Piel Que Habito ini bercerita tentang seorang obsesi dokter sekaligus peneliti Robert Ledgard (Antonio Banderas)  menciptakan sebuah kulit sintetis.  Hal ini dipicu almarhum istrinya yang dulu mengalami kecelakaan mobil dan menyebabkan luka bakar hebat di sekujur tubuhnya. Agak sulit menceritakan lebih jauh sinopsis film ini karena memang kunci cerita ada di wanita misterius yang hidup di kediaman Robert. Wanita yang berpakaian tertutup ini merupakan kelinci percobaan Robert dalam penelitiannya. Mengapa dan kenapa ia bisa sampai di tangan Robert, adalah sesuatu yang mesti disaksikan sendiri 😀

Skin_I_Live_In_3

Lanjutkan membaca The Skin I Live In – review

Drive – review

The underdog movie of the year. Untuk awalnya, jangan berharap film ini penuh adegan aksi kebut-kebutan ala Fast and Furious hanya karena Ryan Gosling diplot sebagai stunt driver. Jangan pula menyangka Gosling telah menjadi bintang laga komersil. Drive is simply a love story, a badass love story in cold blood. And packed in a very stylish 80’s ambience and tunes.

Stunt driver by day, wheelman by night, begitulah keseharian pria misterius yang diperankan Ryan Gosling ini. Dingin dan tidak pernah bicara banyak, hingga ia berkenalan dengan Irene (Carey Mulligan) seorang ibu muda yang hidup di seberang apartemennya. Walau tahu Irene memiliki suami yang sedang mendekam di penjara, namun jelas sekali ada ketertarikan di antara keduanya. Nah, disinilah Nicholas Winding Ren sang sutradara terampil menyuguhan adegan-adegan ‘manis’ antara Gosling dan Mulligan berhiaskan lantunan elektro khas 80’an, sebagaimana sudah sangat terasa sejak credit title pembuka.

As for the cold blood thingy, it’s entirely true as well. Bermula saat sang tokoh anti-hero kita mencoba membantu suami Irene yang baru saja keluar dari penjara dan diperas oleh mafia. Mereka berdua dijebak sehingga kini ia mesti menelusuri dan menuntut balas pada sang gembong mafia demi melindungi Irene dan Benicio, putra Irene. And when you say Mob, it means extreme violence. The elevator scene below, is my favorite. 😀

Lanjutkan membaca Drive – review