Arsip Tag: slasher

Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

There’s always several movies that left an uneasy feeling, stir us up emotionally  especially when you’re a woman. Beberapa film ini misalnya seperti North Country (2005), An American Crime (2007), Changeling (2008), The Duchess (2008), hingga I Spit on Your Grave (1978/2010). Nah, Bedevilled ini termasuk salah satunya. Film Korea yang jadi jawara Puchon International Film Festival tahun 2010 ini menyoroti sudut pandang dari dua wanita dengan nasib dan kehidupan yang bertolak belakang, Hae-won (Ji Sung-won) dan Kim Bok-nam (Seo Young-hee). Sama-sama besar di kepulauan terpencil Mudo di selatan Korea, Hae-won kemudian memutuskan untuk mengejar karir dan mimpi di ibukota Seoul. Di awal film ditunjukkan bahwa hidup Hae-won tidaklah seindah yang dibayangkan. Tekanan dari persoalan kehidupan di kota besar mulai membuatnya frustrasi. Sebuah surat lama dari Kim Bok-nam, teman kecilnya, mendorongnya untuk kembali sejenak ke Mudo untuk menjernihkan pikiran.

Lanjutkan membaca Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

The Incident – INAFFF

Sudah biasa dalam film horor/thriller dimana situasinya digambarkan terjebak di kegelapan dan diiringi hujan badai. Namun terjebak di kegelapan, diiringi hujan badai, terkunci di dalam rumah sakit jiwa berisikan berbagai macam psikopat yang bebas berlarian? Nah, itu baru mimpi buruk sebenarnya.

Kurang lebih itulah yang ditawarkan The Incident, salah satu film yang cukup menjadi bahan pembicaraan sepanjang INAFFF. George, Max dan Ricky adalah tiga orang pemuda yang menghabiskan waktunya bekerja sebagai juru masak di rumah sakit jiwa Sans yang terletak di pinggir kota. Memang bukan pekerjaan impian, namun cukup untuk menyambung hidup dan mimpi mereka sebagai band yang sedang merintis karir dari gigs kegigs.

Sans Asylum sendiri digambarkan sebagai rumah sakit jiwa yang memang didesain untuk ‘mengurung’ para pasiennya dengan tingkat keamanan maksimum. Dari mulai bangunan yang hampir tanpa jendela serta akses elektronik untuk seluruh pintu. Yes, a very depressing asylum indeed. I don’t know why people would designed such place without making its patient even crazier :p

Suatu hari hujan turun lebih lebat dari biasanya. Dalam gemuruh petir yang saling bersahutan, tiba-tiba Sans Asylum dihadapkan pada skenario terburuk: mati listrik. Bukan hanya kegelapan yang menyambut para juru masak serta petugas Sans Asylum, namun fakta bahwa dengan matinya listrik tersebut, akses keluar masuk pun terputus dikarenakan seluruhnya dijalankan dengan elektronik.

Lanjutkan membaca The Incident – INAFFF

SCRE4M – review

The Voice: Welcome home, Sidney. You’re a survivor, aren’t you, Sidney? What good is it to be a survivor when everyone close to you is dead? You can’t save them. All you can do… is watch.

Tadinya agak malas menonton installment ke-4 dari seri Scream ini.  What’s there left to expect? Not too fond for the last one, either. Namun ternyata di luar dugaan, kisah serial killer dengan julukan GhostFace kali ini sangat menghibur, bahkan seolah Kevin Williamson sang kreator memang sengaja menyisipkan berbagai humor satir yang seolah ‘mentertawakan’ trilogi sebelumnya.

Adegan pembuka khas Scream yang bertaburan cameo dari mulai Anna Paquin sampe Kristen Bell bahkan mampu memancing tawa, yang juga mengingatkan kita akan Scary Movie –film mash up parodi horor remaja di tahun 90an.

Tokoh-tokoh asli dari trilogi sebelumnya masih tetap dipertahankan, yakni:  Sydney Prescott (Neve Campbell), Gail Weathers (Courteney Cox), Dewey Riley (David Arquette).  Alkisah Sydney yang baru saja meluncurkan buku perdananya pulang kampung ke Woodsboro. Bertepatan dengan peringatan tragedi berdarah Woodsboro oleh GhostFace, tentu ada sambutan khusus dari sang pembunuh untuk Sydney. Sepupu Sydney yakni Jill Roberts (Emma Roberts) beserta teman-temannya mulai dihujani teror GhostFace dan mau tidak mau ikut terseret ke dalam permainan hidup dan mati tersebut. Lanjutkan membaca SCRE4M – review

I Spit On Your Grave – review

Hell hath no fury like a woman scorned…or in this case, brutally raped. ‘I Spit On Your Grave’ merupakan remake dari film cult classic berjudul sama yang diproduksi 1978. Kini film bertemakan ‘rape-revenge’ ini diangkat kembali di bawah arahan sutradara Steve R. Monroe.

I’ve seen the original film and i have to say this one is executed waaaaay more brutal and gore,…but hey, who doesn’t do that these days? They have Saw, Hostel etc to live up to.

Jennifer Hills (Sarah Butler, sepintas mirip Leighton Meester dari serial Gossip Girl :D) adalah seorang penulis novel yang sedang menyepi ke kabin di tengah hutan untuk menyelesaikan karya terbarunya. Sayangnya, ketenangannya terusik oleh beberapa pria warga setempat yang diam diam sudah mengincarnya semenjak ia menapaki kota kecil tersebut. Pada suatu malam, para pria tersebut, yakni Johnny dan teman-temannya menyatroni kabin Jennifer untuk kemudian melecehkan serta menyiksa gadis malang tersebut.

Berhasil melarikan diri ke hutan, Jennifer berjumpa dengan Sherrif Storch untuk kemudian meminta pertolongan. Namun kesialan Jennifer ternyata tidak berhenti disitu. Sherrif Storch ternyata memiliki sisi bejat yang tak kalah bengis. Setelah mengantar Jennifer kembali ke TKP, bukan hanya ia menuduh Jennifer bertindak asusila berdasarkan sisa minuman keras dan ganja yang ada, namun kemudian ia berkomplot dengan gerombolan Johnny dan kawan kawan untuk memperkosa Jennifer beramai-ramai. Matthew, salah satu di antara mereka yang agak terbelakang pun dipaksa untuk ‘berpartisipasi’.

Perlu diingat, adegan yang ditampilkan akan sangat grafis, dan sangat membuat miris, especially if you’re a woman, so be prepared. Singkat cerita, setelah siksaan mental dan fisik secara bertubi-tubi dan dibiarkan tergeletak begitu saja di hutan, Jennifer dengan segenap kekuatan yang masih tersisa berjalan tertatih-tatih ke arah sungai. Sebelum Sherrif Storch sempat menembaknya dengan senapan, Jennifer melemparkan diri ke dalam sungai. Saat tubuhnya tidak kunjung muncul, para pelaku akhirnya berkesimpulan ia bunuh diri dan menghilangkan bukti bukti terkait termasuk video rekaman yang dibuat saat kejadian.

Hidup tenang mereka nyatanya tidak berlangsung lama karena Jennifer ternyata masih hidup, dan ia tentunya sudah memiliki rencana balas dendam yang  tidak main-main. She’ll definitely spit on y’all grave, boys!


Ok i’d rather not spoil all the bits and pieces about the gory-revenge. But in case you’re curious and would like a mental-preparation, go ahead check the complete synopsis in detail at wikipedia :p

I did, and i still grinned…with shivers! Gore fans would be pleased, though. If it’s involving eyeballs and asshole, nothing’s good ever come out of it *smirk

Kalau sebelumnya yang cukup bikin ‘ngilu’ para kaum lelaki ada film ‘Teeth’ (2007) maka di film ini siap siap untuk merasakan hal yang sama...on double dose..wait, make it triple! :p

Film ini sendiri sempat dikritik sejak rilisan tahun 1978 karena menuai kontroversi dan seolah membenarkan aksi vigilante. Sutradara asli Meir Zarchi konon terinspirasi mengangkat tema ini setelah menolong wanita korban perkosaan di New York dan menyaksikan penanganan yang tidak semestinya terhadap korban terkait. Oh well, the guy made a thriller-gore film, what do you expect? Maybe they should try ‘Accused’ (1988, starring Jodie Foster) for the similar theme with the ‘proper dealing’ manner

All i can say is, hold on to your balls, boys! Cos this is one pissed off woman. With shears, and deep hatred. Chop chop chop!

Gore 8/10

Rumah Dara – review

Dengan hype yg sudah bergaung sejak film pendeknya ‘Dara’ menjadi salah satu anthology film ‘Takut’, sukses berjaya di festival film di luar negeri dan menjadi opening INAFFF akhir tahun lalu, akhirnya Macabre alias Rumah Dara rilis di bioskop!

Seiring semakin populernya genre horror/gore/slasher sejak Saw, Hostel, Texas Chainsaw Massacre, The Hills Have Eyes, dll nampaknya membuat The Mo Brothers ingin mengangkat tema tersebut pada perfilman Indonesia, tanpa tanggung tanggung. Yeah, when do the last time we ever had gore movies? Maybe G30S-PKI, if it counts :p

Untuk jalan ceritanya sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tipikal film slasher pada umumnya. Kisah dibuka dengan sentral kakak beradik Ladya (Julie Estelle) dan Adjie (Ario Bayu). Adjie yg istrinya sedang hamil tua hendak berpamitan untuk pindah ke Australia. Hubungan dengan Ladya tidak begitu baik karena suatu kecelakaan di masa lalu yg menyebabkan kematian orang tua mereka. Karena satu dan lain hal, Ladya akhirnya memutuskan untuk ikut mengantar Adjie beserta teman-teman lainnya Jimi, Alam dan Eko ke bandara. Di tengah jalan tol yg diguyur hujan deras, seorang wanita misterius muncul di depan mobil mereka. Tidak tega, mereka  menawarkan untuk mengantar wanita yg bernama Maya (Imelda)  itu pulang.

Sebagai tanda terima kasih, ibunda Maya yakni Dara (Shareefa Daanish) menawarkan untuk memasakkan makan malam. Walau sungkan dan merasa tidak nyaman dengan aura aneh dari keluarga misterius ini, Adjie dkk memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Namun ketika di tengah-tengah perjamuan satu persatu dari mereka tergeletak tidak sadarkan diri untuk kemudian tersadar dalam keadaan terikat, well, you might think twice when a creepy strangers  offered you a dinner…

Alur cerita berikutnya tentu saja bermandikan darah. A LOT OF IT. Konon syuting film ini menggunakan 30 galon darah kambing –tanpa sepengetahuan para aktor/aktris. Wew..pretty nasty, eh?. What about the ‘toys’? it has all of the essentials: chainsaw, knife, sword, bowgun, reaping hook, hairpin,..and even a killer heels! literally x). Praise for the props!

Untuk aktingnya, memang tidak salah Daanish menang sebagai Best Actress di Puchon Film Festival. Hanya sayang, tone suaranya sedikit mengganggu. Mungkin dimaksudkan supaya terkesan menyeramkan, tapi justru jadi terdengar terlalu dipaksakan. Karena toh sosoknya sudah cukup seram tanpa harus bersuara seperti itu 😀 hehehe. Mungkin yg terkesan agak janggal adalah plotnya sebagai ibu dari Maya, Adam dan Armand..karena sebetulnya sih wajah Imelda bahkan lebih tua daripada Daanish, hehehe…seandainya make upnya lebih di’tua’kan lagi akan lebih pas ;). Arifin Putra, yet the bright young actor!!. Gerak gerik dan struktur mukanya yg dingin sangat mendukung perannya sebagai Adam.

meet the Dara’s family,..the nasty version of Addam’s family :p

dan Julie Estelle sebagai heroine of the movie juga sekali lg membuktikan kualitasnya. Jarang sekali ada aktris muda Indonesia yg memiliki kekuatan akting sebanding dengan keelokan wajahnya :p. She’s good.

Adanya cameo dari Aming terasa sedikit out of place, karena suspense yg sudah dibangun agak sedikit luntur dengan Aming yg agak sulit lepas dari karakter ‘comedic’nya.

Banyak juga yg mengkritik kurang  jelasnya latar atau motif dari keluarga Dara ini. I didn’t find it very much disturbing though, it IS a slasher movie..don’t sweat the small stuff :p. Toh pada suatu adegan, diindikasikan bahwa mereka sudah hidup sejak tahun 1880-an. Well, it’s better to use our imagination dan menyimpulkan bahwa keluarga Dara mengkonsumsi ‘daging’ sehingga dapat hidup abadi –kurang lebih premisnya seperti itu. Tidak sulit kan? hehehe.

Gw tidak merasakan efek sampai tidak enak makan seperti beberapa orang setelah menonton film ini, namun ada beberapa adegan yg cukup membuat gw mengintip dari balik tangan saja hehehe. The plot was okay, but we do have to appreciate upaya The Mo Brothers untuk menyumbangkan genre yg lain dari yg lain, tanpa membuatnya terlihat cheesy. Again, praise for the props!! 😀

Nantikan saja, pasti tidak lama akan ada follower-follower sejenis –terlepas mampu atau tidaknya kualitasnya menyamai Rumah Dara, hehehe

score 7.5/10


P.S berdasarkan wawancara The Mo Brothers dengan flickmagazine.net, konon konsep awalnya adalah trilogi. Seandainya responnya bagus, maka kemungkinan untuk prekuel dan sekuel ada. Woohoooo! 😀

berbagai versi poster Rumah Dara: