Arsip Tag: school

The First Grader – review

Pada tahun 2003, seorang kakek berkebangsaan Kenya, Kimani Ng’ang’a Maruge, telah mencatat rekor pada Guiness Book sebagai orang tertua (84 tahun) yang mendaftar masuk sekolah dasar. Dibuatlah sebuah film berdasarkan kisah inspirasional ini pada tahun 2010, dengan kerjasama BBC Films serta sutradara Justin Chadwick yang sebelumnya menggarap ‘The Other Boleyn Girl’ (2008)

The First Grader mengajak kita menyoroti Kenya era post-kolonial dimana Pemerintah Kenya saat itu menjanjikan pendidikan dasar cuma-cuma bagi semua. Hal ini tentu disambut gembira oleh warga, tidak terkecuali warga sebuah desa di salah satu daerah terpencil Kenya. Satu-satunya sekolah dasar yang terdekat dengan desa tersebut sempat kewalahan menghadapi serbuan orangtua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah. Situasi semakin pelik ketika satu sosok kakek tua bernama Kimani Maruge secara mengejutkan mengemukakan keinginannya untuk ikut mendaftar.

Maruge sendiri buta huruf karena sepanjang hidupnya tidak sempat mengenyam pendidikan apapun sejak kecil diakibatkan tidak adanya biaya. Ia adalah keturunan suku Kikuyu yang pada tahun 1950an mencetuskan Pemberontakan Mau-Mau, di mana ia tergabung dalam kelompok pemberontak anti kolonial yang menentang militer pemerintah Inggris yang saat itu menduduki Kenya.

Lanjutkan membaca The First Grader – review

Iklan

Pretty Persuasion – review

 

The devil wears a grey skirt and her name is Kimberly Joyce

If you think Kathryn Mertuil from Cruel Intentions or Regina George from Mean Girls is the ultimate teen-b*tch queen, then you haven’t meet Kimberly Joyce. Film ini sesungguhnya bukan film baru, yakni produksi 2005.  Jika suka film tentang dysfunctional family/teens dengan bumbu satir atau ‘dark‘ seperti ‘Igby Goes Down’ (2002)’, atau  ‘The Royal Tenenbaums’ (2001), maka ‘Pretty Persuasion’ ini wajib ditonton.

Kimberly Joyce (diperankan dengan memikat oleh si seksi Evan Rachel Wood) gadis yang memiliki mimpi sama seperti remaja sebayanya, to be loved and famous. Namun walaupun berwajah bagai malaikat, Kimberly tidak bisa dikatakan sebagai gadis naif sepenuhnya. Tumbuh dengan lingkungan ayah yang cenderung rasis dan meledak-ledak, ibu tiri yang usianya tidak terpaut jauh darinya serta komunikasi antar keluarga yang buruk, membuat Kimberly menjadi pribadi yang dingin serta manipulatif.

Cerita bergulir saat Randa (Adi Schnall), gadis muslim berjilbab menjadi murid baru di SMU Beverly Hills. Merasa sifat introvert Randa bisa dimanfaatkan, tidak butuh  waktu lama untuk Kimberly untuk menjadikan Randa ‘bergabung’ dengan ia dan sahabatnya, Brittanny (Elisabeth Harnois).  Singkat cerita, mulailah ketiga gadis itu terlibat dalam suatu plot penuh intrik, balas dendam dan sensasi memanfaatkan skandal tuntutan pelecehan seksual kepada guru bahasa inggris mereka, Mr. Anderson (Ron Livingston). Terdengar sederhana? Not really, i did it on purpose :D. Karena sulit untuk memaparkan keseluruhan cerita dalam film ini tanpa memberitahu twist-nya, and you wouldn’t want that, now would you?

Kimberly Joyce: It’s like the world is this orchestra and I’m the conductor.


 

Kimberly Joyce: Randa, what’s the greatest thing about this country?
Randa: Sylvester Stallone?
Kimberly Joyce: No. It’s that anybody can sue anybody at anytime over anything.
Randa: You wanna sue Mr. Anderson?
Kimberly Joyce: I suppose that it might jump-start me and Brittany’s acting careers.


Yang paling menarik dari film ini memang karakterisasi masing masing tokoh. Selain Evan Rachel Wood yang sangat sukses menghidupkan sosok ‘sadis’ Kimberly, juga ada Jane Krakowski — familiar bagi publik sini lewat perannya sebagai si genit Elaine dalam seri Ally McBeal– sebagai  jurnalis lesbian Emily Kline yang awalnya hendak menjadikan insiden di Beverly Hills ini sebagai batu loncatan karirnya. Namun apa daya justru ia yang dimanfaatkan oleh Kimberly. Juga ada James Woods — si Sebastian Shark dalam seri Shark–  salah seorang yang juga aktingnya memukau disini sebagai ayah Kimberly yang bigot. Hampir semua karakter adalah karakter yang we love to hate, dengan sisi gelap masing-masing yang dieksploitasi; kecuali mungkin Randa yang sengaja diposisikan sebagai objek pengamat (atau penderita?). Agak sedikit aneh sekaligus lucu menyaksikan karakter Muslim dibenturkan dengan kultur yang sama sekali berlawanan, perasaan serupa saat menyaksikan Persepolis dan seri Skins.

Randa: [watching a porno] Why is that woman – why is she doing those things with another woman? Why must they show this?

Kimberly Joyce: Because men like to watch it.
Randa: But it is a sin!
Kimberly Joyce: [laughs] Randa! Randa, you’re gonna find out that a lot of things men like are a sin.

 

Penuh dengan kata umpatan eksplisit dan provokatif, unsur seks/SARA, serta dibalut kemasan dark comedy satir, jelas film ini bukanlah film yang bisa ditonton bersama di ruang keluarga 😀

Bisa dibilang Pretty Persuasion adalah gabungan Cruel Intentions dan Wild Things,…with steroids.

Malicious and brutally hilarious! 8/10

 

 

 

 

 

 


Easy A – review

Di tengah serbuan film film remaja kelas B yang  hanya mengeksploitasi seks dan cerita yang dangkal, the last teen movie that actually intrigued me was Charlie Bartlett (2007). Nampaknya kini Charlie akan ditemani oleh Olive Penderghast dari ‘Easy A’. Seperti kisah remaja pada umumnya, ‘Easy A’ masih berkutat di dalam topik teen pressure, persahabatan dan tentunya, cinta. Gaya penceritaan dibuka dengan Olive yang akan membeberkan kisahnya via video internet streaming. Shall the story begins…:D

Olive Penderghast: The rumors of my promiscuity have been greatly exaggerated.

Kebohongan kecil Olive Penderghast (the ravishing Emma Stone) pada Rhiannon sahabatnya tentang akhir pekan bersama pria fiktif harus dibayar mahal. Obrolan di toilet sekolah tersebut langsung menyebar dan rumor yang beredar bahwa Olive telah kehilangan keperawanannya. In their small town, apparently the issue is still quite appaling, khususnya bagi Marianne (Amanda Bynes) gadis religius yang fanatik dan langsung menghakimi Olive atas ‘tindakan’nya yang dinilai asusila.

Marianne: There’s a higher power that will judge you for your indecency.
Olive Penderghast: Tom Cruise?

Secara kebetulan, kelas bahasa Inggris sedang membahas novel The Scarlet Letter, dimana situasinya mirip dengan apa yang Olive alami sekarang. Olive yang cenderung cuek tapi mulai kesal karena orang-orang tidak ada yang mempercayainya, justru semakin menunjukkan sikap pemberontaknya dengan memakai baju seksi dan menempelkan kain inisial ‘A’ (untuk Adultery) berwarna merah di dadanya, sebagaimana simbol yang dikisahkan pada novel tersebut.

Olive Penderghast: A is for Awesome.

Belum lagi usai rumor tersebut, Brandon (Dan Byrd), teman Olive yang sebenarnya gay datang meminta tolong. Muak di-bullied tiap hari, Brandon meminta Olive untuk pura-pura have sex with him di pesta salah seorang murid populer. Olive yang semula menolak, namun karena sifat dasarnya yang suka menolong akhirnya mengiyakan. Rencananya sendiri sukses besar, namun hanya menambah bola gunjingan yang sejak awal digulirkan menjadi semakin tidak terkontrol.  ‘Pertolongan’ Olive pada Brandon terdengar oleh pria pria kurang populer yang berharap Olive juga dapat menaikkan reputasi mereka. Kepalang tanggung, Olive akhirnya memutuskan untuk meneruskan layanan ‘kebohongan’ ini, ditukar dengan uang atau kupon hadiah.

Namun apakah Olive akan tahan dengan stigma wanita murahan yang diberikan orang kepadanya? Bagaimana ia mengembalikan reputasinya seperti sedia kala? Apalagi Marianne menyusun plot untuk mengeluarkannya dari sekolah.

Film ini menunjukkan betapa massal akibat dari sebuah rumor dan bagaimana orang begitu cepat membuat judgementnya sendiri. Jika dulu ada film Gossip (2000) yang juga mengangkat tema rumor namun lebih kepada thriller, maka ‘Easy A’ mengemasnya dalam formula yang lebih ringan. Apa yang membuat ‘Easy A’ beda dengan kisah lain, yakni karakteristik sang tokoh utama Olive yang dibuat sangat menarik –cuek, provokatif namun di balik itu sesungguhnya suka menolong -walaupun itu berarti dia harus terjerumus masalah karenanya. Yeah, she’s a kick-ass antihero with groundbreaking attitude. Amanda Bynes juga sukses menjadi gadis yang amat menyebalkan, setelah sebelumnya selalu mendapat peran protagonis. Yang menarik juga adalah keluarga Olive, yang digambarkan patchwork family –sepasang orang tua angkat yang diperankan Stanley Tucci dan Patricia Clarkson dengan Chip, sang adik berkulit hitam. Bagaimana komunikasi yang unik dan hangat antara mereka is very much genuine and heartwarming ;). Jangan lewatkan juga penampilan apik dari Thomas Haden Church dan Lisa Kudrow yang menjadi guru di sekolah Olive. Yang disayangkan justru karakter love interest Olive yakni Todd yang diperankan oleh Penn Badgley (bagi penggemar seri Gossip Girl pasti tidak asing dengan si ganteng pemeran Dan Humphrey ini), karena terkesan seolah tempelan saja.

Tapi tentu bintangnya adalah the awesome Emma Stone.  Dengan paras bagai gabungan Mila Kunis dan Lindsay Lohan, gadis 22 tahun ini sebelumnya tampil apik dalam Superbad dan Zombieland, but Easy A is her first big break, methinks. With that sexy deep voice and attitude, i hope she’ll get major great films lined up after this. Of course right now she’s already cast as Gwen Stacy on the Spiderman reboot. 😀

‘Easy A’ is fun, lovable, witty and charming. A is for Awesome 😀

8.5/10

Olive Penderghast: Let the record show that I, Olive Penderghast, being of sound mind and below average breast-size, swear to tell the truth, the whole truth, and nothing but the truth… starting now.

An Education – review

Bersetting di Inggris era tahun 1960, ‘An Education’ bercerita mengenai Jenny Moller (Carey Mulligan), gadis cerdas berusia 16 tahun yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk Universitas Oxford. Cita-cita ini tidak lepas dari obsesi orangtuanya -khususnya ayahnya (Alfred Molina) yg cukup strict, dengan harapan Jenny akan menjadi wanita berpendidikan dan bertemu pria yg juga berpendidikan dan kaya untuk menjadi suaminya kelak. Seperti umumnya remaja lainnya, Jenny sesungguhnya lebih senang bermain cello, mendengarkan French music, tertarik akan seni dan budaya, pergi ke konser musik. Namun ia harus mengubur semua itu karena rutinitas sekolah dan belajar.

Pada suatu hari di tengah hujan, ia berkenalan dengan David (Peter Sarsgaard) yang menawarkannya tumpangan pulang. Di luar dugaan, walau pria tersebut usianya dua kali lebih tua di atas Jenny, namun tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk cepat akrab, apalagi wawasan David mengenai seni membuat Jenny terkesan. Hingga keesokan harinya David mengajaknya berkencan. Jenny sempat ragu karena tahu akan reaksi orangtuanya, namun ternyata bahkan David mampu ‘menyihir’ orang tua Jenny dengan kesimpatikannya  dan kepintarannya bercerita.

Maka dimulailah kehidupan  yg selalu diidamkan Jenny. Mereka mulai berkencan mengunjungi pertunjukan musik, lelang seni, makan di restoran chic, bersama-sama sahabat sekaligus rekan bisnis David, pasangan Danny dan Helen. Bahkan dengan sedikit manipulasi, David berhasil mengantongi izin membawa Jenny road trip ke Oxford, bahkan ke Paris. Terbuai dengan hal ini, Jenny mulai berpikir untuk berhenti sekolah dan melupakan Oxford, apalagi David melamarnya saat di Paris. Orangtuanya yg semula menjunjung tinggi pendidikan pun sudah melunak, karena berpikir David adalah pria mapan yg dapat memberi puteri mereka kebahagiaan tanpa harus susah payah menembus Oxford.

Satu-satunya orang yg keberatan akan keputusan Jenny tersebut adalah guru sekolahnya, Ms. Stubbs.

Apakah keputusan Jenny tepat? Kenapa David selalu terkesan misterius jika ditanya mengenai pekerjaannya? Siapkah Jenny menikah di usia muda dan melupakan masa depannya untuk mengeyam pendidikan di bangku Oxford?

Film ini meraih banyak nominasi dan penghargaan di ajang-ajang bergengsi seperti Oscar, BAFTA, British Independent Award, Critics Choice Award, dll. Carey Mulligan menuai banyak pujian dan memperoleh predikat aktris terbaik di berbagai perhelatan atas akting naturalnya disini. Selain itu, bagian kostum dan make up juga patut diacungi jempol karena sukses menerjemahkan the swinging sixties; Carey seakan menjelma menjadi Audrey Hepburn. ;).

‘An Education’ merupakan gambaran mengenai pendewasaan dan pemberontakan pola pikir seorang remaja, di tengah-tengah konflik moral dan kultural terkait isu pentingnya pendidikan pada masa itu. Di satu sisi, agak miris melihat Jenny yg berdandan atau bertingkah sok dewasa saat ia mestinya hanyalah remaja biasa. Namun semangatnya dan rasa ingin tahunya akan dunia di luar sana pun tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Education yg tersirat disini juga bisa diartikan sebagai lesson, pembelajaran yg diperoleh melalui kehidupan nyata, hal-hal yg tentu tidak mereka ajarkan di sekolah. Pesan moral film ini antara lain ada kalanya kita tidak bisa memilah secara gamblang mengenai ‘pendidikan’ mana yg lebih kita butuhkan karena it’s not always about how we get there, but what we’re going to do with it after we’ve had it 🙂. Sebuah dialog antara Jenny dan kepala sekolahnya yg mempertanyakan keputusan Jenny untuk berhenti sekolah bisa menjadi bahan renungan:

Headmistress: Nobody does anything worth doing without a degree.
Jenny
: Nobody does anything worth doing WITH a degree. No woman anyway.
Headmistress
: So what I do isn’t worth doing? Or what Miss Stubbs does, or Mrs. Wilson, or any of us here? Because none of us would be here without a degree. You do realize that, don’t you? And yes, of course studying is hard and boring…
Jenny
: Boring?
Headmistress
: I’m sorry?
Jenny
: Studying is hard and boring. Teaching is hard and boring. So, what you’re telling me is to be bored, and then bored, and finally bored again, but this time for the rest of my life? This whole stupid country is bored! There’s no life in it, or color, or fun! It’s probably just as well the Russians are going to drop a nuclear bomb on us any day now. So my choice is to do something hard and boring, or to marry my… Jew, and go to Paris and Rome and listen to jazz, and read, and eat good food in nice restaurants, and have fun! It’s not enough to educate us anymore Ms. Walters. You’ve got to tell us why you’re doing it.

Miss Stubbs: You seem to be old and wise.
Jenny
: I feel old. But not very wise.

Jenny: If you never do anything, you never become anyone.

8.5/10

…blast from the past

Kemarin waktu buka-buka laci di kamar, nemu organizer jaman SMA. It was quite a trend back then…almost every girl had it x). Dan tiba-tiba gw kangen…

apparently i made friends with great poets 🙂

Some of ’em are actually good. Never judge a book by its cover indeed. Those slackers-cheeky teenage boys…gave em a pen,  and look what we’ve had here.

Look at this schedule! ….Lord, i didn’t even remember how i’ve managed to survived  those horrible line-ups! I have to say Thursday was the worst. Four hours of math! My brain cells are probably smoked xD

While this is the drawing i made, just for the sake of the memory 🙂 1999/2000. One of the greatest moments of my life!