Arsip Tag: satire

Confessions (Kohuhaku)

Familiar dengan film Kill Bill, I Spit On Your Grave, Hard Candy,  Oldboy, The Skin I Live In, dan I Saw The Devil? Tema ‘vengeance‘ alias balas dendam yang jadi benang merah film-film yang barusan disebutkan memang selalu seru untuk diangkat ke layar lebar. Jika selama ini balas dendam digambarkan identik dengan aksi vigilante yang disertai bumbu bloody-gore, maka film Confessions (2010) dengan cerdas menyajikan  ‘balas dendam’ dari permainan alur  serta multiple vantage point. Film yang juga sempat masuk shortlist Academy Awards 2011 untuk Best Foreign Language Film ini bisa dibilang lebih kental dengan aroma psychological thriller yang mencekam secara emosi.

“Revenge is a dish best served cold

Begitulah peribahasa yang  sering dilontarkan terkait upaya balas dendam. Nampaknya prinsip inilah yang dipegang Yuko Moriguchi (Takako Matsu), seorang guru dan ibu tunggal yang kehilangan anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun, Manami, dalam sebuah kejadian tragis di sekolah tempat ia bekerja. Di hari terakhirnya mengajar, dengan kalemnya ia ‘mengaku’ pada anak-anak didiknya bahwa ia tahu penyebab kematian Manami bukanlah kecelakaan, namun putrinya adalah korban dari konspirasi pembunuhan yang keji. Pelakunya, tak lain adalah dua orang siswa yang ada di kelas tempat ia mengajar, yang ia samarkan dengan nama ‘Student A’ dan ‘Student B’.  Karena kejahatan oleh anak di bawah umur tidak bisa dijerat hukum menurut undang-undang Jepang (biasanya hanya berakhir dengan hukuman rehabilitasi), Moriguchi memutuskan untuk  menggunakan metodenya sendiri untuk memberi pelajaran kepada para pembunuh putrinya tersebut.

The calm before the storm

Lanjutkan membaca Confessions (Kohuhaku)

Red State – review

Belum puas menggedor isu agama lewat film Dogma (1999), kini giliran kaum fundamentalis yang diangkat Kevin Smith sebagai sentral cerita film Red State. Aktor/penulis/sutradara yang sebelumnya dikenal lewat karya komedi seperti Jay and Silent Bob, seri Clerks dan Zack & Miri Make A Porno tanpa ragu memberi label horor pada film yang dipasarkannya secara gerilya ini. Teaser-posternya yang cukup sederhana dengan  sosok putih berdiri di depan salib mungkin membuat banyak orang berpikir film ini bercerita tentang aktivitas exorcism. Namun horor yang dimaksud Kevin ternyata memang jauh lebih nyata, dan tentunya lebih mencekam.

Bayangkan saja, apa yang lebih menyeramkan dibanding sekelompok kaum ekstrimis fundamentalis yang memiliki gudang senjata, menculik dan membunuh orang yang bersebrangan paham dengan mereka? Exactly.

Living in this country with those moronic extrimist such as FPI, i know i can definitely relate. Wouldn’t you?

Kevin Smith jelas terinspirasi dari Westboro Baptist Church, sekte gereja ekstrim yang bahkan di Amerika sendiri sudah dikategorikan ke dalam hate group karena aksi protes mereka yang cukup brutal. Stasiun Televisi Inggris BBC pun pernah membuat seri dokumenter tentang kehidupan salah satu keluarga dari sekte ini yang bertajuk ‘The Most Hated Family in America’ (1997)

Dalam Red State, sekte ekstrimis tersebut bernama Five Point Church yang dikepalai oleh pendeta Abin Cooper (Michael Parks). Kota dimana mereka tinggal sedang diramaikan oleh berita orang hilang serta pembunuhan terhadap remaja gay. Kasus ini menjadi pembicaraan seisi kota, termasuk jadi bahan diskusi kelas di sebuah sekolah. Diperkenalkanlah Travis, Jared dan Billy Ray ke dalam cerita. Tiga orang pemuda ini merupakan penggambaran stereotype remaja tanggung; badung,serba ingin tahu and horny all the time. Tidak heran saat Jared mengaku mendapat undangan untuk melakukan group sex dengan seorang wanita yang ditemuinya lewat internet, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa sadar, mereka jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh aktivis Five Point Church.

Lanjutkan membaca Red State – review

The Beaver – review

Yes, i know. It’s been a while.  Been very busy with my new job. So many movies i haven’t got a chance to share here. 😦  But then i saw The Beaver (2011).  I thought it’s gonna be all-depressing-dark-suicidal- American Beauty-ish. Guess what? IT IS! In a good way, of course 😀 (BTW American Beauty is one of my favorite movie)

If you think this movie is about a man with a nerve-breakdown and  decided to be a ventriloquist,….keep reading!

First thing first, kudos to Mel Gibson for playing such twisted multiple personalities!

Lanjutkan membaca The Beaver – review

Pretty Persuasion – review

 

The devil wears a grey skirt and her name is Kimberly Joyce

If you think Kathryn Mertuil from Cruel Intentions or Regina George from Mean Girls is the ultimate teen-b*tch queen, then you haven’t meet Kimberly Joyce. Film ini sesungguhnya bukan film baru, yakni produksi 2005.  Jika suka film tentang dysfunctional family/teens dengan bumbu satir atau ‘dark‘ seperti ‘Igby Goes Down’ (2002)’, atau  ‘The Royal Tenenbaums’ (2001), maka ‘Pretty Persuasion’ ini wajib ditonton.

Kimberly Joyce (diperankan dengan memikat oleh si seksi Evan Rachel Wood) gadis yang memiliki mimpi sama seperti remaja sebayanya, to be loved and famous. Namun walaupun berwajah bagai malaikat, Kimberly tidak bisa dikatakan sebagai gadis naif sepenuhnya. Tumbuh dengan lingkungan ayah yang cenderung rasis dan meledak-ledak, ibu tiri yang usianya tidak terpaut jauh darinya serta komunikasi antar keluarga yang buruk, membuat Kimberly menjadi pribadi yang dingin serta manipulatif.

Cerita bergulir saat Randa (Adi Schnall), gadis muslim berjilbab menjadi murid baru di SMU Beverly Hills. Merasa sifat introvert Randa bisa dimanfaatkan, tidak butuh  waktu lama untuk Kimberly untuk menjadikan Randa ‘bergabung’ dengan ia dan sahabatnya, Brittanny (Elisabeth Harnois).  Singkat cerita, mulailah ketiga gadis itu terlibat dalam suatu plot penuh intrik, balas dendam dan sensasi memanfaatkan skandal tuntutan pelecehan seksual kepada guru bahasa inggris mereka, Mr. Anderson (Ron Livingston). Terdengar sederhana? Not really, i did it on purpose :D. Karena sulit untuk memaparkan keseluruhan cerita dalam film ini tanpa memberitahu twist-nya, and you wouldn’t want that, now would you?

Kimberly Joyce: It’s like the world is this orchestra and I’m the conductor.


 

Kimberly Joyce: Randa, what’s the greatest thing about this country?
Randa: Sylvester Stallone?
Kimberly Joyce: No. It’s that anybody can sue anybody at anytime over anything.
Randa: You wanna sue Mr. Anderson?
Kimberly Joyce: I suppose that it might jump-start me and Brittany’s acting careers.


Yang paling menarik dari film ini memang karakterisasi masing masing tokoh. Selain Evan Rachel Wood yang sangat sukses menghidupkan sosok ‘sadis’ Kimberly, juga ada Jane Krakowski — familiar bagi publik sini lewat perannya sebagai si genit Elaine dalam seri Ally McBeal– sebagai  jurnalis lesbian Emily Kline yang awalnya hendak menjadikan insiden di Beverly Hills ini sebagai batu loncatan karirnya. Namun apa daya justru ia yang dimanfaatkan oleh Kimberly. Juga ada James Woods — si Sebastian Shark dalam seri Shark–  salah seorang yang juga aktingnya memukau disini sebagai ayah Kimberly yang bigot. Hampir semua karakter adalah karakter yang we love to hate, dengan sisi gelap masing-masing yang dieksploitasi; kecuali mungkin Randa yang sengaja diposisikan sebagai objek pengamat (atau penderita?). Agak sedikit aneh sekaligus lucu menyaksikan karakter Muslim dibenturkan dengan kultur yang sama sekali berlawanan, perasaan serupa saat menyaksikan Persepolis dan seri Skins.

Randa: [watching a porno] Why is that woman – why is she doing those things with another woman? Why must they show this?

Kimberly Joyce: Because men like to watch it.
Randa: But it is a sin!
Kimberly Joyce: [laughs] Randa! Randa, you’re gonna find out that a lot of things men like are a sin.

 

Penuh dengan kata umpatan eksplisit dan provokatif, unsur seks/SARA, serta dibalut kemasan dark comedy satir, jelas film ini bukanlah film yang bisa ditonton bersama di ruang keluarga 😀

Bisa dibilang Pretty Persuasion adalah gabungan Cruel Intentions dan Wild Things,…with steroids.

Malicious and brutally hilarious! 8/10

 

 

 

 

 

 


The Kids Are Alright – review

Ok dalam rangka kesuksesan ‘The Kids Are Alright’ menyabet Golden Globe  untuk kategori Best Comedy or Musical just now, i might as well write the review about this movie x). Berkisah tentang seorang anak yang penasaran akan ayah biologisnya karena hidup dalam keluarga dimana orangtuanya adalah pasangan lesbian Nic (Annette Bening, top notch performance) dan Jules (Julianne Moore). Bermodalkan donor sperma yang sama, pasangan tersebut melahirkan dua orang anak; yakni  Joni (Mia Wasikowska) dan Laser (Josh Hutcherson). Pada usianya yang ke 18,  Joni atas permintaan Laser diam diam menghubungi bank sperma untuk memperoleh identitas ayah biologis mereka. Maka sampailah mereka kepada Paul (Mark Ruffallo), seorang supplier sayur dan buah serta pemilik restoran.

Paul, tidak kalah canggungnya saat akhirnya berjumpa dengan Joni dan Laser. Nic dan Jules juga terkejut bukan kepalang saat akhirnya mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya. Nic, yang paling dominan di keluarga mereka, merasa sedikit kecewa dan mulai merasa tersaingi kehadiran Paul sebagai figur ‘ayah’. Apalagi Paul, dengan sosoknya yang berkendara motor, slenge’an dan cenderung free-spirited nampaknya mendapat tempat khusus di hati anak=anaknya. Sebelum keterlibatan Paul dalam keluarga ini, rumah tangga Nic dan Jules sebenarnya sedang dirundung sedikit masalah. Setidaknya bagi Jules, yang merasa sikap control freak Nic berpengaruh banyak pada rasa percaya dirinya yang rendah dan upayanya merintis karirnya sendiri sebagai landscape designer. Akhirnya Paul menyewa Jules untuk merapihkan halaman di salah satu properti miliknya. Namun kemudian sekelumit krisis paruh baya ini bergulir di luar kontrol Nic, Jules dan Paul hingga menimbulkan berbagai drama dan konflik yang cukup krusial .

Jules: …marriage is hard… Just two people slogging through the shit, year after year, getting older, changing. It’s a fucking marathon, okay? So, sometimes, you know, you’re together for so long, that you just… You stop seeing the other person. You just see weird projections of your own junk. Instead of talking to each other, you go off the rails and act grubby and make stupid choices… You know if I read more Russian novels, then…

Sebenarnya agak janggal jika ‘The Kids Are Alright’ dikategorikan ke dalam Musical/Comedy. Obviously it’s not a musical, and definitely more drama than comedy. Bahkan cenderung satir. Namun memang Annette Bening patut diacungi jempol karena berhasil membawakan sosok Nic yang tegas, dominan, bahkan akan membuat penonton merasa sebal dan bersimpati pada Jules (well i did :D) and of course she won the Golden Globes for Best Actress in Comedy/Drama 😀 yay!. Sebelumnya agak sedikit tertipu, karena pada dugaan awal cerita akan lebih berfokus pada Joni dan Laser (Because they’re on the title, d’oh) tapi justru lebih berpusat pada Jules-Nic dan bagaimana kehadiran Paul mengubah bukan saja konsep keluarga mereka secara keseluruhan namun juga pada hubungan Jules dan Nic itu sendiri.  And i have to say, with those puppy eyes and one fine ass, it took no surprise if he could get any lesbian back to straight.  Wait, did i just give you guys a hint? ……N’ah, you have to see the whole story 😀

Well overall, the kids, the moms and the biological father are doin alright!

7.5/10

Lars & the Real Girl – review

Lars Lindstorm (Ryan Gosling) adalah pemuda pemalu dengan segala kekikukannya dalam bersosialisasi dengan orang lain. Hidup di tengah-tengah kehangatan kota kecil di daerah Selatan, Karin (Emily Mortimer) sang kakak ipar mulai mengkhawatirkan kecenderungan anti sosial Lars. Ia dan Gus, kakak Lars, tinggal tak jauh dari rumah Lars, dan Karin selalu berusaha agar Lars mau pindah ke tempat mereka walaupun berkali-kali juga ditolak dengan halus. Di tempat kerjanya sendiri, Lars sebetulnya menarik simpati Margo (Kelli Garner), namun lagi-lagi Lars selalu menutup diri pada rekan kerjanya tersebut. Di balik itu semua, sebagai pria normal sebetulnya Lars juga merasa kesepian, hanya saja ia masih terjebak dalam kompleksitas pikirannya sendiri dalam menghadapi sebuah konsep berhubungan dengan orang lain.

Tiba tiba saja suatu hari Lars memutuskan untuk memesan sebuah –atau seorang ‘wanita’  dari internet untuk menjadi pendampingnya. Uniknya, ‘wanita’ ini berupa sebuah sex doll yang diberi nama Bianca. Boneka cantik ini diperlakukan Lars layaknya manusia sungguhan; diajak mengobrol, didandani, diajak makan malam bersama Karin dan Gus, dibawa ke pesta dan lain lain. Bukan main terkejutnya Karin dan Gus saat berjumpa dengan Bianca untuk pertama kali. Dr. Dagmar (Patricia Clarkson), psikiater yang diam-diam dihubungi Karin dan Gus terkait kehebohan ini, di luar dugaan menyarankan agar mereka mengikuti saja ‘permainan’ Lars. Ia berpendapat ini bisa jadi pemacu yang bagus untuk Lars untuk belajar bersosialisasi, dan siapa tahu nanti saat dia sudah ‘tidak butuh’ lagi Bianca, adalah saatnya Lars siap terjun ke masyarakat sesungguhnya.

Maka mulailah mereka secara pelan-pelan menginformasikan hal ini kepada tetangga, kerabat dan teman-teman di kotanya agar Lars tidak dikucilkan atau diejek. Secara mengejutkan, walaupun canggung pada awalnya, warga kota mulai ‘menerima’ kehadiran Bianca, bahkan mengikutsertakan Bianca pada kegiatan-kegiatan sosial di kota tersebut. Lama kelamaan Lars malah jengah dan kesal ketika Bianca mulai sering memiliki ‘jadwal’nya sendiri.

Lars Lindstrom: You don’t care.
Karin: We don’t care? We do care!
Lars Lindstrom: No you don’t.
Karin: That is just not true! God! Every person in this town bends over backward to make Bianca feel at home. Why do you think she has so many places to go and so much to do? Huh? Huh? Because of you! Because – all these people – love you! We push her wheelchair. We drive her to work. We drive her home. We wash her. We dress her. We get her up, and put her to bed. We carry her. And she is not petite, Lars. Bianca is a big, big girl! None of this is easy – for any of us – but we do it… Oh! We do it for you! So don’t you dare tell me how we don’t care.
[
walks into house and slams door]

Film ini dinominasikan dalam ajang Oscar 2008 untuk kategori Best Actor, Best Writer & Best Screenplay. Ryan Gosling kembali mengukuhkan posisinya sebagai aktor muda berbakat di antara jebolan-jebolan Mickey Mouse Club seangkatannya dahulu. Inti cerita mengenai krisis kepercayaan diri dan identitas ini sebetulnya unik, hanya saja alurnya kelewat lambat dan memang backsound yang digunakan amatlah minim sehingga jika penonton tidak betul betul fokus pada alur cerita, niscaya akan mengantuk :D.

Namun di zaman serba modern ini, sungguh  menyentuh menyaksikan empati dan dukungan warga kota terhadap tabiat ‘aneh’ Lars, dimana pada realitanya common society most likely will consider him as a delusional-lunatic :). Namun mungkin itulah pesan moral dari film ini, yakni pencarian tanpa henti akan arti kasih sayang yang dapat merubah seorang individu bahkan lingkungannya, walaupun hanya melalui sebuah boneka plastik bernama Bianca. She might not be real, but the love she embraces among others, is 😀

Untuk ide cerita, 8/10 tapi untuk alurnya i’ll give 6.5/10

The Joneses – review

Siapa yg tidak iri pada keluarga Jones? Dikisahkan baru saja pindah ke perumahan elit di daerah suburban, Keluarga Jones adalah potret keluarga sempurna. Steve (David Duchovny) sang kepala keluarga yg tampan dan kharismatik, pebisnis sukses dan beristrikan si jelita Kate (Demi Moore). Dua anak mereka Mick dan Jenn juga tidak kalah populernya di antara temen-teman mereka. Hidup di mansion mewah, mengendarai mobil sport mutakhir, dengan gaya hidup kelas atas bergelimangan materi: kosmetik, baju desainer dan segala peralatan rumah tangga dan elektronik terbaru.

They’re basically living the American Dream. Or in this case, selling it. Yep, di balik gemerlap itu semua, keluarga Jones bukanlah keluarga sungguhan. Mereka adalah orang-orang terpilih tergabung dalam sebuah ‘unit’ yg dibayar untuk menjalankan apa yg disebut dengan stealth marketing. Mengandalkan sifat konsumerisme di Amerika, singkatnya teknik marketing ‘baru’ ini berjalan secara kasat mata melalui dampak psikologis lewat pendekatan hubungan yg paling dasar: bertetangga.

‘If they like you, they’ll want what you have’.

Maka mulailah ‘keluarga Jones’ memasarkan produk-produk sesuai target pasarnya masing-masing. Steve memasarkan alat-alat golf, perangkat audio video, mobil. Kate memamerkan busana dan tas rancangan desainer, kosmetik, alat masak, makanan beku, dll. Mick dan Jenn membuat anak-anak sebayanya berbondong-bondong memborong perangkat video games, apparel, skateboard, dll. Semua itu dilakukan melalui aktivitas sesederhana obrolan tetangga :D. Dalam kurun waktu 30 hari akan ada KC (Lauren Hutton) seorang ‘supervisor’ yg akan mereview pencapaian sales mereka bulan itu.

Steve yg dulunya sales mobil sebetulnya masih ‘baru’ dalam pekerjaan ini. Konflik dalam film ini baru mencuat saat Steve merasa mulai kurang nyaman dan lelah dengan keluarga ‘palsu’nya yg selalu berorientasi mengumpulkan profit, khususnya Kate yg memang lebih senior dan sangat ambisius mencapai status ‘icon’, yakni strata tertinggi dalam pangkat seorang salesperson. Jenn, yg aslinya sedikit ‘nakal’ pun nekat berpacaran diam-diam dengan salah seorang tetangga mereka yg telah beristri.  Mick juga memiliki rahasianya sendiri yg baru terkuak di tengah alur.  Ketika sifat konsumtif yg dipicu terus-terusan ini secara tidak langsung mendatangkan tragedi bagi salah seorang tetangga mereka -pasangan Larry dan Summer Symonds,  Steve dipaksa mempertanyakan kembali peran sertanya atas pembentukan citra kehidupan ‘sempurna’ melalui profesi rahasianya ini.

Ide yg diangkat film The Joneses fresh dan orisinil, serta menyindir sifat konsumtif pada masyarakat dan corporate ladder climber. Sebuah pencitraan keluarga ‘sempurna’ masa kini yg sedangkal pemenuhan materi semata. They’re American Beauty meets The Stepford Wives. Less dark but still entertainingly satire, yang sayangnya ditutup dengan ending sedikit klise (walau tanpa mengurangi muatan pesan moralnya). Bagi para marketer juga film ini memiliki daya tarik yg sama seperti halnya Thank You For Smoking. Stealth marketing di sekitar kita bahkan sebetulnya sudah terjadi disadari ataupun tidak –saling pamer antar tetangga, anak-anak mengkonsumsi apapun yg idola mereka konsumsi– film ini hanya dengan cerdas mewujudkannya ke dalam suatu konsep sebuah profesi imajiner.

The classic tale of how consumerism ends to self destruct. They’ll teach you how. 😀

7.5/10