Arsip Tag: romance

Beautiful Creatures – review

Digembar-gemborkan sebagai ‘pengganti Twi-lame’, saya awalnya agak pesimis waktu akan menonton film ini 8)). Apalagi sama-sama diangkat dari novel teen-lit, or as they try to call it: young adult genre.

Saya sebetulnya terkesan melihat trailernya yang justru mengingatkan saya pada film Stardust, apalagi dengan kehadiran bintang senior Jeremy Irons dan Emma Thompson. Beautiful Creatures sendiri menjual kisah fantasy-romance, dibuka dengan narasi dari sudut pandang Ethan Wate, seorang pemuda dari kota Gatlin (Alden Ehrenreich) yang seringkali bermimpi tentang gadis misterius. Di tengah hubungan on-off nya dengan Emily Asher (Zoey Deutch), datanglah siswi baru bernama Lena Duchannes (Alice Englert, sepintas mirip Emily Blunt muda) dari keluarga Ravenwood. Warga kota Gatlin digambarkan sangat konservatif, dan keluarga Ravenwood yang eksentrik dicap sebagai keturunan penyihir. Kehadiran Lena di sekolah bahkan ditentang habis-habisan oleh Mrs. Lincoln (Emma Thompson), tokoh masyarakat setempat. Namun itu tidak membuat rasa penasaran Ethan terhadap Lena pupus. Apakah Lena adalah gadis misterius di dalam mimpi Ethan?

Sepintas mungkin terdengar seperti plot teen-romance cheesy yang standar, tapi film ini SURPRISINGLY GOOD! 😀 Yang membuat Beautiful Creatures ini berbeda yaitu pengembangan karakter dan dialog-dialognya yang justru anti-klise dan sarat humor. Adegan perkenalan Ethan dan Lena pada 10 menit pertama film ini membuat saya terpingkal. Juga pada saat Ethan bertemu dengan paman Lena, Macon Ravenwood yang diperankan Jeremy Irons. 8)))

Lanjutkan membaca Beautiful Creatures – review

Iklan

What They Don’t Talk When They Talk About Love – review

Setelah berhasil menarik perhatian saya lewat film ‘Fiksi’ (2008), kali ini saya kembali dibuat penasaran untuk menyaksikan karya keduanya Mouly Surya, ‘What They Don’t Talk When They Talk About Love’ (atau disingkat ‘Don’t Talk Love’) pada acara ARTE festival akhir pekan lalu. Jika di film pertama Mouly mengeksplorasi genre suspense-thriller, maka pada film yang juga debut di Festival Film Sundance 2013 ini mengangkat tema cinta dengan pendekatan yang begitu unik dan menyentuh.

Cinta di masa remaja mungkin tema yang terdengar biasa saja. Namun saat cinta saat dibahasakan oleh para remaja penyandang tuna netra dan tuna rungu, apa yang tak terucap justru memiliki makna jauh lebih besar dari apa yang biasa terucap. Kisah ‘Don’t Talk Love’ ini mengambil sudut pandang dari keseharian tiga tokoh utama; Diana (Karina Salim), Fitri (Ayushita) dan Edo (Nicholas Saputra) di sebuah asrama/sekolah luar biasa di Jakarta dan bagaimana masing-masing bergelut dengan perasaan cinta, dan perasaan ingin dicintai. Diana yang sedang melancarkan berbagai upaya untuk menarik perhatian teman sekelas yang ditaksirnya; Fitri yang genit dan selalu dianggap lebih ‘dewasa’ dari teman-teman sebayanya, serta Edo, pemuda bisu punk-rocker yang membantu ibunya berjualan makanan di SLB dan diam-diam menaruh perhatian pada Fitri. Interaksi yang ditunjukkan antar tokoh ini sungguh menawan dan juga menggelitik. Saya sendiri suka sekali pada kisah Fitri dan Edo, yang ‘dipertemukan’ secara tidak sengaja oleh legenda hantu dokter yang ada di sekolah tersebut. Eits, hantu? Tenang saja, ini tidak mendadak jadi horor, kok. Hantu dokter di sini hanya mitos pendukung cerita 😀

They Dont Talk.2

Lanjutkan membaca What They Don’t Talk When They Talk About Love – review

Safety Not Guaranteed – review

Tahun lalu, ada beberapa film bertemakan coming of age berbalut romansa yang beredar di bursa festival dan meninggalkan banyak review positif seperti Ruby Sparks dan The Perks of Being a Wallflower. Namun untuk saya, Safety Not Guaranteed ini juaranya. Mungkin tokoh utama yang diperankan Aubrey Plaza terlalu tua ya untuk masuk kategori ‘coming of age’  :p tapi toh film yang diputar di Sundance Film Festival 2012 ini mengisahkan tentang pencarian jati diri. Ide ceritanya sendiri sebetulnya sangat sederhana namun berhasil dikemas dengan begitu mengesankan.

SNG - 1

Berawal dari sebuah iklan baris milik Kenneth Calloway (Mark Duplass) di sebuah surat kabar yang mencari teman seperjalanan untuk time-travel, seorang penulis dan dua orang mahasiswa/i magang di majalah Seattle ditugaskan untuk membuat berita investigasi terkait iklan tersebut.  Singkatnya, Darius Britt (Aubrey Plaza) si anak magang ditugaskan untuk menyelidiki Kenneth lebih jauh dengan berpura-pura menjawab iklan tersebut. Kepribadian Kenneth yang introvert dan paranoid sempat membuat banyak orang berpikir bahwa ia hanya orang gila.

SNG 2

Darius: [referring to Kenneth] What makes you think there’s something wrong with him? 
Jeff: Because he thinks he can go back in time. 
Darius: Was there something wrong with Einstein or David Bowie?

Namun setelah menghabiskan beberapa waktu bersama, Darius mulai menaruh simpati pada Kenneth. Untuk plot yang terakhir ini mudah ditebak, memang. Tapi tetap membuat penasaran, khususnya pada will they or won’t they time travel? x) Saya sendiri suka endingnya, walaupun beberapa opini di luar sana menganggap it’s an easy way out, tapi menurut saya ending yang dibuat sang penulis Derek Connolly truly defines the genre itself. Romance sci-fi played out well! 

Aubrey Plaza di sini sungguh jenaka! –in her own, straightface way. Apalagi pada adegan perkenalan pertama dengan Kenneth di supermarket 😀 Penokohan Darius sebagai ‘tokoh utama’ dan Kenneth sebagai ‘interest object’ ini cukup menyegarkan, karena biasanya pada film-film seperti ini, tokoh lelaki-lah yang jadi tokoh utama (500 Days of Summer, Ruby Sparks, etc).

SNG 3

A heartfelt quote about companionship:

Kenneth: To go it alone or to go with a partner. When you choose a partner you have to have compromises and sacrifices, but it’s a price you pay. Do i want to follow my every whim and desire as I make my way through time and space, absolutely. But at the end of the day do I need someone when I’m doubting myself and I’m insecure and my heart’s failing me? Do I need someone who, when the heat gets hot, has my back? 
Darius: So, do you? 
Kenneth: I do.

Bosan menonton film romantis yang begitu-begitu saja? film ini bisa jadi pilihan, no safety guaranteed, just total awesomeness! 8/10

The Artist – review

Yes, it’s the silent film that simply wowed every cinema audience in this digital era. Michael Hanazavicius, sang sutradara, rupanya tertantang untuk menyajikan format tontonan klasik ini menanggapi  fenomena penonton bioskop yang kini lebih suka menatap layar telepon selularnya daripada memperhatikan film yang sedang diputar. Dengan kembali ke film bisu dan meniadakan fitur audio, mau tidak mau penonton harus fokus pada layar untuk dapat memahami jalan cerita.  Ah! How true 😀

Mengambil setting tahun 1927, Hanazavicius  juga nampaknya ‘sengaja’ menerjemahkan premis tersebut  ke dalam kegundahan seorang aktor film bisu yang tergeser kemajuan zaman. George Valentine (Jean Dujardin) adalah seorang aktor tampan nan perlente yang cukup ternama di zamannya. Semua film (bisu, tentu saja) selalu mencetak hit dan ia juga digilai banyak penggemar wanita. Di sisi lain, ada Peppy Miller (Berenice Bejo), gadis muda berbakat yang sedang menapaki mimpinya untuk menjadi artis terkenal. Kesempatan kemudian mempertemukan mereka berdua, dan tidak terelakkan ada percikan ketertarikan antara George dan Peppy, walaupun George dikisahkan sudah beristri. Seiring kisah ini bergulir, jalan hidup mereka berdua akan berubah seketika, di tengah transisi dunia perfilman menuju film bersuara.

‘Dialogue is very efficient, but my belief is, to say the important things, you don’t use dialogue’  

(Michael Hanazavicus)

Lanjutkan membaca The Artist – review

Midnight in Paris – review

Siapapun sudah familiar dengan kisah Cinderella. Dentang jam 12 malam adalah waktu keberuntungannya dimana ia bisa merasakan mimpinya menjadi kenyataan. Woody Allen sepertinya ingin mewujudkan keajaiban serupa bagi tokoh penulis ciptaannya yang diperankan Owen Wilson. Dan kota Paris mendapat kehormatan untuk meminjamkan percikan magisnya sebagai kota sejuta mimpi.

Gil is an aspiring writer. Setidaknya itulah cita-citanya, sementara untuk mencukupi hidup ia ‘terpaksa’ bekerja sebagai penulis naskah film Hollywood. Menghabiskan liburan di Paris bersama tunangannya Inez (Rachel McAdams), Gil begitu terkesan dengan romantika kota ini dan sempat berpikir untuk melepaskan semua kehidupan glamornya di Hollywood untuk menetap di Paris. Namun tentu saja sang tunangan, yang lebih memilih hidup berkecukupan, menentang ide tersebut.

Gil: I’m having trouble because I’m a Hollywood hack who never gave real literature a shot.

Lanjutkan membaca Midnight in Paris – review

Like Crazy – review

Anna: I thought I understood it. But I didn’t. I knew the smudgeness of it. The eagerness of it. The Idea of it. Of you and me.

Tidak seperti film bernarasi seperti pada umumnya, Like Crazy menyampaikan kepingan-kepingan dokumentasi perjalanan cinta Jacob (Anton Yelchin) dan Anna (Felicity Jones) dengan apa adanya. Dengan tema besar mengenai long distance relationship (LDR), beberapa menit awal Like Crazy memang akan terasa lambat dan membosankan, karena memang tidak dikemas se-hip Going The Distance ataupun dihiasi banyak lagu dari band indie terkini seperti 500 Days of Summer. Walau begitu, Droke Doremus sang sutradara cukup cermat menuturkan dan memvisualisasikan beberapa momen tertentu dengan indahnya mulai dari awal perjumpaan mereka, kencan pertama, perpisahan pertama, pertengkaran pertama, dan seterusnya.

Summer fling, mungkin itu yang ada di benak awal Jacob saat berkenalan dengan Anna, mahasiswi pertukaran pelajar dari Inggris. Singkat cerita hubungan mereka berkembang dengan sendirinya, mengesampingkan bahwa Anna pada akhirnya toh akan pulang ke Inggris. Bahkan saking head-over-heels falling in love, pada suatu ketika Anna menyalahi penggunaan visa pelajarnya. Ia memutuskan untuk menghabiskan liburan bersama Jacob di mana seharusnya ia pulang ke Inggris. Satu kecerobohan kecil ini ternyata membawa dampak berkepanjangan pada hubungan mereka ke depannya.

Lanjutkan membaca Like Crazy – review

Drive – review

The underdog movie of the year. Untuk awalnya, jangan berharap film ini penuh adegan aksi kebut-kebutan ala Fast and Furious hanya karena Ryan Gosling diplot sebagai stunt driver. Jangan pula menyangka Gosling telah menjadi bintang laga komersil. Drive is simply a love story, a badass love story in cold blood. And packed in a very stylish 80’s ambience and tunes.

Stunt driver by day, wheelman by night, begitulah keseharian pria misterius yang diperankan Ryan Gosling ini. Dingin dan tidak pernah bicara banyak, hingga ia berkenalan dengan Irene (Carey Mulligan) seorang ibu muda yang hidup di seberang apartemennya. Walau tahu Irene memiliki suami yang sedang mendekam di penjara, namun jelas sekali ada ketertarikan di antara keduanya. Nah, disinilah Nicholas Winding Ren sang sutradara terampil menyuguhan adegan-adegan ‘manis’ antara Gosling dan Mulligan berhiaskan lantunan elektro khas 80’an, sebagaimana sudah sangat terasa sejak credit title pembuka.

As for the cold blood thingy, it’s entirely true as well. Bermula saat sang tokoh anti-hero kita mencoba membantu suami Irene yang baru saja keluar dari penjara dan diperas oleh mafia. Mereka berdua dijebak sehingga kini ia mesti menelusuri dan menuntut balas pada sang gembong mafia demi melindungi Irene dan Benicio, putra Irene. And when you say Mob, it means extreme violence. The elevator scene below, is my favorite. 😀

Lanjutkan membaca Drive – review