Arsip Tag: review

Whip It – review

Setelah berkecimpung di dunia akting sejak bocah, rupanya Drew Barrymore tidak tahan untuk juga mencicipi bangku sutradara. Sebelumnya ia memang telah mendirikan rumah produksi miliknya sendiri ‘Flowers Films’ dan menghasilkan film-film box office macam “Never Been Kissed’, ‘Charlie’s Angels’, ‘He’s Just Not That Into You’.

Kini Drew menunjukkan debut penyutradaraannya lewat ‘Whip It’, kisah sederhana namun manis yang mengambil latar olahraga roller-derby di Texas. Bliss Cavendar (the utmost adorable and charming Ellen Page :D) adalah remaja dengan kehidupan tipikal; Ibu yang terobsesi beauty pageant, kerja sambilan bersama sahabatnya Pash di sebuah resto kecil, dan tentu peer-pressure from the mean girls at school di kota kecil Bodeem, Texas. Hidupnya berubah saat ia membaca sebuah brosur ajang roller derby di Austin. Karena orangtuanya yang cukup konservatif, Bliss harus menyelinap pergi untuk menonton pertandingan tersebut. Ternyata olahraga full-body-contact yang digawangi gadis-gadis tangguh dan agresif tersebut membuatnya amat terkesima. Sehingga ia mengumpulkan keberanian untuk mengikuti audisi untuk tim Hurl Scouts yang dipimpin oleh Maggie Mayhem. Maka dimulailah aksi Bliss di atas ring dengan nama julukan Babe Ruthless.

Cerita selanjutnya sesungguhnya mudah ditebak, mengenai bagaimana Bliss berbohong mengenai usianya agar diizinkan mengikuti audisi, upaya-upaya mengelabui orangtuanya, kekikukan awal saat ia menjalani latihan, serta menghadapi rivalnya Iron Maven (Juliette Lewis) dari tim tak terkalahkan Holy Rollers. Dan kisah ini tentu belum lengkap tanpa adanya love interest, yakni vokalis band indie-rock, Oliver (Landon Pigg, the musician. I adore his music, but his acting, well…errr sucks. Stick with the singing, Landon! πŸ˜‰ ).

Lalu apa yang membuat film ini berkesan? Untuk saya, roller derby itu sendiri. Jangankan Bliss, sayapun takjub. The cheesiness of sexy names, the idea of shoving other gals fair and square on the rink just….encouraging! :). Setelah ditelusuri, tidak banyak yang mengangkat tema olahraga ini ke film, adapun sekitar tahun 70an yakni ‘Kansas City Bomber’, ‘The Unholy Rollers’, ‘The Fireball’, dll. (di antaranya bahkan dibintangi Racquel Welch, Marilyn Monroe, Micky Rooney). Sedangkan sisanya mayoritas berupa dokumenter. Juga yang menarik, ‘Whip It’ juga dihiasi berbagai bintang tamu seperti rapper Eve, Jimmy Fallon, dan Zoe Bell. Nama yang terakhir disebut adalah stuntwoman ternama di Hollywood, beberapa aksi stunt-doublenya dapat disaksikan di seri tv ‘Xena the Warrior Princess’, ‘Kill Bill’ volume I dan II, ‘Grindhouse’, ‘Catwoman’, dll.

well, not bad for a debut, Drew! and i heart the underwater making-out-scene πŸ˜‰

Singkatnya, ‘Whip It’ adalah those simple feel-good-movie about growing up and make decision. Dan membuat saya berharap ada ajang roller derby disini. I would’ve tried it out if myself if my body-balance wasn’t too damn pathetic πŸ™‚

7.5/10

the ‘fab’ cheesy names: Iron Maven. Smashly Simpson. Rosa Sparks. Maggie Mayhem. Babe Ruthless. Eva Destruction. The Manson sister. Pocket Rocket. Jaba the Slut. Bloody Holly. Kami Kaze. Jackie Daniels. Malicein Wonderland.

Smashley Simpson, Bloody Holly, Malice in Wonderland, Rosa Sparks, Dinah Might: We’re number two! We’re number two!
Razor
: You guys came in second out of two teams.
Smashley Simpson, Bloody Holly, Malice in Wonderland, Rosa Sparks, Dinah Might
: Whoo!
Razor
: Yeah, let’s celebrate mediocrity! That’s fantastic.


Bliss Cavendar: We deserve better villains.

(after shoving the mean girl at school. I like this part so much!! πŸ™‚ )

Oliver: Wow, from here it kinda looks like you’re wearing a stryper t-shirt.
Bliss Cavendar
: stryper? Yeah, 80’s christian heavy metal. I mean in the name of jesus we rock.


Watchmen – review

WARNING: This is not recommended for popcorn moviegoers who prefer your hero swinging in tights bashing up some bad guys – plain good vs. evil with extravagant spc FX and happy ending.
Alan Moore is god and Zack Snyder is the prophet, i’m tellin ya..x) if you’re not into Moore’s work such as ‘V For Vendetta’ or ‘From Hell’, then this is definitely NOT for you.
Berlatar belakang Amerika tahun 1985 dimana situasi politik sedang tidak menentu karena ancaman perang nuklir US-soviet, kisah Watchmen dibuka dengan adegan pembunuhan brutal The Comedian aka Eddie Blake, veteran superhero. Rorschach, rekan sesama superhero menginvestigasi kasus tersebut untuk menemukan kecurigaan akan adanya konspirasi pembunuhan para superheroes. Mulailah ia memperingati rekan-rekannya: Nite Owl II aka Daniel, ahli fisika Dr. Manhattan aka Jon bersama kekasihnya Silk Spectre II aka Laurie, dan jutawan muda Ozymandias aka Adrian.

Dr. Manhattan sendiri adalah satu-satunya yg memiliki kekuatan super, hingga disebut ‘the indestructible’ dan menjadi ujung tombak US dalam menghadapi ancaman perang nuklir. Sedangkan Adrian sudah lama membuka kedoknya sebagai superhero dan sebagai manusia paling cerdas di dunia, kini ia telah memiliki kerajaan bisnis multibiliuner, juga sedang mengerjakan suatu proyek pemerintah bersama Dr. Manhattan. Daniel dan Laurie pun pensiun dan memilih menjalani hidup normal.
Namun tragedi yg menimpa The Comedian dan fakta bahwa Rorshach telah dijebak untuk dituduh sebagai pembunuh, memaksa mereka untuk bekerja sama menguak misteri yg menyelubungi konspirasi ini. Apa motif di balik semua ini? Apakah ada hubungannya dengan keterlibatan mereka dalam perang dingin? Bagaimana mereka mencegah ‘Doomsday Clock’ yg kian mendekat?

Gaya penceritaan Nolan dengan The Dark Knightnya, telah membuka jalan untuk sudut pandang baru adaptasi komik ke layar lebar. Walaupun Watchmen memang berangkat dari graphic novel, bukan komik pada umumnya, sehingga aroma noir dan satir sebagaimana graphic novel yg sebelumnya telah terlebih dulu difilmkan – Sin City, memang lebih pekat.
Watchmen lebih menyoroti superheroes dari sisi humanis secara utuh, bukan sekadar sisi protagonis ataupun antagonis semata namun kompleksitas grey area. Semisal The Comedian digambarkan sebagai sebagai seorang bajingan, emosional dan sinis pada sifat asli manusia namun justru dibunuh karena ia menentang rencana extinction umat manusia. Rorschach mungkin detektif yg merciless namun ia memegang teguh prinsipnya hingga detik akhir ajalnya. Jika ditelusuri latar belakangnya kehidupannya yg tragis, sungguh unik ia berakhir sebagai ‘the good guy’. Dr. Manhattan mungkin memiliki kekuatan tak terbatas, namun hal itu pun tidak mampu menyelamatkan hubungannya dengan Laurie yg meninggalkannya, karena Laurie merasa Jon sudah tidak lagi memiliki emosi sewajarnya manusia normal. Sedangkan Adrian memiliki ambisi pribadi untuk menaklukkan dunia yg dikungkung isu-isu seperti keterbatasan bahan bakar, ketakutan akan perang,dll. Demi keberlangsungan manusia atau demi ego intelegensianya semata, hanya Tuhan yg tahu.

Watchmen menyajikan karakter-karakter riil dengan cerita yg dibalut filosofi politik, serta dialog-dialog yang sangat kental dengan unsur ironi dan sarkasme. Dua tokoh yg sangat menonjol disini adalah Rorschach sebagai narator, yg diperankan dengan sangat apik oleh Jackie Earle Haley; serta The Comedian (Jeffrey Dean Morgan, sebelumnya bermain bersama Uma Thurman dalam ‘The Accidental Husband’..yup. Even i’m surprised it was him! xD ) yg walaupun di’matikan’ sejak awal namun melalui flashback, karakternya meninggalkan kesan yg sangat kuat. Alan Moore pun nampaknya senang sekali mengangkat tema anarkis dalam setiap ceritanya (V For Vendetta – aksi terorisme V yg merupakan simbol pemberontakan, From Hell – aksi pembunuhan Jack The Ripper terhadap pelacur-pelacur yg dinilai ‘mengotori’ dunia), begitu pula dengan Watchmen. (Which part? figure it out yourself, wouldn’t want any spoiler, did ya? ;p)

well, end of story, for those of you despise Watchmen for not being typically ‘superheroes movie’, you can crawl back to your lollipopheroes & SUCK IT!!!
because Watchmen fukkin’ rules!! :p

memorable quotes (among SO MANY, these quotes from IMDB are all i have :p):

The Comedian:Β  God damn I love working on American soil, Dan. Ain’t had this much fun since Woodward and Bernstein. Congress is pushing through some new bill that’s gonna outlaw masks. Our days are numbered. Till then it’s like you always say, we’re society’s only protection.
Nite Owl II: From what?
The Comedian: You kidding me? From themselves.

Rorschach: You see, Doctor, God didn’t kill that little girl. Fate didn’t butcher her and destiny didn’t feed her to those dogs. If God saw what any of us did that night he didn’t seem to mind. From then on I knew… God doesn’t make the world this way. We do.

The Comedian: Once you realize what a joke everything is, being the Comedian is the only thing that makes sense.

Janet Black: Doctor Manhattan as you know the Doomsday Clock is a symbolic clock face analogizing humankind’s proximity to extinction, midnight representing the threat of nuclear war. As of now it stands at four minutes to midnight. Would you agree that we are that close to annihilation?
Dr. Manhattan: My father was a watch maker. He abandoned it when Einstein discovered time is relative. I would only agree that a symbolic clock is as nourishing to the intellect as photograph of oxygen to a drowning man.

Rorschach: None of you understand. I’m not locked up in here with you. You’re locked up in here with me.

Dr. Manhattan: In my opinion, the existence of life is a highly overrated phenomenon.