Arsip Tag: mystery

Absentia – review

Film karya Matt Flanagan ini pernah ditayangkan pada festival INAFFF di tahun yang sama, namun sayangnya saya tidak sempat menonton. Justru saya lebih dulu menyaksikan karya terbaru Flanagan yang juga menuai pujian kritikus yaitu Oculus (2013). Dan saya suka keduanya! 😀 Absentia is one effective potion of a gripping horror!
Saya langsung bisa merasakan signature-style Matt Flanagan yang diterapkan pada kedua filmnya ini; cenderung slow-burn horror, lebih bermain ambience, kental dengan tema supernatural, dan special FX yang terbilang cukup sederhana. Pada halaman Kickstarter Absentia (yep, they did crowdfunding on this one!) memang dijelaskan bahwa misi Flanagan dan tim adalah mencoba membangkitkan genre horor yang lebih berfokus pada rasa ‘takut’ dan tidak melulu bergantung pada gore dan tipikal jumpscares yang mudah ditebak.

Absentia2 Lanjutkan membaca Absentia – review

Triangle – review

Film produksi lama (2009) ini sempat mampir ke bioskop beberapa bulan kemarin. Sempat agak pesimis melihat poster yang berbau tipikal film slasher ala kadarnya, tapi setelah menyaksikan Triangle, saya harus menarik lagi pernyataan tersebut 😀

This is one mindfuck-twisted-thriller, i don’t even know how Christopher Smith –the writer AND director able to compose, compile and mash the whole thing into one wicked continuity storyline. Sick. 

Sepintas intro cerita akan terdengar seperti kisah Kapal Hantu pada umumnya. Jess (Melissa George), ibu tunggal satu anak pengidap autis bernama Tommy tiba di pelabuhan dengan sedikit ling lung. Hari itu memang rencananya Jess akan pergi berlayar dengan teman dekatnya Greg (Michael Dorman), yang juga mengundang Victor, pasangan suami istri Downy dan Sally, serta sahabat Sally yang bernama Emma. Namun malang bagi rombongan tersebut, hari yang cerah mendadak diliputi awan gelap. Diterjang secara mendadak oleh hujan badai yang hebat, kapal milik Greg hampir saja hancur jika tidak kemudian badai tersebut akhirnya reda. Kebingungan karena tersesat di tengah tengah laut lepas, bukan main leganya mereka saat sebuah kapal pesiar datang mendekat.  Masih dilimpungi rasa lelah dan perasaan aneh yang entah dari mana datangnya, Jess sempat ragu untuk ikut naik ke kapal pesiar yang nampaknya tidak berpenghuni itu.

Greg: Are you all right?
Jess: [staring down one of the ships corridors] I feel like I know this place. I recognize this corridor.
Greg: Well I guess they look pretty similar.
Jess: [worried] No! That’s not it!

Dan ya, setelah mereka menyusuri seisi kapal, ternyata memang tidak berpenghuni. Ghost Ship? Most likely. Jess terus menerus merasa gelisah, karena lorong lorong kapal terasa familiar baginya. Belum lagi ada sosok misterius yang nampaknya berkeliaran di dalam kapal. Keanehan demi keanehan mulai terjadi. Tiba tiba satu persatu kawan mereka mati terbunuh oleh sosok misterius bertopeng itu. Hingga akhirnya Jess mesti berupaya keras bertahan hidup sendirian dalam kejar-kejaran dengan maut.

Sekali lagi ditegaskan, kisah ini sama sekali bukan cerita standar akan kapal hantu dengan pembunuh brutal yang tidak jelas asal usulnya. Seiring dengan bergulirnya cerita, akan terkuak fakta yang cukup mengerikan.

Lanjutkan membaca Triangle – review

Dexter : TV’s favorite serial killer

Setelah perkenalan ‘tidak sengaja’, saya langsung jatuh cinta pada serial tv ini. Kebetulan waktu itu salah satu channel tv kabel sedang memutarkan re-run dua season sekaligus, and guess what? i couldn’ t keep my eyes away from this series for three days in a row :). Addictive!

Dexter Morgan (Michael C. Hall, just won an Emmy for this particular role) adalah seorang petugas forensik spesialisasi darah di Kepolisian Miami. Dikenal sebagai pria ramah dan cerdas di kalangannya, sepintas kehidupan Dexter nampak normal sebagaimana tipikal polisi lainnya. Namun siapa sangka di balik wajah dinginnya ia menyimpan kehidupan rahasia. He might be solving up cases by day, but by night, he’s strolling down the street as a merciless serial killer hunting for prey. Not just any random serial killer, but he holds the ‘code’ which is known as the Harry’s Code.

Sejak kecil, Dexter memiliki ‘dahaga’ yg tidak wajar untuk anak seusianya, yakni hasrat membunuh. Hal ini disadari oleh Harry, ayah angkatnya yg juga seorang polisi yg cukup disegani di Kepolisian Miami. Tidak ingin anaknya divonis sebagai pesakitan, Harry menyimpan rahasia ini untuk kemudian mengarahkan ambisi puteranya pada sebuah kode atau aturan main, yakni Dexter ‘hanya’ boleh mengambil nyawa para kriminal yg lolos dari jerat hukum. Inipun  dilakukan setelah penyelidikan mendalam dan ekstra hati-hati.

Dexter Morgan: [voiceover] Harry was a great cop here in Miami. He taught me how to think like one; he taught me how to cover my tracks. I’m a very neat monster.

Berbekal kode moral tersebut, Dexter tumbuh dewasa menjadi ahli forensik dan bersama adik perempuannya Debra (Jennifer Carpenter, Michael C.Hall real-life wife 🙂 )–yg juga polisi detektif dan sama sekali tidak tahu menahu atas kehidupan ganda kakak kesayangannya ini- menjalani kesehariannya memecahkan kasus demi kasus di Miami. Alasannya masuk kepolisian Miami pun cukup sederhana, karena konon Miami memiliki tingkat pemecahan kasus terendah, sehingga ia tidak perlu khawatir ‘hobi’nya akan ketahuan :). Lagipula, dikelilingi laut, memudahkannya untuk ‘membuang’ barang bukti berupa…errrr body pieces. Yah, jika akrab dengan film horor semacam Saw, Hostel, dll teknik yg Dexter terapkan pada korban-korbannya tidak jauh dari berbagai macam benda tajam dan tindakan mutilasi. Namun semua sudah diperhitungkan dengan matang karena tentu saja, sebagai ahli forensik handal ia tahu persis bagaimana caranya supaya tidak meninggalkan bukti  apapun :), Clever, ain’t he? Jangan khawatir, karena ini konsumsi tv, tentu tidak akan sebrutal pada film film slasher. Oh ya, signature style Dexter yakni menyayat pipi calon korbannya untuk kemudian tetesan darahnya dikoleksi ke dalam plat kaca (seperti yg biasa digunakan di laboratorium).

Tokoh-tokoh lain yg juga berpengaruh dalam kehidupan Dexter yakni Rita Bennet, janda beranak dua yg menjadi kekasihnya. Sifat rapuhnya karena sempat menjadi korban kekerasan domestik –yg kadang membuat penonton gregetan err…or was it just me? :)- juga menjadi salah satu alasan Dexter menjalin hubungan dengannya. Because let’s face it, he was emotionally detached, and so was Rita. Tidak lupa rekan-rekan kerjanya: Angel Batista, Masuka, James Doakes serta atasannya Letnan Maria LaGuerta. Doakes satu-satunya yg menyadari ada yg janggal dengan Dexter dan selalu ketus serta menaruh kecurigaan berlebih pada segala tindak tanduknya. Tapi tentu dengan kecerdasannya, Dex selalu berhasil selangkah lebih maju mengelabui Doakes.

Season pertama selain bercerita mengenai asal usul Dexter secara flashback, juga berkisar tentang kasus Ice Truck killer, pembunuh berantai yg meninggalkan ‘pesan’ di tiap aksinya, dimana  hanya Dexter yg mampu mengerti maknanya. Who could understand a serial killer better other than…another serial killer? 😉

Dexter Morgan: I’ve lived in darkness a long time. Over the years my eyes adjusted until the dark became my world and I could see

Kini seri yg diadaptasi dari novel ‘Darkly Dreaming Dexter’ karya Jeff Lindsay ini sudah mencapai season 4, and it’s impossible for me to tell the whole ‘fun’ of the early seasons, you have to watch it yourself 🙂 Sarat dengan dark comedy melalui narasi dari Dexter sendiri, ide ceritanya mesti diakui sangat jenius although morally wrong, but yet intriguing.  Karena penonton akan dibuat ‘tidak rela’ ketika Dexter dihadapkan pada detik detik terbongkarnya kehidupan rahasianya. Apakah aksi vigilante-nya juga tak bisa terhindar dari ‘hukum’ pada akhirnya? Well he is after all, our favorite serial killer 🙂

Berikut adalah theme song Dexter, ‘Psycho Killer’ by Talking Heads. Well of course the song title would be it,..like d’oh! :).  Sebetulnya ada tv spot juga dengan lagu ini yg sangat menggambarkan how disturbingly and eerie Dexter’s world is, sayang saya tidak berhasil menemukannya di Youtube :(. Well anyway, enjoy this haunting theme song!


Sherlock Holmes – review

The most famous detective on novel brought to life, this time, portrayed by the charismatic Robert Downey Jr. The story opened with Lord Blackwell’s (Mark Strong) arrest. The man who claimed as the messenger of the black magic has been commited to several murderous act, which causing terror in London. So when he’s finally hung, everyone thought it would be for good.

Meanwhile, Dr. Watson (Jude Law, surprisingly good. Maybe the only role he didn’t end up as ‘Jude Law the pretty boy’ :p), Holmes’s loyal companion is getting married. The fact that Holmes might lose his best partner didn’t really took Holmes to enthusiastic state towards the wedding.  Had briefly slumped to this issue and no cases worth intriguing enough during the moment, the sudden news of Blackwell’s mysteriously risen from the dead  tickles his senses to once again confront this case with his methods of logic. And when Irene Adler (Rachel McAdams) –the devious thief, the Holmes’s opposite attraction, the only woman who had outsmarted Holmes twice- is involved, he knew that something big engirdled this case.

One mentioned this is the version of a down & dirty Holmes, when Guy Ritchie succesfully depicted him not only as the analytical freak, but also the physical side–Holmes the brawler. The slobbish version of Holmes might offended the true fan of Sherlock Holmes, but it works out just fine for me ;). He still put the iconic pipe, nevertheless. & Not only i love the grey blue-ish he used for the color tone of Old London, the way he visualized tradition method of explaining the Sherlock Holmes deductions after given the facts and clues in slow motions & repeated scenes is beautifully executed. The battle of humorous wits between Holmes & Watson’s bromance relationship is undeniably hit the mark. & some animal rights group might be infuriated by how Holmes always tried out new medicine to that poor adorable bulldog, Gladstone. Packed of laughs, indeed 😀

This is the first movie i saw in 2010, & boy, i am well entertained 🙂 it scores 8.5/10

& yet, it screams for sequel!! See you hopefully soon, Professor James Moriarty 😉