Arsip Tag: Japan

Downtown Kyoto #JapanTrip (part 3)

Halo! Ini adalah bagian terakhir dari #JapanTrip saya, dengan tujuan Kyoto.

Dari semua kota yang kami kunjungi, bisa dibilang Kyoto adalah favorit saya!  Sempat menyesal juga karena hanya menyisihkan waktu semalam di kota ini sebelum keesokan harinya kembali bertolak ke KIX.

Jika kalian mencari pesona kota tua Jepang, maka Kyoto-lah jawabannya. Setibanya di Kyoto kami harus berjalan (baca: sambil menggiring koper) cukup jauh karena ternyata jarak stasiun dengan hostel yang ‘lumayan’. Namun hikmahnya bisa sambil sightseeing suasana kota yang tentunya jauh lebih ‘tenang’ dibanding Tokyo atau Osaka. Di kota ini, pemandangan gedung pencakar langit bisa terbilang jarang, adapun kompleks perumahan yang ada lebih banyak mengadopsi gaya tradisional, dan kuil mungil yang selalu ‘terselip’ di setiap perumahan. Bahkan salah satu rumah pejabat yang sempat kami lewati juga bergaya ala rumah bangsawan Jepang zaman dahulu. Hanya saja dilengkapi banyak kamera pengawas di setiap sudut, hihi.

Kyoto houses

Kyoto streets

Camera 360

Lanjutkan membaca Downtown Kyoto #JapanTrip (part 3)

Iklan

Confessions (Kohuhaku)

Familiar dengan film Kill Bill, I Spit On Your Grave, Hard Candy,  Oldboy, The Skin I Live In, dan I Saw The Devil? Tema ‘vengeance‘ alias balas dendam yang jadi benang merah film-film yang barusan disebutkan memang selalu seru untuk diangkat ke layar lebar. Jika selama ini balas dendam digambarkan identik dengan aksi vigilante yang disertai bumbu bloody-gore, maka film Confessions (2010) dengan cerdas menyajikan  ‘balas dendam’ dari permainan alur  serta multiple vantage point. Film yang juga sempat masuk shortlist Academy Awards 2011 untuk Best Foreign Language Film ini bisa dibilang lebih kental dengan aroma psychological thriller yang mencekam secara emosi.

“Revenge is a dish best served cold

Begitulah peribahasa yang  sering dilontarkan terkait upaya balas dendam. Nampaknya prinsip inilah yang dipegang Yuko Moriguchi (Takako Matsu), seorang guru dan ibu tunggal yang kehilangan anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun, Manami, dalam sebuah kejadian tragis di sekolah tempat ia bekerja. Di hari terakhirnya mengajar, dengan kalemnya ia ‘mengaku’ pada anak-anak didiknya bahwa ia tahu penyebab kematian Manami bukanlah kecelakaan, namun putrinya adalah korban dari konspirasi pembunuhan yang keji. Pelakunya, tak lain adalah dua orang siswa yang ada di kelas tempat ia mengajar, yang ia samarkan dengan nama ‘Student A’ dan ‘Student B’.  Karena kejahatan oleh anak di bawah umur tidak bisa dijerat hukum menurut undang-undang Jepang (biasanya hanya berakhir dengan hukuman rehabilitasi), Moriguchi memutuskan untuk  menggunakan metodenya sendiri untuk memberi pelajaran kepada para pembunuh putrinya tersebut.

The calm before the storm

Lanjutkan membaca Confessions (Kohuhaku)