Arsip Tag: friends

Finally, The Rainbow Has Come | L’Arc~en~Ciel 20th Anniversary World Tour – Jakarta, May 2nd 2012

My first encounter with L’Arc~en~Ciel kalau tidak salah sekitar tahun terakhir SMA, saat melihat video ‘Stay Away’ diputar di MTV. Gue yang memang belum terlalu menyimak perkembangan musik Jepang saat itu (lebih berkutat pada perkembangan komik, hehe) cukup terkesan dengan style band dengan preppy look tersebut — musiknya alternative rock, eh pake dance, sambil merokok pula 8)). Overall, keren deh! Band yang kemudian belakangan gue tahu bernama L’Arc~en~Ciel alias Laruku itu mulai menjadi ‘candu’ saat tahun pertama kuliah. Sebetulnya sih terjerumus secara tidak sengaja; kebetulan sahabat gue dan mantan pacar gue jaman kuliah adalah fans mereka, karena sahabat gue memang ngeband dan mantan pacar gue itu memang pernah hidup di Jepang. Jadi intinya saat  itu gue ikut mempelajari seluk beluk band rock legendaris Jepang ini, daripada jadi kambing congek selama mereka ngobrolin L’Arc~en~Ciel 8)))). Long story short, i fell in love with their music 🙂 (Well, who wouldn’t?)

Ini lho, band rock jepang misterius bergaya boyband yang bikin gue penasaran 8))

Nah sekarang bayangkan dari tahun 2003, entah sudah berapa kali cuma bisa ngimpi bisa menyaksikan live performance mereka. Dengan minimnya jumlah promotor, petisi yang sudah berkali-kali diupayakan komunitas J-Pop/Rock tiap tahunnya, cuma bisa beli VCD konser bajakannya (Favorit gue sampai detik ini masih 1999 Grand Cross Conclusion dan 7 Days Shibuya 2003) di lapak khusus penggemar pernak pernik Jepang. Berkali-kali sempat berhembus gosip juga kalau ada promotor yang mau bawa Laruku, tapi ya endingnya selalu mengecewakan.

Sampai akhirnya 9 tahun kemudian, di saat promotor musik mulai berlimpah dan berlomba-lomba membuat konser, promotor Marygopps menyampaikan kabar yang membuat semua penggemar musik Jepang menjerit girang. Yes, JAKARTA will be one of Laruku’s destination on their 20th L’Anniversary Tour, May 2nd 2012. STAIRS TO THE 7th, RUNNIN’ UP TO HEAVEN, I AM!

Lanjutkan membaca Finally, The Rainbow Has Come | L’Arc~en~Ciel 20th Anniversary World Tour – Jakarta, May 2nd 2012

Iklan

50/50 – review

Nampaknya karena Joseph Gordon Levitt memang dianugerahi wajah yang melas, ia cocok sekali memerankan peran tokoh teraniaya macam Cameron James di 10 Things I Hate About You, Tom Hansen di 500 Days of Summer, atau seperti perannya sebagai Adam di film 50/50 ini. Kecuali tentunya saat ia mendobrak itu semua lewat Hesher (2010) :p. Well anyway, back to 50/50, Adam adalah pemuda twenty-something biasa, bekerja sebagai produser di sebuah stasiun radio dan memiliki pacar cantik yang tinggal bersamanya. Dunianya seketika jungkir balik saat ia divonis dokter mengidap sebuah kanker tulang belakang yang langka. Tentunya bukan kabar yang ingin didengar seseorang di saat usianya baru saja 27 tahun.

Adam: A tumor? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: Me? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: That doesn’t make any sense though. I mean… I don’t smoke, I don’t drink… I recycle…

Untuk fim dengan tema kanker, plotnya cukup mudah dicerna, tidak semelankolis Dying Young (1991) atau sedepresi Funny People (2009). Namun ada benang merah yang menghubungkan 50/50 dengan Funny People, yakni sama-sama dibintangi Seth Rogen. Disini Seth Rogen berperan sebagai Kyle, sahabat Adam yang ceplas-ceplos. (well, Seth Rogen is being Seth Rogen indeed 😀). 50/50 sendiri adalah angka presentasi kesembuhan Adam yang diprediksi oleh dokter.  Keistimewaan kisah 50/50 ini memang terletak pada kesederhanaannya. Seolah menyampaikan that shit does just happen sometimes and it doesn’t discriminate, even to a guy as decent, as mild, as good as Adam. Adam kini menjalani kesehariannya dengan rangkaian kemoterapi, berkenalan dengan pasien kanker lain, juga sesi terapi dengan psikiater kikuk Katherine (Anna Kendrick). Ia pun harus menghadapi kepanikan sang ibu (Anjelica Huston, in one of her less-scary gesture here :D) dan the girlfriend we’d all love to hate, Rachael (Bryce Dallas Howard, yang nampaknya mulai menapaki spesialis peran antagonis sejak akting gemilangnya di The Help :D). Seiring waktu dan penyakit yang kian menggerogoti, makin sulit bagi Adam untuk tetap bersikap positif.

Lanjutkan membaca 50/50 – review

Va Va Voom Fashion :)

Been prepping blogspot website for my dearest friend’s business. Totally clueless about Javascript but i have a soft spot for learnin- experience, so why not? 😀

and it turns out to be exciting!

After searching zillions  possible themes for our blogspot, finally i fell in love with this classic theme, –which is actually more tricky than the upgrade version.

But what’s not to love about that clean-minimalist look?


If you notice the picture of beautiful lady with ‘V by Vai’ logo on the sidebar of my blog, please do click em to check out the latest exquisite va-va-voom fashion collection

(oh i love how it sounds, Va va voom. Don’t you? ;))

Well, we’re still sorting out production and stuff, but  hopefully our shop is up & running in 1-2 weeks. 😀

See ya then, beautiful creatures!

 

Easy A – review

Di tengah serbuan film film remaja kelas B yang  hanya mengeksploitasi seks dan cerita yang dangkal, the last teen movie that actually intrigued me was Charlie Bartlett (2007). Nampaknya kini Charlie akan ditemani oleh Olive Penderghast dari ‘Easy A’. Seperti kisah remaja pada umumnya, ‘Easy A’ masih berkutat di dalam topik teen pressure, persahabatan dan tentunya, cinta. Gaya penceritaan dibuka dengan Olive yang akan membeberkan kisahnya via video internet streaming. Shall the story begins…:D

Olive Penderghast: The rumors of my promiscuity have been greatly exaggerated.

Kebohongan kecil Olive Penderghast (the ravishing Emma Stone) pada Rhiannon sahabatnya tentang akhir pekan bersama pria fiktif harus dibayar mahal. Obrolan di toilet sekolah tersebut langsung menyebar dan rumor yang beredar bahwa Olive telah kehilangan keperawanannya. In their small town, apparently the issue is still quite appaling, khususnya bagi Marianne (Amanda Bynes) gadis religius yang fanatik dan langsung menghakimi Olive atas ‘tindakan’nya yang dinilai asusila.

Marianne: There’s a higher power that will judge you for your indecency.
Olive Penderghast: Tom Cruise?

Secara kebetulan, kelas bahasa Inggris sedang membahas novel The Scarlet Letter, dimana situasinya mirip dengan apa yang Olive alami sekarang. Olive yang cenderung cuek tapi mulai kesal karena orang-orang tidak ada yang mempercayainya, justru semakin menunjukkan sikap pemberontaknya dengan memakai baju seksi dan menempelkan kain inisial ‘A’ (untuk Adultery) berwarna merah di dadanya, sebagaimana simbol yang dikisahkan pada novel tersebut.

Olive Penderghast: A is for Awesome.

Belum lagi usai rumor tersebut, Brandon (Dan Byrd), teman Olive yang sebenarnya gay datang meminta tolong. Muak di-bullied tiap hari, Brandon meminta Olive untuk pura-pura have sex with him di pesta salah seorang murid populer. Olive yang semula menolak, namun karena sifat dasarnya yang suka menolong akhirnya mengiyakan. Rencananya sendiri sukses besar, namun hanya menambah bola gunjingan yang sejak awal digulirkan menjadi semakin tidak terkontrol.  ‘Pertolongan’ Olive pada Brandon terdengar oleh pria pria kurang populer yang berharap Olive juga dapat menaikkan reputasi mereka. Kepalang tanggung, Olive akhirnya memutuskan untuk meneruskan layanan ‘kebohongan’ ini, ditukar dengan uang atau kupon hadiah.

Namun apakah Olive akan tahan dengan stigma wanita murahan yang diberikan orang kepadanya? Bagaimana ia mengembalikan reputasinya seperti sedia kala? Apalagi Marianne menyusun plot untuk mengeluarkannya dari sekolah.

Film ini menunjukkan betapa massal akibat dari sebuah rumor dan bagaimana orang begitu cepat membuat judgementnya sendiri. Jika dulu ada film Gossip (2000) yang juga mengangkat tema rumor namun lebih kepada thriller, maka ‘Easy A’ mengemasnya dalam formula yang lebih ringan. Apa yang membuat ‘Easy A’ beda dengan kisah lain, yakni karakteristik sang tokoh utama Olive yang dibuat sangat menarik –cuek, provokatif namun di balik itu sesungguhnya suka menolong -walaupun itu berarti dia harus terjerumus masalah karenanya. Yeah, she’s a kick-ass antihero with groundbreaking attitude. Amanda Bynes juga sukses menjadi gadis yang amat menyebalkan, setelah sebelumnya selalu mendapat peran protagonis. Yang menarik juga adalah keluarga Olive, yang digambarkan patchwork family –sepasang orang tua angkat yang diperankan Stanley Tucci dan Patricia Clarkson dengan Chip, sang adik berkulit hitam. Bagaimana komunikasi yang unik dan hangat antara mereka is very much genuine and heartwarming ;). Jangan lewatkan juga penampilan apik dari Thomas Haden Church dan Lisa Kudrow yang menjadi guru di sekolah Olive. Yang disayangkan justru karakter love interest Olive yakni Todd yang diperankan oleh Penn Badgley (bagi penggemar seri Gossip Girl pasti tidak asing dengan si ganteng pemeran Dan Humphrey ini), karena terkesan seolah tempelan saja.

Tapi tentu bintangnya adalah the awesome Emma Stone.  Dengan paras bagai gabungan Mila Kunis dan Lindsay Lohan, gadis 22 tahun ini sebelumnya tampil apik dalam Superbad dan Zombieland, but Easy A is her first big break, methinks. With that sexy deep voice and attitude, i hope she’ll get major great films lined up after this. Of course right now she’s already cast as Gwen Stacy on the Spiderman reboot. 😀

‘Easy A’ is fun, lovable, witty and charming. A is for Awesome 😀

8.5/10

Olive Penderghast: Let the record show that I, Olive Penderghast, being of sound mind and below average breast-size, swear to tell the truth, the whole truth, and nothing but the truth… starting now.

Soul Kitchen (2009) – review

It’s Europe On Screen! Salah satu yg berkesempatan untuk ditonton adalah film drama komedi produksi Jerman  ‘Soul Kitchen’ arahan sutradara Fatih Akin. Konon untuk sekaliber Fatih Akin, genre ini termasuk mengejutkan karena biasanya ia selalu menyutradai film film yang bertemakan depresi dan ‘berat’ seperti ‘The Edge of Heaven’ (2007). Walaupun dia juga pernah mengisi salah satu segmen di ‘New York, I Love You’ (2009)

Anyway let’s get back to Soul Kitchen. Soul Kitchen adalah restoran sederhana di pinggiran kota Hamburg, Jerman milik chef Zinos Kazantsakis. Walaupun terletak di gudang tua dan hanya menyajikan menu junk food standar seperti hamburger, schnitzel, kentang goreng dan semacamnya, namun mengelola restoran adalah impian Zinos. Namun bagi Nadine, kekasihnya, impian itu terlampau kerdil hingga Nadine memutuskan untuk pergi ke Shanghai memenuhi karirnya sebagai reporter.

Di tengah kegalauannya karena hubungan jarak jauhnya dengan Nadine dan restorannya yang terancam tutup karena berbagai masalah, Zinos harus memutar otak dan memutuskan apakah ia akan menjual propertinya pada Neumann –teman lamanya, seorang pengusaha licik; untuk menyusul Nadine atau mempertahankan restorannya.

Semua kericuhan ini turut diramaikan oleh Illias, kakak Zinos –tahanan residivis yang sedang bebas bersyarat dan butuh pekerjaan, Shayn si koki baru yang idealis dan menolak memasak junk food, Lucia si pelayan jelita nan judes dan Sokrates kakek penggerutu yang hidup menumpang di Soul Kitchen.

Dari sepuluh menit pertama, Soul Kitchen sudah mengundang tawa karena begitu banyak kelakuan konyol dari Zinos :-D.  Sepanjang film penonton akan diajak menyaksikan jatuh bangun Zinos dalam mengelola Soul Kitchen, dari restoran kumuh menjadi salah satu tempat paling hip yang kemudian terancam tergusur lagi. Apalagi ketika Zinos mengalami cedera punggung yang mengakibatkan gerak gerik yang sangat kikuk. Dengan tema yang ringan, Soul Kitchen dijamin akan membuat terpingkal-pingkal lewat dialog-dialog serta chemistry antar tokoh yang amat pas. Aaaaand since it’s European, of course some of the jokes will consist of  sex and nudity, so don’t watch it on the living room with your family, guys 😉

Personally i think the completion of Zinos’s insistent miseries is too simple, but it doesn’t reduce the whole fun-rollercoaster ride :-). Soul Kitchen is definitely worth the laugh!. Tokoh favorit? tentu saja si koki Shyan yang  galak serta mahir mengolah junk food menjadi hidangan a la carte sesuai idealismenya. Totally hilarious !!!

Check out the trailer:


…blast from the past

Kemarin waktu buka-buka laci di kamar, nemu organizer jaman SMA. It was quite a trend back then…almost every girl had it x). Dan tiba-tiba gw kangen…

apparently i made friends with great poets 🙂

Some of ’em are actually good. Never judge a book by its cover indeed. Those slackers-cheeky teenage boys…gave em a pen,  and look what we’ve had here.

Look at this schedule! ….Lord, i didn’t even remember how i’ve managed to survived  those horrible line-ups! I have to say Thursday was the worst. Four hours of math! My brain cells are probably smoked xD

While this is the drawing i made, just for the sake of the memory 🙂 1999/2000. One of the greatest moments of my life!