Arsip Tag: family

The Beaver – review

Yes, i know. It’s been a while.  Been very busy with my new job. So many movies i haven’t got a chance to share here. 😦  But then i saw The Beaver (2011).  I thought it’s gonna be all-depressing-dark-suicidal- American Beauty-ish. Guess what? IT IS! In a good way, of course 😀 (BTW American Beauty is one of my favorite movie)

If you think this movie is about a man with a nerve-breakdown and  decided to be a ventriloquist,….keep reading!

First thing first, kudos to Mel Gibson for playing such twisted multiple personalities!

Lanjutkan membaca The Beaver – review

Iklan

The Company Men – review

Tahun 2010, resesi di Amerika menghantam banyak perusahaan dan memaksa mereka melakukan perampingan pegawai. Dikisahkan GTX Corporation adalah salah satu perusahaan yang juga kena imbas, dan dalam upaya mempertahankan nilai saham mereka di pasar, CEO Jim Salinger (Craig T. Nelson) mau tidak mau mengambil langkah yang dirasa perlu. Film ini akan bercerita seputar orang-orang yang terkena dampak dari keputusan pahit tersebut. Pada suatu pagi, salah satu top sales executive GTX Bobby Walker (Ben Affleck, very well played) mesti tertampar kenyataan bahwa ia terkena PHK terlepas dari fakta 12 tahun ia bekerja disitu. Terbiasa dengan gaya hidup kelas atas bergelimang kemewahan, Bobby seakan mengalami jet lag berkepanjangan saat ia harus menyampaikan kabar ini pada keluarganya, menyesuaikan gaya hidupnya, serta mesti ‘mengantri’ lowongan pekerjaan bersama kelas pekerja lainnya.

Penyangkalan Bobby atas situasi yang menimpa dirinya ini sudah diperlihatkan sejak awal, saat ia ‘mengadu’ pada Gene McClary (Tommy Lee Jones) –salah satu petinggi GTX yang juga tidak setuju atas langkah yang diambil Jim, teman lamanya tersebut. Yang juga gelisah dengan situasi ini adalah Phil Woodward (Chris Cooper), eksekutif yang sudah merintis karir di GTX dari bawah hingga usianya kini 60 tahun. Saat akhirnya ia pun diberhentikan, ia terjerembab ke dalam persaingan bursa kerja dengan saingan saingannya yang tentunya jauh lebih muda dan berpotensi daripada dirinya. Apalagi perusahaan manapun tidak ingin mengambil resiko terkait asuransi dengan pekerja seusia Phil.

Lanjutkan membaca The Company Men – review

The Other Woman – review

Semula, pilihan tontonan pertama jatuh pada ‘No Strings Attached’ yang juga dibintangi si jelita Natalie Portman, Namun belum lima belas menit cara bertuturnya sudah tidak enak diikuti :p akhirnya banting setir ke film ‘The Other Woman’ yang merupakan produksi 2009 tapi baru dirilis 2011. Ternyata film drama ini dikemas dengan cukup solid dan mampu menyita perhatian selama 119 menit.

FIlm dibuka dengan adegan Emilia Greenleaf (Natalie Portman) yang sedang menjemput anak tirinya, William, di sekolah. Dari sini penonton bisa menangkap kalau hubungan antara keduanya tidak bisa dibilang baik. Kemudian bergulirlah beberapa bagian flashback akan awal mula pertemuannya dengan suaminya kini, pengacara tampan Jack Woolf (Scott Cohen). Walau tahu Jack yang saat itu sudah beristrikan Carolyn (Lisa Kudrow) namun keduanya tidak bisa menampik rasa ketertarikan satu sama lain. Perselingkuhan mereka mengalami titik balik saat akhirnya Emilia hamil. Singkat cerita, Jack menceraikan istrinya, menikahi Emilia dan hidup bertiga bersama William putra tunggalnya sembari menanti bayi mereka lahir. Akhir yang bahagia? tidak juga.

Kemalangan menimpa pasangan ini saat Isabel, putri mereka yang baru saja berusia tiga hari meninggal di pelukan Emilia saat tidur. Tentu kejadian itu membuat mereka sangat terpukul. Bagaimana kehidupan Emilia setelah tragedi inilah yang menjadi fokus cerita ‘The Other Woman’. Selain menghadapi stigma negatif sebagai ‘istri kedua’ dari lingkungannya dan mantan istri yang masih menyimpan amarah, Emilia masih harus menghadapi anak tirinya yang kadang celetukan polosnya cukup memicu pertengkaran antara mereka. Seperti saat William mengusulkan untuk menjual perlengkapan bayi milik Isabel ke eBay karena toh sudah tidak digunakan lagi. Namun perlahan-lahan Emily mulai bisa mencari celah untuk menjalin hubungan baik dengan William.

Mungkin inilah film tentang ibu tiri terbaik kedua setelah Stepmom (1998) :D. Walau tokoh Emily memang jauh lebih labil dibanding tokoh yang diperankan Julia Roberts di film tersebut. Mungkin sebagian besar wanita yang menonton akan meradang jika dihadapkan pada karakter Emily di kehidupan nyata, namun justru itulah 😀 film ini menampilkan angle dari sisi sang ‘wanita lain’, pergolakan batin dan berbagai dilema yang dihadapinya. Porsi setiap karakter yang ada sungguh pas sehingga akan membuat kita berempati bukan hanya pada satu karakter tertentu, namun semuanya.  Karena Natalie Portman seperti biasa menampilkan akting tak tercela, maka pujian juga layak diberikan pada Lisa Kudrow sebagai barisan sakit hati terdepan, hehehe. Film ini diangkat dari novel ‘Love and Other Impossible Pursuits’ (2006) oleh Ayelet Waldman.

A decent heart-wrenching drama worth to watch 8/10

Conviction – review

Hilary Swank, our Oscar darling kembali dengan akting memikatnya dalam film Conviction. Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai perjuangan Betty Anne Waters, dalam memperjuangkan keadilan bagi kakak laki lakinya Kenneth Waters yang didakwa tuduhan pembunuhan di kampung halaman mereka, Ayer pada tahun 1983. Kisah dua bersaudara ini diceritakan secara back to back antara kilas balik dengan masa kini. Betty Anne (Hilary Swank) dan Kenny (Sam Rockwell), kakak beradik yang saling menyayangi walaupun sejak kecil sudah harus berpisah karena dititipkan pada rumah asuh yang berbeda. Namun mereka tetap berhubungan sampai masing-masing tumbuh dewasa, menikah dan memiliki keluarga sendiri.

Pada suatu hari, Kenny, si sulung dengan temperamen yang meledak-ledak,  tertimpa kesialan  dimana ia dicurigai oleh polisi setempat yakni Nancy Taylor (Melissa Leo) atas kasus pembunuhan brutal pada penduduk setempat. Sempat dilepaskan karena tidak cukup bukti, secara mengejutkan tiga tahun kemudian polisi kembali mendatanginya untuk kali ini betul betul menjebloskannya ke dalam penjara. Dengan rentetan barang bukti, alibi yang lemah dan keterangan saksi yang memberatkan, vonis seumur hidup pun tidak terhindarkan lagi.

Betty Anne yang cukup terpukul atas kejadian ini mulai memutar otak untuk membuktikan jika Kenny tidak bersalah. Bukan perkara mudah, karena Pengacara publik memasang tarif mahal dan Kenny pun sempat melakukan percobaan bunuh diri di penjara karena nyaris putus asa. Sampai akhirnya Betty Anne mengambil keputusan berani: kembali ke bangku kuliah untuk mengambil gelar hukum agar bisa menjadi pengacara untuk kakaknya. Disinilah perjuangan Betty Anne dimulai. Begitu berdedikasinya ia pada upayanya ini hingga pernikahannya pun tanpa sengaja menjadi korban. Terbebani peran single mother, berbagai tugas kuliah dan ancaman drop out membuat Betty Anne nyaris menyerah di tengah jalan jika bukan karena dorongan semangat dari teman kuliahnya Abra Rice (Minnie Driver).

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Betty Anne menemukan sebuah organisasi non-profit bernama Innocence Project, yang membantu menangani kasus kasus wrongful convictions seperti yang dialami Kenny. Ternyata teknologi DNA baru marak pada saat itu dan konon pencocokan DNA bisa diajukan pada kasus lama yang  diragukan keabsahannya. Betty Anne kembali merunut bukti-bukti lama, menanyai saksi saksi lama, hingga titik cerah akan kasus Kenny perlahan mulai menyeruak. Apakah perjuangan Betty Anne selama belasan -bahkan puluhan tahun membebaskan kakaknya akan berbuah hasil?

Mungkin tanpa harus diberitahu akhir cerita pun, sudah bisa tertebak ya :). Tapi bukankah pada kisah seperti ini, yang menarik adalah prosesnya? Secara keseluruhan kisah ini betul betul menginspirasi dan menyentuh, betapa setia dan tidak putus-putusnya kepercayaan Betty Anne  pada kakaknya. Perhatikan transformasi karakter Betty Anne yang awalnya hanya seorang ibu rumah tangga biasa menjadi mahasiswa dan akhirnya seorang pengacara. Film ini menunjukkan betapa jahatnya sebuah ‘sistem’ yang korup, betapa dahsyat dampaknya pada orang orang yang terjerumus pada sistem tersebut, dan betapa mahal harga yang harus dibayar — waktu dan keluarga.  This ain’t a simple cinderella story, this is an endless devotion of a loving sister whom put up a good fight. Bahkan sejak awal Betty Anne tidak pernah mempertanyakan apakah kakaknya betul-betul tidak bersalah.  If that’s not true faith, i don’t know what is 🙂

Bukan hanya Hilary Swank, namun performa Sam Rockwell sebagai Kenny dengan pasang surut emosinya pun sayang untuk dilewatkan, hingga tidak kurang dari tiga nominasi sebagai Best Supporting Actor di berbagai festival film diraihnya untuk peran ini. Sang sutradara Tony Goldwin, berhasil mengemas kisah ini dengan begitu memikat dan sama sekali tidak membosankan. Sebelumnya ia lebih banyak menangani serial TV seperti The L Word, Grey’s Anatomy, hingga Dexter. Namun mungkin orang akan lebih mengenal sosoknya sebagai aktor yakni sebagai antagonis Carl Brunner dalam film ‘Ghost’ (1990) yang amat populer.

Conviction, a crusade for justice that’s worth-watching 8/10

The Kids Are Alright – review

Ok dalam rangka kesuksesan ‘The Kids Are Alright’ menyabet Golden Globe  untuk kategori Best Comedy or Musical just now, i might as well write the review about this movie x). Berkisah tentang seorang anak yang penasaran akan ayah biologisnya karena hidup dalam keluarga dimana orangtuanya adalah pasangan lesbian Nic (Annette Bening, top notch performance) dan Jules (Julianne Moore). Bermodalkan donor sperma yang sama, pasangan tersebut melahirkan dua orang anak; yakni  Joni (Mia Wasikowska) dan Laser (Josh Hutcherson). Pada usianya yang ke 18,  Joni atas permintaan Laser diam diam menghubungi bank sperma untuk memperoleh identitas ayah biologis mereka. Maka sampailah mereka kepada Paul (Mark Ruffallo), seorang supplier sayur dan buah serta pemilik restoran.

Paul, tidak kalah canggungnya saat akhirnya berjumpa dengan Joni dan Laser. Nic dan Jules juga terkejut bukan kepalang saat akhirnya mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya. Nic, yang paling dominan di keluarga mereka, merasa sedikit kecewa dan mulai merasa tersaingi kehadiran Paul sebagai figur ‘ayah’. Apalagi Paul, dengan sosoknya yang berkendara motor, slenge’an dan cenderung free-spirited nampaknya mendapat tempat khusus di hati anak=anaknya. Sebelum keterlibatan Paul dalam keluarga ini, rumah tangga Nic dan Jules sebenarnya sedang dirundung sedikit masalah. Setidaknya bagi Jules, yang merasa sikap control freak Nic berpengaruh banyak pada rasa percaya dirinya yang rendah dan upayanya merintis karirnya sendiri sebagai landscape designer. Akhirnya Paul menyewa Jules untuk merapihkan halaman di salah satu properti miliknya. Namun kemudian sekelumit krisis paruh baya ini bergulir di luar kontrol Nic, Jules dan Paul hingga menimbulkan berbagai drama dan konflik yang cukup krusial .

Jules: …marriage is hard… Just two people slogging through the shit, year after year, getting older, changing. It’s a fucking marathon, okay? So, sometimes, you know, you’re together for so long, that you just… You stop seeing the other person. You just see weird projections of your own junk. Instead of talking to each other, you go off the rails and act grubby and make stupid choices… You know if I read more Russian novels, then…

Sebenarnya agak janggal jika ‘The Kids Are Alright’ dikategorikan ke dalam Musical/Comedy. Obviously it’s not a musical, and definitely more drama than comedy. Bahkan cenderung satir. Namun memang Annette Bening patut diacungi jempol karena berhasil membawakan sosok Nic yang tegas, dominan, bahkan akan membuat penonton merasa sebal dan bersimpati pada Jules (well i did :D) and of course she won the Golden Globes for Best Actress in Comedy/Drama 😀 yay!. Sebelumnya agak sedikit tertipu, karena pada dugaan awal cerita akan lebih berfokus pada Joni dan Laser (Because they’re on the title, d’oh) tapi justru lebih berpusat pada Jules-Nic dan bagaimana kehadiran Paul mengubah bukan saja konsep keluarga mereka secara keseluruhan namun juga pada hubungan Jules dan Nic itu sendiri.  And i have to say, with those puppy eyes and one fine ass, it took no surprise if he could get any lesbian back to straight.  Wait, did i just give you guys a hint? ……N’ah, you have to see the whole story 😀

Well overall, the kids, the moms and the biological father are doin alright!

7.5/10

Cyrus – review

John (John C. Reilly) adalah seorang duda yang sedang mengalami krisis paruh baya. Belum lagi ia pulih dari perceraiannya tujuh tahun lalu, mantan istrinya Jamie (Catherine Keener) datang untuk mengabarkan pernikahannya. Khawatir melihat kondisi kehidupan sosial John yang memprihatinkan, Jamie mendorong John untuk datang ke pesta pertunangannya, sekedar bertemu dengan orang-orang baru yang mungkin bisa kembali membangkitkan rasa percaya diri John.

Lama tidak bergaul dengan orang banyak khususnya  wanita, polah tingkah kikuk John sepanjang malam nyaris berbuah kegagalan sampai akhirnya ia berjumpa dengan Molly (Marisa Tomei) yang sederhana namun memikat. Tiba-tiba saja semuanya berjalan begitu cepat, hingga mereka menghabiskan malam-malam berikutnya bersama. Selalu menyelinap pulang di tengah malam, ternyata ada sesuatu yang belum Molly ceritakan pada John.

Saat John memutuskan untuk diam-diam mengunjungi rumah Molly, alangkah terkejutnya ketika ia menemukan seorang penghuni lain disana, yakni Cyrus (Jonah Hill) seorang musisi amatir yang juga adalah anak lelaki Molly.

Uniknya, Cyrus tidak seperti anak laki laki berusia 21 tahun pada umumnya, tutur kata dan pemikirannya cenderung dewasa dan hubungan ibu-anak yang dijalaninya bersama Molly pun termasuk tidak konvensional. Awalnya John lega karena Cyrus terlihat menerima kehadirannya sebagai kekasih baru Molly. Namun ketika terjadi beberapa insiden janggal, John mulai ragu apakah sosok Cyrus yang simpatik selama ini benar benar tulus ataukah ada maksud tersendiri di belakangnya. Tidak ingin gagal dalam hubungan seumur jagungnya dengan Molly,  John mesti memutar otak untuk tidak terjebak dalam plot yang diam-diam disusun Cyrus.

Kisah Cyrus ini sesungguhnya cukup sederhana. Jika sepintas terkesan seperti kisah thriller, tenang saja, film ini drama tulen kok. Tidak rumit dengan intrik, hanya menceritakan drama sehari-hari namun dengan kemasan yang tetap asyik disimak :D. Jonah Hill, yang biasa tampil sebagai pendukung di film adult comedy seperti Superbad, Forgetting Sarah Marshall, Knocked Up dan lain lain berhasil  menunjukkan bahwa ia mampu mengimbangi senior-seniornya disini seperti Reilly, Tomei dan Keener.

Yang menarik dari film ini tentu saja selain akting natural para pemerannya adalah camera movementnya yang sangat raw dan dinamis. Jarang sekali shotnya diambil secara still. Sutradara kakak-beradik Mark dan Jay Duplass nampaknya memang sengaja ingin memberikan sedikit gaya dokumenter pada film mereka ini. Jay Duplass sendiri sebelumnya lebih banyak berkutat dengan film pendek dan hasil karyanya di Sundance film festival sempat mendapat pujian. Sedangkan Mark, selain aktif mebantu kakaknya juga sempat menjadi aktor pendukung dalam film ‘Greenberg’ bersama Ben Stiller, dimana film ini juga mendapat ulasan positif dari para kritikus.

Simak juga beberapa lagu apik yang diputar pada saat credit title, yakni

Charlie Wadham ‘My Love’ serta Blind Pilot ‘I Buried A Bone’.

Overall, Cyrus adalah drama sederhana yang menggelitik, genuine sekaligus menghibur 🙂

7.5/10

The Joneses – review

Siapa yg tidak iri pada keluarga Jones? Dikisahkan baru saja pindah ke perumahan elit di daerah suburban, Keluarga Jones adalah potret keluarga sempurna. Steve (David Duchovny) sang kepala keluarga yg tampan dan kharismatik, pebisnis sukses dan beristrikan si jelita Kate (Demi Moore). Dua anak mereka Mick dan Jenn juga tidak kalah populernya di antara temen-teman mereka. Hidup di mansion mewah, mengendarai mobil sport mutakhir, dengan gaya hidup kelas atas bergelimangan materi: kosmetik, baju desainer dan segala peralatan rumah tangga dan elektronik terbaru.

They’re basically living the American Dream. Or in this case, selling it. Yep, di balik gemerlap itu semua, keluarga Jones bukanlah keluarga sungguhan. Mereka adalah orang-orang terpilih tergabung dalam sebuah ‘unit’ yg dibayar untuk menjalankan apa yg disebut dengan stealth marketing. Mengandalkan sifat konsumerisme di Amerika, singkatnya teknik marketing ‘baru’ ini berjalan secara kasat mata melalui dampak psikologis lewat pendekatan hubungan yg paling dasar: bertetangga.

‘If they like you, they’ll want what you have’.

Maka mulailah ‘keluarga Jones’ memasarkan produk-produk sesuai target pasarnya masing-masing. Steve memasarkan alat-alat golf, perangkat audio video, mobil. Kate memamerkan busana dan tas rancangan desainer, kosmetik, alat masak, makanan beku, dll. Mick dan Jenn membuat anak-anak sebayanya berbondong-bondong memborong perangkat video games, apparel, skateboard, dll. Semua itu dilakukan melalui aktivitas sesederhana obrolan tetangga :D. Dalam kurun waktu 30 hari akan ada KC (Lauren Hutton) seorang ‘supervisor’ yg akan mereview pencapaian sales mereka bulan itu.

Steve yg dulunya sales mobil sebetulnya masih ‘baru’ dalam pekerjaan ini. Konflik dalam film ini baru mencuat saat Steve merasa mulai kurang nyaman dan lelah dengan keluarga ‘palsu’nya yg selalu berorientasi mengumpulkan profit, khususnya Kate yg memang lebih senior dan sangat ambisius mencapai status ‘icon’, yakni strata tertinggi dalam pangkat seorang salesperson. Jenn, yg aslinya sedikit ‘nakal’ pun nekat berpacaran diam-diam dengan salah seorang tetangga mereka yg telah beristri.  Mick juga memiliki rahasianya sendiri yg baru terkuak di tengah alur.  Ketika sifat konsumtif yg dipicu terus-terusan ini secara tidak langsung mendatangkan tragedi bagi salah seorang tetangga mereka -pasangan Larry dan Summer Symonds,  Steve dipaksa mempertanyakan kembali peran sertanya atas pembentukan citra kehidupan ‘sempurna’ melalui profesi rahasianya ini.

Ide yg diangkat film The Joneses fresh dan orisinil, serta menyindir sifat konsumtif pada masyarakat dan corporate ladder climber. Sebuah pencitraan keluarga ‘sempurna’ masa kini yg sedangkal pemenuhan materi semata. They’re American Beauty meets The Stepford Wives. Less dark but still entertainingly satire, yang sayangnya ditutup dengan ending sedikit klise (walau tanpa mengurangi muatan pesan moralnya). Bagi para marketer juga film ini memiliki daya tarik yg sama seperti halnya Thank You For Smoking. Stealth marketing di sekitar kita bahkan sebetulnya sudah terjadi disadari ataupun tidak –saling pamer antar tetangga, anak-anak mengkonsumsi apapun yg idola mereka konsumsi– film ini hanya dengan cerdas mewujudkannya ke dalam suatu konsep sebuah profesi imajiner.

The classic tale of how consumerism ends to self destruct. They’ll teach you how. 😀

7.5/10