Arsip Tag: drama

Absentia – review

Film karya Matt Flanagan ini pernah ditayangkan pada festival INAFFF di tahun yang sama, namun sayangnya saya tidak sempat menonton. Justru saya lebih dulu menyaksikan karya terbaru Flanagan yang juga menuai pujian kritikus yaitu Oculus (2013). Dan saya suka keduanya! 😀 Absentia is one effective potion of a gripping horror!
Saya langsung bisa merasakan signature-style Matt Flanagan yang diterapkan pada kedua filmnya ini; cenderung slow-burn horror, lebih bermain ambience, kental dengan tema supernatural, dan special FX yang terbilang cukup sederhana. Pada halaman Kickstarter Absentia (yep, they did crowdfunding on this one!) memang dijelaskan bahwa misi Flanagan dan tim adalah mencoba membangkitkan genre horor yang lebih berfokus pada rasa ‘takut’ dan tidak melulu bergantung pada gore dan tipikal jumpscares yang mudah ditebak.

Absentia2 Lanjutkan membaca Absentia – review

Iklan

I Am a Ghost – review

Pertama kali saya mendengar tentang film I Am a Ghost sewaktu membaca berita tentang Bram Stoker International Film Festival, di mana film ini memenangkan Best Picture. Hal berikutnya yang mendapatkan perhatian saya adalah posternya yang menurut saya cukup keren, minimalis dengan warna hijau turquoise, tidak seperti umumnya template poster film ‘horor’ yang seringkali mengandalkan warna muram. Walau judulnya terkesan generik, tapi  sosok arwah perempuan dengan mata kosong yang ada di poster ini bagi saya sudah cukup mengusik rasa penasaran XD.

Lanjutkan membaca I Am a Ghost – review

Pieta (2012) – review

Pieta (bahasa italia untuk pity, belas kasihan) dalam literatur dan seni merupakan karya yang menyimbolkan sosok Yesus setelah penyaliban dalam pangkuan Bunda Maria. Rasa duka/belas kasih seorang ‘ibu’ atas penebusan dosa ‘anak’nya, kurang lebih itulah yang diintrepretasikan film Pieta karya Kim Ki-duk ini. Untuk tema hubungan ibu dan anak mungkin film Mother (Ma-deo) (2009) karya Bong Joon-ho lebih populer, namun saya sendiri lebih suka Pieta walau plotnya sendiri justru jauh lebih sederhana 😀

Lanjutkan membaca Pieta (2012) – review

Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

There’s always several movies that left an uneasy feeling, stir us up emotionally  especially when you’re a woman. Beberapa film ini misalnya seperti North Country (2005), An American Crime (2007), Changeling (2008), The Duchess (2008), hingga I Spit on Your Grave (1978/2010). Nah, Bedevilled ini termasuk salah satunya. Film Korea yang jadi jawara Puchon International Film Festival tahun 2010 ini menyoroti sudut pandang dari dua wanita dengan nasib dan kehidupan yang bertolak belakang, Hae-won (Ji Sung-won) dan Kim Bok-nam (Seo Young-hee). Sama-sama besar di kepulauan terpencil Mudo di selatan Korea, Hae-won kemudian memutuskan untuk mengejar karir dan mimpi di ibukota Seoul. Di awal film ditunjukkan bahwa hidup Hae-won tidaklah seindah yang dibayangkan. Tekanan dari persoalan kehidupan di kota besar mulai membuatnya frustrasi. Sebuah surat lama dari Kim Bok-nam, teman kecilnya, mendorongnya untuk kembali sejenak ke Mudo untuk menjernihkan pikiran.

Lanjutkan membaca Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

Stoker – review

Sebelum saya tahu kalau aktor Wentworth Miller lulusan sastra Inggris di Princeton, saya sejujurnya agak pesimis apakah script yang dibuatnya layak jadi debut penyutradaraan sutradara jawara Cannes, Park Chan-wook untuk film Hollywood :p. Dari poster dan trailernya memang sudah terasa sekali ‘feel’ ala film thriller Korea. Itu juga yang membuat saya cemas, karena toh tidak semua aktor/aktris Hollywood cocok ‘dikemas’ dengan gaya seperti ini. Saya sendiri mengagumi beberapa karya Park Chan-wook sebelumnya seperti Oldboy (2003) dan Thirst (2009). Namun setelah menonton film ini, rasa pesimis saya buyar seketika dan malah bersyukur tim produser Ridley Scott cukup jeli mempertemukan script Miller dengan sutradara yang memang sudah ahli mengolah cerita dengan twist seperti ini.

Lanjutkan membaca Stoker – review

Beautiful Creatures – review

Digembar-gemborkan sebagai ‘pengganti Twi-lame’, saya awalnya agak pesimis waktu akan menonton film ini 8)). Apalagi sama-sama diangkat dari novel teen-lit, or as they try to call it: young adult genre.

Saya sebetulnya terkesan melihat trailernya yang justru mengingatkan saya pada film Stardust, apalagi dengan kehadiran bintang senior Jeremy Irons dan Emma Thompson. Beautiful Creatures sendiri menjual kisah fantasy-romance, dibuka dengan narasi dari sudut pandang Ethan Wate, seorang pemuda dari kota Gatlin (Alden Ehrenreich) yang seringkali bermimpi tentang gadis misterius. Di tengah hubungan on-off nya dengan Emily Asher (Zoey Deutch), datanglah siswi baru bernama Lena Duchannes (Alice Englert, sepintas mirip Emily Blunt muda) dari keluarga Ravenwood. Warga kota Gatlin digambarkan sangat konservatif, dan keluarga Ravenwood yang eksentrik dicap sebagai keturunan penyihir. Kehadiran Lena di sekolah bahkan ditentang habis-habisan oleh Mrs. Lincoln (Emma Thompson), tokoh masyarakat setempat. Namun itu tidak membuat rasa penasaran Ethan terhadap Lena pupus. Apakah Lena adalah gadis misterius di dalam mimpi Ethan?

Sepintas mungkin terdengar seperti plot teen-romance cheesy yang standar, tapi film ini SURPRISINGLY GOOD! 😀 Yang membuat Beautiful Creatures ini berbeda yaitu pengembangan karakter dan dialog-dialognya yang justru anti-klise dan sarat humor. Adegan perkenalan Ethan dan Lena pada 10 menit pertama film ini membuat saya terpingkal. Juga pada saat Ethan bertemu dengan paman Lena, Macon Ravenwood yang diperankan Jeremy Irons. 8)))

Lanjutkan membaca Beautiful Creatures – review

What They Don’t Talk When They Talk About Love – review

Setelah berhasil menarik perhatian saya lewat film ‘Fiksi’ (2008), kali ini saya kembali dibuat penasaran untuk menyaksikan karya keduanya Mouly Surya, ‘What They Don’t Talk When They Talk About Love’ (atau disingkat ‘Don’t Talk Love’) pada acara ARTE festival akhir pekan lalu. Jika di film pertama Mouly mengeksplorasi genre suspense-thriller, maka pada film yang juga debut di Festival Film Sundance 2013 ini mengangkat tema cinta dengan pendekatan yang begitu unik dan menyentuh.

Cinta di masa remaja mungkin tema yang terdengar biasa saja. Namun saat cinta saat dibahasakan oleh para remaja penyandang tuna netra dan tuna rungu, apa yang tak terucap justru memiliki makna jauh lebih besar dari apa yang biasa terucap. Kisah ‘Don’t Talk Love’ ini mengambil sudut pandang dari keseharian tiga tokoh utama; Diana (Karina Salim), Fitri (Ayushita) dan Edo (Nicholas Saputra) di sebuah asrama/sekolah luar biasa di Jakarta dan bagaimana masing-masing bergelut dengan perasaan cinta, dan perasaan ingin dicintai. Diana yang sedang melancarkan berbagai upaya untuk menarik perhatian teman sekelas yang ditaksirnya; Fitri yang genit dan selalu dianggap lebih ‘dewasa’ dari teman-teman sebayanya, serta Edo, pemuda bisu punk-rocker yang membantu ibunya berjualan makanan di SLB dan diam-diam menaruh perhatian pada Fitri. Interaksi yang ditunjukkan antar tokoh ini sungguh menawan dan juga menggelitik. Saya sendiri suka sekali pada kisah Fitri dan Edo, yang ‘dipertemukan’ secara tidak sengaja oleh legenda hantu dokter yang ada di sekolah tersebut. Eits, hantu? Tenang saja, ini tidak mendadak jadi horor, kok. Hantu dokter di sini hanya mitos pendukung cerita 😀

They Dont Talk.2

Lanjutkan membaca What They Don’t Talk When They Talk About Love – review