Arsip Tag: comedy

Goon – review

Jika sepintas melihat posternya, saya pikir Goon hanya film komedi standar yang hanya menjual slapstick klise ala kadarnya, apalagi yang dipasang sebagai pemeran utama adalah Seann William Scott. Dengan reputasinya sebagai Stifler di American Pie dan sederet film teen comedy lainnya , nampaknya agak sulit menanggapi karir akting Seann dengan serius ya 🙂

But it turns out, Goon (2011) is Seann’s best performance yet and one of the best drama-comedy i’ve seen in the last five years! 

Goon berkisah tentang Doug Glatt (Seann William Scott), pria yang selama hidupnya selalu merasa sebagai outcast. Berbeda dengan keluarganya yang memiliki latar belakang pendidikan/karir yang gemilang, satu-satunya yang unggul dari Doug hanyalah kekuatan fisiknya yang di atas rata-rata. Setelah bekerja serabutan sebagai bouncer di club setempat, ‘bakat’ Doug ditemukan secara tidak sengaja saat terlibat perkelahian di pertandingan hoki es.

Namun jangan salah, yang diangkat di film Goon ini bukanlah mengenai pertandingan hoki itu sendiri, namun ‘budaya’ kekerasan yang selalu terjadi hampir di setiap pertandingan x)))

‘You’re not here to play hockey, Glatt. You’re here to fight’

seann-william-scott-goon-image

Lanjutkan membaca Goon – review

Iklan

Beautiful Creatures – review

Digembar-gemborkan sebagai ‘pengganti Twi-lame’, saya awalnya agak pesimis waktu akan menonton film ini 8)). Apalagi sama-sama diangkat dari novel teen-lit, or as they try to call it: young adult genre.

Saya sebetulnya terkesan melihat trailernya yang justru mengingatkan saya pada film Stardust, apalagi dengan kehadiran bintang senior Jeremy Irons dan Emma Thompson. Beautiful Creatures sendiri menjual kisah fantasy-romance, dibuka dengan narasi dari sudut pandang Ethan Wate, seorang pemuda dari kota Gatlin (Alden Ehrenreich) yang seringkali bermimpi tentang gadis misterius. Di tengah hubungan on-off nya dengan Emily Asher (Zoey Deutch), datanglah siswi baru bernama Lena Duchannes (Alice Englert, sepintas mirip Emily Blunt muda) dari keluarga Ravenwood. Warga kota Gatlin digambarkan sangat konservatif, dan keluarga Ravenwood yang eksentrik dicap sebagai keturunan penyihir. Kehadiran Lena di sekolah bahkan ditentang habis-habisan oleh Mrs. Lincoln (Emma Thompson), tokoh masyarakat setempat. Namun itu tidak membuat rasa penasaran Ethan terhadap Lena pupus. Apakah Lena adalah gadis misterius di dalam mimpi Ethan?

Sepintas mungkin terdengar seperti plot teen-romance cheesy yang standar, tapi film ini SURPRISINGLY GOOD! 😀 Yang membuat Beautiful Creatures ini berbeda yaitu pengembangan karakter dan dialog-dialognya yang justru anti-klise dan sarat humor. Adegan perkenalan Ethan dan Lena pada 10 menit pertama film ini membuat saya terpingkal. Juga pada saat Ethan bertemu dengan paman Lena, Macon Ravenwood yang diperankan Jeremy Irons. 8)))

Lanjutkan membaca Beautiful Creatures – review

For A Good Time, Call … – review

GoodTime3

Saya agak meremehkan film ini awalnya, karena film chick flick-comedy itu agak tricky, kalau gak shallow atau garing banget, ya berlebihan kayak Bridemaids. (and i’m not a fan of Bridemaids). Namun ternyata kedua bintang ‘For A Good Time, Call’ yang juga bertindak sebagai penulis dan eksekutif produser ini resumenya cukup menjanjikan. Saya cukup familiar dengan wajah Ari Graynor, yang berperan sebagai si pirang pemabuk di Nick & Norah Infinite Playlist, pemain roller derby Eva Destruction di Whip It, juga peran serupa-tapi-tak-sama-nya di Celeste & Jesse Forever dan 10 Years.

Sedangkan saya juga baru tahu Laurie Miller adalah istri dari Seth Rogen. The comedy cue is obvious 😀 Iapun sempat muncul di Superbad, Zack & Miri Make A Porno & 50/50. Jadi tidak heran juga ya yang main di film ini rata-rata dari circle yang itu-itu lagi.

So, back to the movie, kurang lebih plotnya mengingatkan saya akan seri 2 Broke Girls; dua orang wanita yang sifatnya sangat berlawanan terpaksa hidup bersama karena sama-sama membutuhkan. Satu-satunya kesamaan mereka adalah memiliki a mutual-gay-bestfriend, Jesse yang diperankan Justin Long. Nampaknya Justin Long memang luwes sekali ya memerankan gay, seperti perannya di Zack & Miri 8)))).

GoodTime1

Komplit sudah kesialan Lauren (Laurie Miller), yang baru saja dicampakkan kekasihnya, terpaksa pindah dan berbagi apartemen dengan Katie (Ari Graynor) yang dibencinya, sampai akhirnya ia mendadak dipecat dari pekerjaannya. Situasi finansial tak kunjung membaik dan Lauren terlalu malu untuk minta tolong pada orangtuanya yang kaya raya, hingga akhirnya ia mendapati Katie yang melakukan pekerjaan sampingan berupa layanan phone-sex. Dari sinilah Lauren yang memang berbakat bisnis dan Katie yang serampangan dan ceplas-ceplos akhirnya ‘berdamai’ dan mengembangkan ide untuk membangun jaringan usaha phone-sexnya sendiri: 1-877-MMM-HMMM.

GoodTime4

Yang bikin film ini lucu banget? their raunchy-hilarious dialogues & berbagai upaya maksimal Katie & Lauren dalam ‘menghibur’ pelanggannya yang juga tidak kalah random dan aneh — termasuk cameo super konyol Seth Rogen dan Kevin Smith 8)))) If you enjoyed Zack & Miri Make a Porno, you’ll definitely enjoy this one.

So, for a good time, check this quirky (and dirty) comedy out! 7/10

Safety Not Guaranteed – review

Tahun lalu, ada beberapa film bertemakan coming of age berbalut romansa yang beredar di bursa festival dan meninggalkan banyak review positif seperti Ruby Sparks dan The Perks of Being a Wallflower. Namun untuk saya, Safety Not Guaranteed ini juaranya. Mungkin tokoh utama yang diperankan Aubrey Plaza terlalu tua ya untuk masuk kategori ‘coming of age’  :p tapi toh film yang diputar di Sundance Film Festival 2012 ini mengisahkan tentang pencarian jati diri. Ide ceritanya sendiri sebetulnya sangat sederhana namun berhasil dikemas dengan begitu mengesankan.

SNG - 1

Berawal dari sebuah iklan baris milik Kenneth Calloway (Mark Duplass) di sebuah surat kabar yang mencari teman seperjalanan untuk time-travel, seorang penulis dan dua orang mahasiswa/i magang di majalah Seattle ditugaskan untuk membuat berita investigasi terkait iklan tersebut.  Singkatnya, Darius Britt (Aubrey Plaza) si anak magang ditugaskan untuk menyelidiki Kenneth lebih jauh dengan berpura-pura menjawab iklan tersebut. Kepribadian Kenneth yang introvert dan paranoid sempat membuat banyak orang berpikir bahwa ia hanya orang gila.

SNG 2

Darius: [referring to Kenneth] What makes you think there’s something wrong with him? 
Jeff: Because he thinks he can go back in time. 
Darius: Was there something wrong with Einstein or David Bowie?

Namun setelah menghabiskan beberapa waktu bersama, Darius mulai menaruh simpati pada Kenneth. Untuk plot yang terakhir ini mudah ditebak, memang. Tapi tetap membuat penasaran, khususnya pada will they or won’t they time travel? x) Saya sendiri suka endingnya, walaupun beberapa opini di luar sana menganggap it’s an easy way out, tapi menurut saya ending yang dibuat sang penulis Derek Connolly truly defines the genre itself. Romance sci-fi played out well! 

Aubrey Plaza di sini sungguh jenaka! –in her own, straightface way. Apalagi pada adegan perkenalan pertama dengan Kenneth di supermarket 😀 Penokohan Darius sebagai ‘tokoh utama’ dan Kenneth sebagai ‘interest object’ ini cukup menyegarkan, karena biasanya pada film-film seperti ini, tokoh lelaki-lah yang jadi tokoh utama (500 Days of Summer, Ruby Sparks, etc).

SNG 3

A heartfelt quote about companionship:

Kenneth: To go it alone or to go with a partner. When you choose a partner you have to have compromises and sacrifices, but it’s a price you pay. Do i want to follow my every whim and desire as I make my way through time and space, absolutely. But at the end of the day do I need someone when I’m doubting myself and I’m insecure and my heart’s failing me? Do I need someone who, when the heat gets hot, has my back? 
Darius: So, do you? 
Kenneth: I do.

Bosan menonton film romantis yang begitu-begitu saja? film ini bisa jadi pilihan, no safety guaranteed, just total awesomeness! 8/10

Musical History of Wooing Men & Women

Collective Cadenza

I guess people don’t ‘woo’ each other the way they used too anymore. As the caption on the second video, ‘after 1996 it’s all going…downhill’ 8))))

Collective Cadenza (cdza) is a group of NYC’s finest virtuoso performers who make musical video experiments. Check out their other super-cool videos, too! 😀

Musical History of Wooing Women

Musical History of Wooing Men

The Artist – review

Yes, it’s the silent film that simply wowed every cinema audience in this digital era. Michael Hanazavicius, sang sutradara, rupanya tertantang untuk menyajikan format tontonan klasik ini menanggapi  fenomena penonton bioskop yang kini lebih suka menatap layar telepon selularnya daripada memperhatikan film yang sedang diputar. Dengan kembali ke film bisu dan meniadakan fitur audio, mau tidak mau penonton harus fokus pada layar untuk dapat memahami jalan cerita.  Ah! How true 😀

Mengambil setting tahun 1927, Hanazavicius  juga nampaknya ‘sengaja’ menerjemahkan premis tersebut  ke dalam kegundahan seorang aktor film bisu yang tergeser kemajuan zaman. George Valentine (Jean Dujardin) adalah seorang aktor tampan nan perlente yang cukup ternama di zamannya. Semua film (bisu, tentu saja) selalu mencetak hit dan ia juga digilai banyak penggemar wanita. Di sisi lain, ada Peppy Miller (Berenice Bejo), gadis muda berbakat yang sedang menapaki mimpinya untuk menjadi artis terkenal. Kesempatan kemudian mempertemukan mereka berdua, dan tidak terelakkan ada percikan ketertarikan antara George dan Peppy, walaupun George dikisahkan sudah beristri. Seiring kisah ini bergulir, jalan hidup mereka berdua akan berubah seketika, di tengah transisi dunia perfilman menuju film bersuara.

‘Dialogue is very efficient, but my belief is, to say the important things, you don’t use dialogue’  

(Michael Hanazavicus)

Lanjutkan membaca The Artist – review

50/50 – review

Nampaknya karena Joseph Gordon Levitt memang dianugerahi wajah yang melas, ia cocok sekali memerankan peran tokoh teraniaya macam Cameron James di 10 Things I Hate About You, Tom Hansen di 500 Days of Summer, atau seperti perannya sebagai Adam di film 50/50 ini. Kecuali tentunya saat ia mendobrak itu semua lewat Hesher (2010) :p. Well anyway, back to 50/50, Adam adalah pemuda twenty-something biasa, bekerja sebagai produser di sebuah stasiun radio dan memiliki pacar cantik yang tinggal bersamanya. Dunianya seketika jungkir balik saat ia divonis dokter mengidap sebuah kanker tulang belakang yang langka. Tentunya bukan kabar yang ingin didengar seseorang di saat usianya baru saja 27 tahun.

Adam: A tumor? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: Me? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: That doesn’t make any sense though. I mean… I don’t smoke, I don’t drink… I recycle…

Untuk fim dengan tema kanker, plotnya cukup mudah dicerna, tidak semelankolis Dying Young (1991) atau sedepresi Funny People (2009). Namun ada benang merah yang menghubungkan 50/50 dengan Funny People, yakni sama-sama dibintangi Seth Rogen. Disini Seth Rogen berperan sebagai Kyle, sahabat Adam yang ceplas-ceplos. (well, Seth Rogen is being Seth Rogen indeed 😀). 50/50 sendiri adalah angka presentasi kesembuhan Adam yang diprediksi oleh dokter.  Keistimewaan kisah 50/50 ini memang terletak pada kesederhanaannya. Seolah menyampaikan that shit does just happen sometimes and it doesn’t discriminate, even to a guy as decent, as mild, as good as Adam. Adam kini menjalani kesehariannya dengan rangkaian kemoterapi, berkenalan dengan pasien kanker lain, juga sesi terapi dengan psikiater kikuk Katherine (Anna Kendrick). Ia pun harus menghadapi kepanikan sang ibu (Anjelica Huston, in one of her less-scary gesture here :D) dan the girlfriend we’d all love to hate, Rachael (Bryce Dallas Howard, yang nampaknya mulai menapaki spesialis peran antagonis sejak akting gemilangnya di The Help :D). Seiring waktu dan penyakit yang kian menggerogoti, makin sulit bagi Adam untuk tetap bersikap positif.

Lanjutkan membaca 50/50 – review