Arsip Tag: art cinema

What They Don’t Talk When They Talk About Love – review

Setelah berhasil menarik perhatian saya lewat film ‘Fiksi’ (2008), kali ini saya kembali dibuat penasaran untuk menyaksikan karya keduanya Mouly Surya, ‘What They Don’t Talk When They Talk About Love’ (atau disingkat ‘Don’t Talk Love’) pada acara ARTE festival akhir pekan lalu. Jika di film pertama Mouly mengeksplorasi genre suspense-thriller, maka pada film yang juga debut di Festival Film Sundance 2013 ini mengangkat tema cinta dengan pendekatan yang begitu unik dan menyentuh.

Cinta di masa remaja mungkin tema yang terdengar biasa saja. Namun saat cinta saat dibahasakan oleh para remaja penyandang tuna netra dan tuna rungu, apa yang tak terucap justru memiliki makna jauh lebih besar dari apa yang biasa terucap. Kisah ‘Don’t Talk Love’ ini mengambil sudut pandang dari keseharian tiga tokoh utama; Diana (Karina Salim), Fitri (Ayushita) dan Edo (Nicholas Saputra) di sebuah asrama/sekolah luar biasa di Jakarta dan bagaimana masing-masing bergelut dengan perasaan cinta, dan perasaan ingin dicintai. Diana yang sedang melancarkan berbagai upaya untuk menarik perhatian teman sekelas yang ditaksirnya; Fitri yang genit dan selalu dianggap lebih ‘dewasa’ dari teman-teman sebayanya, serta Edo, pemuda bisu punk-rocker yang membantu ibunya berjualan makanan di SLB dan diam-diam menaruh perhatian pada Fitri. Interaksi yang ditunjukkan antar tokoh ini sungguh menawan dan juga menggelitik. Saya sendiri suka sekali pada kisah Fitri dan Edo, yang ‘dipertemukan’ secara tidak sengaja oleh legenda hantu dokter yang ada di sekolah tersebut. Eits, hantu? Tenang saja, ini tidak mendadak jadi horor, kok. Hantu dokter di sini hanya mitos pendukung cerita 😀

They Dont Talk.2

Lanjutkan membaca What They Don’t Talk When They Talk About Love – review

The Artist – review

Yes, it’s the silent film that simply wowed every cinema audience in this digital era. Michael Hanazavicius, sang sutradara, rupanya tertantang untuk menyajikan format tontonan klasik ini menanggapi  fenomena penonton bioskop yang kini lebih suka menatap layar telepon selularnya daripada memperhatikan film yang sedang diputar. Dengan kembali ke film bisu dan meniadakan fitur audio, mau tidak mau penonton harus fokus pada layar untuk dapat memahami jalan cerita.  Ah! How true 😀

Mengambil setting tahun 1927, Hanazavicius  juga nampaknya ‘sengaja’ menerjemahkan premis tersebut  ke dalam kegundahan seorang aktor film bisu yang tergeser kemajuan zaman. George Valentine (Jean Dujardin) adalah seorang aktor tampan nan perlente yang cukup ternama di zamannya. Semua film (bisu, tentu saja) selalu mencetak hit dan ia juga digilai banyak penggemar wanita. Di sisi lain, ada Peppy Miller (Berenice Bejo), gadis muda berbakat yang sedang menapaki mimpinya untuk menjadi artis terkenal. Kesempatan kemudian mempertemukan mereka berdua, dan tidak terelakkan ada percikan ketertarikan antara George dan Peppy, walaupun George dikisahkan sudah beristri. Seiring kisah ini bergulir, jalan hidup mereka berdua akan berubah seketika, di tengah transisi dunia perfilman menuju film bersuara.

‘Dialogue is very efficient, but my belief is, to say the important things, you don’t use dialogue’  

(Michael Hanazavicus)

Lanjutkan membaca The Artist – review

A Single Man – review

Tidak hanya disegani di bidang fashion, ternyata mantan creative director brand raksasa Gucci dan Yves Saint Laurent – Tom Ford, telah menunjukkan kepiawaian dalam penyutradaraan perdananya di film ‘A Single Man’ (2009). Kisah yg diangkat dari novel berjudul sama ini menuturkan tentang pergolakan batin seorang Professor George Falcon (Colin Firth) yg baru saja ditinggal mati partner hidupnya selama 16 tahun, Jim (Matthew Goode) karena kecelakaan mobil saat liburan. Belum lagi hilang rasa syoknya, George mesti pasrah saat keluarga Jim secara tersirat tidak menginginkan kehadirannya di pemakaman. Hal tersebut mungkin dikarenakan setting film ini yg mengambil era 60an, dimana kaum gay nampaknya belum secara terbuka diterima oleh masyarakat banyak.

Merasa gamang, George memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Di hari yg ditentukan, ia mempersiapkan semua mulai dari meninggalkan catatan dan gaji terakhir pengurus rumahnya, mengurus deposit box di bank, merapihkan rumahnya hingga mengatur tata letak bagaimana ia akan mati. Di luar itu, ia memulai harinya seperti biasa –mengajar di Universitas. Sepanjang hari itulah yg perlahan lahan menentukan sikap akhir George terhadap hidupnya sendiri. Pertemuan George dengan beberapa orang –Charley (very lovely Julianne Moore) teman lamanya, Kenny Potter (Nicholas Hoult) siswanya yg diam-diam tertarik pada kehidupan introvert sang dosen, Carlos seorang imigran Spanyol yg secara random dikenalnya di jalan, memberi ‘warna’nya masing-masing pada ‘hari terakhir’ George.

Sejak scene pertama, A Single Man sudah menyajikan sinematografi yg begitu memikat dan konsisten sampai akhir film. Tone warna yg digunakan berubah-rubah tergantung suasana hati George. Visual saat adegan flashback George dan Jim misalnya, disajikan dalam palet monokrom namun ketika kembali ke kehidupan nyata maka berbaur dengan warna-warna sepia khas 60an. Mungkin inilah andil dari mata seorang desainer, dimana segala aspek estetika dalam suatu adegan betul-betul dikerjakan secara maksimal. It was like watching a photography in motion, literally! Belum lagi adegan-adegan slow motion yg memang semakin menonjolkan detail yg memukau.

Menuai banyak pujian dari kritikus, film ini pun melenggang dengan sukses dari satu penghargaan ke penghargaan lain, di antaranya nominasi Golden Lion dan Queer Lion di 66th Venice Film Festival 2009. Colin Firth dengan penampilan apiknya juga dianugerahi Aktor Terbaik di BAFTA Awards 2010, sedangkan di Oscar 2010 hanya sampai nominasi. And Julianne Moore gives one of her best performance ever, here. Bagi yg mengikuti serial Inggris ‘Skins’, tentunya sudah tidak asing pada aktor muda pendatang baru Nicholas Hoult, dimana wajah innocentnya sungguh pas memerankan sosok Kenny.

‘A Single Man’ is a well-delivered drama, both emotionally and visually stunning  8/10

George: I always used to tell him that only fools could possibly escape the simple truth that now isn’t simply now: it’s a cold reminder. One day later than yesterday, one year later than last year, and that sooner or later it will come.

George: [ voiceover] A few times in my life I’ve had moments of absolute clarity, when for a few brief seconds the silence drowns out the noise and I can feel rather than think, and things seem so sharp and the world seems so fresh. I can never make these moments last. I cling to them, but like everything, they fade. I have lived my life on these moments. They pull me back to the present, and I realize that everything is exactly the way it was meant to be.

George: For the first time in my life I can’t see my future. Everyday goes by in a haze, but today I have decided will be different.

The Imaginarium of Dr. Parnassus – review

This is the very last work of the late-talented young actor Heath Ledger. Sesuai dengan tema magis dalam film ini, sungguh surreal rasanya melihat sosok hidupnya disini :).

Terry Gilliam, sutradara yg dikenal dengan sentuhan surealisnya mengangkat kisah Dr. Parnassus (Christopher Plummer) dan dunia imajinasinya yg mengagumkan. Melalui teater keliling  bersama putrinya Valentina (Lily Cole), dan kedua asisten setianya Anton & Percy, mereka menawarkan pengalaman menelusuri impian secara kasat mata bagi para sukarelawan yg berminat.  Sayangnya bisnis mereka ini tidak dapat dikatakan sukses karena orang cenderung tidak mengacuhkan mereka. Dr. Parnassus sesungguhnya immortal, keabadian ini ia peroleh lewat taruhan ribuan tahun yg lalu yg dimenangkannya dari the Devil himself, Mr. Nick (Tom Waits).  Namun bukan setan namanya jika tidak licik, Mr. Nick memiliki rencananya sendiri..khususnya untuk Valentina.

Rupanya, Dr. Parnassus melakukan dua kali taruhan. Kesepakatan kedua dilakukan saat ia menukar keabadiannya dengan ‘youth‘ demi mendapatkan cinta ibu Valentina saat itu, dengan imbalan jika ia memiliki anak di kemudian hari, harus diserahkan pada Mr. Nick jika usianya sudah mencapai 16 tahun. Maka itulah Dr. Parnassus mulai kalang kabut karena ulang tahun Valentina yg ke -16 hanya tinggal hitungan hari.Tentu saja putrinya tidak tahu menahu mengenai hal ini.

Di tengah-tengah kepanikan tersebut, tiba-tiba Tony (Heath Ledger, Johnny Depp, Jude Law, Collin Farrell) muncul dalam kehidupan mereka. Pria yg mengaku amnesia ini diselamatkan Anton saat ditemukan tergantung di  bawah jembatan. Dr. Parnassus percaya bahwa Tony ‘dikirim’ pada mereka untuk mengeluarkan mereka dari jerat muslihat Mr. Nick. Sejak kehadiran Tony yg tampan dan pintar bicara, teater mereka mulai didatangi banyak pengunjung. Karena Mr. Nick sempat merubah kesepakatan yakni siapapun yg berhasil mengoleksi 5 jiwa terlebih dahulu akan memperolehValentina, tentu ini kabar gembira bagi Dr. Parnassus. Kurang lebih aturan mainnya seperti ini: Siapapun yg masuk ke  dunia imaginariumnya, pada akhir perjalanan akan menghadapi dua jalan yg mesti dipilih. Jika memilih jalan yg benar, jiwanya bebas. Jika salah, maka sang setan sudah menunggu untuk mengambil ‘hak’nya.

Apakah Tony betul-betul sang penyelamat seperti yg diperkirakan Dr. Parnassus? Lalu kenapa Anton merasa ada yg janggal dengan masa lalu yg selalu ditutup-tutupi Tony? Mungkinkah ia hanyalah jebakan dari Mr.Nick? Berhasilkah mereka membebaskan Valentina? Kurang lebih begitulah pertanyaan pertanyaan yg membentuk plot dari The Imaginarium of Dr. Parnassus 😀

Di luar dugaan, jalan cerita film ini tidak serumit yg diperkirakan (karena Terry Gilliam terkenal akan absurditasnya) –which is of course, a good thing :p . Alasan utama menyaksikan film ini tentu karena ingin memanjakan mata dengan efek visualnya. Dan memang terbayar, karena 10 menit pertama sudah sangat amat mencengangkan :D.  Sayang sekali tidak sempat menyaksikan film ini di bioskop karena efek euphoria visualnya akan sangat berlipat ganda :D. Lily Cole, walaupun basic-nya adalah seorang model- rupanya dapat berakting dengan baik, dan wajah pixie-nya sangat cocok untuk dikasting dalam kisah penuh keajaiban seperti ini.  Untuk cerita dan alur, i’ll give 7/10. But of course my highest appreciation 9/10 goes to the enchanting visual :D.

Dr. Parnassus: [Has just seen the Devil] He’s come to collect.
[after a pause]
Dr. Parnassus: He’s early.

Tony: Can you put a price on your dreams?


Tony: If Doctor Parnassus can really control people’s mind, why isn’t he ruling the world,then? Eh? Why bother with this little… side show?
Anton: ‘Side show’? He don’t… he don’t want to rule the world. He wants the world to rule itself!

Thirst – review

Dump that sappy stereotype of vampire love story ala Twi-lame, Oldboy creator Park-Chan wook worked his eerie touch on the theme, and once again raising the bar of controversy.  The poster was banned by Korea’s gov for picturing a priest on an obscene pose with a woman. But it didn’t stop this provoking dark tale from winning the Cannes International Film Festival’s Jury Prize 2009.

As usual, Park-Chan wook executed every pictures beautifully. The graphic gore and sex scene translated the numbness, madness and irony into an intense delirium . And yes, there will be blood. The only flaw was the pace at some parts tend to be too slow.  But i give 8/10 for the exquisite cinematography & delightful grasp of mind-bending horror 🙂