Arsip Kategori: movie reviews

The Canal – review

Saya cukup senang karena sejak era Paranormal Activity, genre supernatural horor kembali mendapat perhatian dan menghasilkan film-film berkualitas semacam Insidious, Sinister, The Conjuring hingga Oculus. The Canal, film horor asal Irlandia yang premiere di Tribeca Film Festival 2014 juga menurut saya termasuk di antara film supernatural horor/psychological thriller terbaik, setidaknya untuk tahun ini 😀
Karena saya sangat menyukai Sinister (2012), tidak sulit bagi saya untuk juga menyukai The Canal yang sedikit banyak memiliki ‘feel’ yang sama. Berkisah seputar David (Rupert Evans) dan keluarga kecilnya yang tinggal di sebuah rumah yang kemudian diketahui menyimpan kejadian tragis di masa lalu. Saat kehidupan rumah tangganya mulai goyah dan istrinya kemudian menghilang, David berusaha meyakinkan orang-orang di sekelilingnya, termasuk dirinya sendiri bahwa ada hal misterius lain yang menyebabkan semua kejadian aneh di sekitarnya.

The Canal 2

Lanjutkan membaca The Canal – review

Absentia – review

Film karya Matt Flanagan ini pernah ditayangkan pada festival INAFFF di tahun yang sama, namun sayangnya saya tidak sempat menonton. Justru saya lebih dulu menyaksikan karya terbaru Flanagan yang juga menuai pujian kritikus yaitu Oculus (2013). Dan saya suka keduanya! 😀 Absentia is one effective potion of a gripping horror!
Saya langsung bisa merasakan signature-style Matt Flanagan yang diterapkan pada kedua filmnya ini; cenderung slow-burn horror, lebih bermain ambience, kental dengan tema supernatural, dan special FX yang terbilang cukup sederhana. Pada halaman Kickstarter Absentia (yep, they did crowdfunding on this one!) memang dijelaskan bahwa misi Flanagan dan tim adalah mencoba membangkitkan genre horor yang lebih berfokus pada rasa ‘takut’ dan tidak melulu bergantung pada gore dan tipikal jumpscares yang mudah ditebak.

Absentia2 Lanjutkan membaca Absentia – review

I Am a Ghost – review

Pertama kali saya mendengar tentang film I Am a Ghost sewaktu membaca berita tentang Bram Stoker International Film Festival, di mana film ini memenangkan Best Picture. Hal berikutnya yang mendapatkan perhatian saya adalah posternya yang menurut saya cukup keren, minimalis dengan warna hijau turquoise, tidak seperti umumnya template poster film ‘horor’ yang seringkali mengandalkan warna muram. Walau judulnya terkesan generik, tapi  sosok arwah perempuan dengan mata kosong yang ada di poster ini bagi saya sudah cukup mengusik rasa penasaran XD.

Lanjutkan membaca I Am a Ghost – review

Triple Play: Cheap Thrills (2014), 13 Sins (2014), Would You Rather (2012)

Halo! Long time no see, haha. Sudah lama sekali tidak menulis ulasan film, padahal beberapa bulan terakhir banyak menonton film-film yang cukup menarik X’D. Walau sedikit terlambat, tapi saya ingin menulis tentang  tidak hanya satu tapi tiga film sekaligus! Jadi ceritanya beberapa waktu lalu saya menemukan film yang secara kebetulan mengangkat tema yang serupa: keputusasaan, keserakahan dan psychological terror!.
Akan saya bahas sesuai urutan saya menonton. Let’s start!
Lanjutkan membaca Triple Play: Cheap Thrills (2014), 13 Sins (2014), Would You Rather (2012)

The Raid 2 Berandal – review

The most anticipated sequel of this year has finally arrived! Tidak terasa sudah 3 tahun lamanya sejak sebuah film low-budget arahan sutradara asal Welsh, Gareth Huw Evans tiba-tiba menggebrak kancah perfilman dunia dan membentuk benchmark baru untuk film aksi. Saya (lagi-lagi) beruntung berkesempatan untuk diundang ke advanced screening hingga dua kali sebelum filmnya resmi dirilis di sini :D. Yang pertama adalah saat saya dan teman-teman ScreenSavers menjadi media partner event ARTE Film Festival di mana The Raid 2 Berandal diputar sebagai opening film, lalu saya kembali diundang untuk menghadiri press conference resmi yang disambung dengan screening. The best part? Both of them UNRATED version \m/.

the_raid_2_berandal

Lanjutkan membaca The Raid 2 Berandal – review

Pieta (2012) – review

Pieta (bahasa italia untuk pity, belas kasihan) dalam literatur dan seni merupakan karya yang menyimbolkan sosok Yesus setelah penyaliban dalam pangkuan Bunda Maria. Rasa duka/belas kasih seorang ‘ibu’ atas penebusan dosa ‘anak’nya, kurang lebih itulah yang diintrepretasikan film Pieta karya Kim Ki-duk ini. Untuk tema hubungan ibu dan anak mungkin film Mother (Ma-deo) (2009) karya Bong Joon-ho lebih populer, namun saya sendiri lebih suka Pieta walau plotnya sendiri justru jauh lebih sederhana 😀

Lanjutkan membaca Pieta (2012) – review

Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review

There’s always several movies that left an uneasy feeling, stir us up emotionally  especially when you’re a woman. Beberapa film ini misalnya seperti North Country (2005), An American Crime (2007), Changeling (2008), The Duchess (2008), hingga I Spit on Your Grave (1978/2010). Nah, Bedevilled ini termasuk salah satunya. Film Korea yang jadi jawara Puchon International Film Festival tahun 2010 ini menyoroti sudut pandang dari dua wanita dengan nasib dan kehidupan yang bertolak belakang, Hae-won (Ji Sung-won) dan Kim Bok-nam (Seo Young-hee). Sama-sama besar di kepulauan terpencil Mudo di selatan Korea, Hae-won kemudian memutuskan untuk mengejar karir dan mimpi di ibukota Seoul. Di awal film ditunjukkan bahwa hidup Hae-won tidaklah seindah yang dibayangkan. Tekanan dari persoalan kehidupan di kota besar mulai membuatnya frustrasi. Sebuah surat lama dari Kim Bok-nam, teman kecilnya, mendorongnya untuk kembali sejenak ke Mudo untuk menjernihkan pikiran.

Lanjutkan membaca Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) (2010) – review