iamaghost banner

I Am a Ghost – review

Pertama kali saya mendengar tentang film I Am a Ghost sewaktu membaca berita tentang Bram Stoker International Film Festival, di mana film ini memenangkan Best Picture. Hal berikutnya yang mendapatkan perhatian saya adalah posternya yang menurut saya cukup keren, minimalis dengan warna hijau turquoise, tidak seperti umumnya template poster film ‘horor’ yang seringkali mengandalkan warna muram. Walau judulnya terkesan generik, tapi  sosok arwah perempuan dengan mata kosong yang ada di poster ini bagi saya sudah cukup mengusik rasa penasaran😄.

Judulnya sendiri sebetulnya sudah menguak sebagian besar plotnya. Sosok perempuan bermata kosong itu memang hantu, dan film ini menyoroti kegelisahan arwah penasaran bernama Emily (Anna Ishida). Emily hidup di sebuah rumah bergaya Victorian dan setiap harinya menjalani rutinitas tertentu, tanpa memedulikan waktu maupun kesendiriannya. Hingga ia  mendengar suara-suara misterius di sebuah ruangan yang kemudian menghancurkan konsep realita yang selama ini dijalaninya.

04-770x433

Plot ini tentu sudah bukan sesuatu hal yang baru jika kita sudah menyaksikan The Others (2001) tapi jangan kecewa dulu, karena cerita tidak berhenti sampai di situ. Mungkin harus saya wanti-wanti terlebih dahulu kalau I Am a Ghost memang bukan film horor konvensional yang akan menakuti-nakuti dengan adegan jumpscares, jadi jika kamu berharap film ini seperti The Conjuring atau Insidious, mungkin kamu akan kecewa. Tapi jika kamu tertarik pada slow-burn horror yang lebih mengedepankan permainan atmospheric, hal supernatural, psychological drama dan teori afterlife, maka I Am a Ghost akan jadi bahan diskusi yang cukup menarik.
I Am a Ghost juga bisa dibilang one woman show,  dari total durasi 76 menit, most of the time kita hanya akan ditemani Emily dan suara-suara yang menemaninya.

iamaghost
Lalu aspek horornya dari mana? Let me tell you, the first 2.5 minutes opening scenes (which only contain still images) sent an instant shivers down my spine. Don’t even get me started with the last 15 minutes. Sutradara H.P. Mendoza dengan cerdas bermain-main dengan low frequency audio dan visual ‘kesunyian’ rumah besar tersebut untuk menciptakan claustrophobic ambience yang menyesakkan sekaligus membuat bulu kuduk berdiri. Padahal settingnya selalu siang hari, lho :’)). Yang menarik secara visual, Mendoza juga menggunakan framing dengan round corners (saya tidak tahu istilah teknis tepatnya apa, hehe) dan sesekali, split screen untuk memberikan alternatif POV. Banyaknya adegan repetitif terkait keseharian rutinitas Emily mungkin akan terasa membosankan bagi beberapa orang, tapi menurut saya editing Mendoza sudah cukup proporsional.  Alih-alih bosan, saya malah justru semakin penasaran😄. Ada juga satu scene yang menurut saya sederhana tapi impactful, yang tentunya tidak bisa saya ceritakan di sini, karena merupakan bagian dari konklusi, hehe.

IAmaGhost1
Pemilihan aktris keturunan Jepang juga menurut saya memiliki andil dalam membangun ambience keseluruhan, karena sosok perempuan berambut panjang hitam dan bergaun putih tentunya tidak akan memberi kesan seram jika diperankan bule, kan? :)). Adapun yang sedikit janggal untuk saya yaitu: sebagai sosok yang diduga hidup di era victorian (atau civil war?) berdasarkan kostumnya, cara bicara dan kosakata yang digunakan Emily agak terlalu ‘modern’. Tapi kekurangan kecil itu buat saya masih termaafkan dan tidak mengurangi rasa suka saya pada ide film ini.

Jika kita jeli, di sepanjang film tersebar berbagai simbol yang sebetulnya memberi petunjuk lebih jauh siapa Emily sebenarnya. Awal saya menyadari adanya beberapa simbol tersebut memang agak membingungkan karena terasa out-of-place, tapi setelah membaca berbagai interpretasi film ini di official production blog I Am a Ghost (SPOILER ALERT), akhirnya saya bisa (sedikit) memahaminya haha. Bahkan membuat saya ingin menonton ulang untuk analisa lebih lanjut :)).

Overall, untuk ukuran film low budget (US$10,000 saja, didukung crowdfunding Kickstarter),  I Am a Ghost is a cleverly crafted experimental horror gem; spooky yet thought-provoking.
Saya memutuskan tidak menyertakan trailer I Am a Ghost di postingan ini, karena menurut saya the less you know  the better. So skip the trailer and enjoy the ghastly ride!

7.5/10

One thought on “I Am a Ghost – review”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s