header tp

Triple Play: Cheap Thrills (2014), 13 Sins (2014), Would You Rather (2012)

Halo! Long time no see, haha. Sudah lama sekali tidak menulis ulasan film, padahal beberapa bulan terakhir banyak menonton film-film yang cukup menarik X’D. Walau sedikit terlambat, tapi saya ingin menulis tentang  tidak hanya satu tapi tiga film sekaligus! Jadi ceritanya beberapa waktu lalu saya menemukan film yang secara kebetulan mengangkat tema yang serupa: keputusasaan, keserakahan dan psychological terror!.
Akan saya bahas sesuai urutan saya menonton. Let’s start!

Cheap Thrills (2014)

CheapThrills_Final-2

Saya mendengar ‘huru-hara’ film ini lewat kicauan (dan pujian) akun Twitter sutradara Gareth Evans dan media film lainnya saat film tersebut tayang perdana di festival SXSW tahun 2013. Plot dan eksekusi film yang sarat dengan unsur black comedy ini sebetulnya sangat sederhana, bahkan paling simple dibanding kedua film yang akan saya bahas setelah ini.
Berkisah tentang keputusasaan Craig (Pat Healy), seorang mekanik yang baru saja dipecat dan terancam kehilangan tempat tinggal. Enggan pulang menghadapi keluarganya, ia menghibur diri di bar dan berjumpa dengan Vince (Ethan Embry),  sahabat lamanya, dan berkenalan dengan pasangan eksentrik Colin dan Violet (David Koechner dan Sara Paxton). Colin kemudian menantang Craig dan Vince untuk mengikuti permainan sederhana berhadiah uang tunai. Yang awalnya terlihat seperti secercah jalan keluar untuk masalah finansial Craig, ternyata membuka pintu ke sisi paling gelap manusia yang mau tidak mau harus Craig hadapi.
I swear as simple as it may sound, but Cheap Thrills has successfully delivered a gut-punching thriller that keeps on escalating and still manage to make us giggle through the process. I should warn you that things WILL get violent, in every practical way you could imagine XD. Tantangan di sini mungkin tidak seberapa dibanding film sejenis SAW, misalnya. Tapi shocking effect-nya justru memang datang dari reaksi protagonis(?)-nya. Dengan total karakter utama yang hanya empat orang –dan Sara Paxton bahkan lebih banyak mesem-mesem daripada mengucapkan dialog :))–juga cukup membantu penonton untuk tetap fokus dan rooting for the characters.

Satu lagi tips: jangan ditonton sambil makan ya. Pokoknya jangan 8))

cheapT 1What doesn’t kill you, makes you richer

 13 Sins (2014)

13-Sins-2014

Diadaptasi dari film psychological thriller Thailand tahun 2006, film yang sama-sama dirilis di SXSW festival ini dibuka dengan secuplik appetizer tentang apa yang akan kita temui nanti. Kali ini kita diajak bersimpati pada Elliot Brindle (Mark Webber) yang kehilangan pekerjaan di saat banyak orang bergantung padanya; pacarnya yang sedang hamil, ayahnya yang rasis, dan terutama Shelby, adik semata wayangnya yang terbelakang secara mental dan butuh perawatan yang cukup memakan biaya. Saat ia tiba-tiba menerima telepon misterius yang menawarkan US$ 1,000 untuk sebuah ‘tantangan’ sederhana, tentu Elliot menganggapnya hanya kelakar belaka. Namun saat uangnya betul-betul ditransfer, Elliot tidak hanya terkesima namun mulai ketakutan. Aturan permainan mengharuskan ia menyelesaikan 13 tantangan dengan resiko total uang yang telah dimenangkan di tiap babak akan hangus jika ia gagal menyelesaikan tantangan ataupun mengundurkan diri. Dan tentu saja tantangan yang diberikan tidak semudah membunuh lalat dengan telapak tangan😄.
Dengan formula yang sama, 13 Sins agak lemah dalam penuturan di beberapa bagian sehingga saya sempat agak bosan. Namun pada 1/3 bagian akhir pace-nya mulai naik dan mulai bermunculan adegan yang cukup membuat penggemar gore seperti saya bersorak :)). Adapun keistimewaan 13 Sins yaitu serunya melihat immediate response si karakter utama dalam skala situasi yang jauh lebih luas dibanding Cheap Thrills. Jika Cheap Thrills hanya melibatkan orang-orang di dalam ruangan itu saja, maka di 13 Sins Elliot dituntut harus nekat di waktu yang tidak terduga dan sekaligus pintar memutar otak agar tidak dicurigai orang-orang sekitarnya, termasuk sekumpulan polisi yang sedang patroli. Ah ya, ngomong-ngomong polisi, ada Ron Perlman yang berperan sebagai detektif yang menyelidiki kasus-kasus aneh serupa yang kemudian mengantarkannya pada Elliot. 13 Sins juga mengungkap twist di akhir yang cukup lumayan. Hanya saja jangan terlalu berharap ada penjelasan mengenai asal muasal siapa di balik permainan mematikan ini, hal itu tetap jadi misterius seperti halnya The Game (1997)😄

13 sins 1

Would You Rather (2012)
Screen shot 2014-08-14 at 10.13.36 AM
Jika kedua film sebelum ini dirilis pada saat yang sama, maka film ini sudah dirilis jauh lebih dulu, hanya kebetulan saja baru tertangkap radar saya sekarang x). Dibintangi Britanny Snow yang kita kenal lewat Pitch Perfect (2012), Would Your Rather menggunakan permainan bernama sama yang umum dimainkan di acara pesta.
Hampir serupa dengan 13 Sins, Would You Rather juga bercerita tentang Iris (Britanny Snow) yang sedang putus asa mencari biaya perawatan adiknya Raleigh yang mengidap leukimia. Kemalangan Iris baru saja dimulai saat Shepard Lambrick (Jeffrey Combs), seorang jutawan kenalan dokter adiknya, menawarkan pembiayaan penuh perawatan Raleigh asal Iris mau berpartisipasi pada suatu ‘kompetisi’ di sebuah jamuan makan yang dia adakan malam itu.

Screen shot 2014-08-14 at 2.44.37 PMWhatever you choose, you must act upon

Iris ternyata bukan satu-satunya tamu di jamuan makan malam tersebut, selain dirinya ada tujuh orang lainnya serta Julian (Robin Taylor), putra sang jutawan. Tidak ada yang menyangka kalau permainan sederhana yang diadakan di jamuan malam itu seketika berubah menjadi mimpi buruk.
Would Your Rather menggunakan satu setting yang konstan seperti Cheap Thrills, tapi dengan peserta yang jauh lebih banyak. Faktor pembeda dengan dua film sebelum ini mungkin karena lebih banyaknya interaksi antar tokoh dan metode penyiksaan yang walaupun repetitif tapi perlahan dans mematikan. Yep, the worst kind of methods.  Kita juga disuguhi banyak perbenturan moral antar karakter, antara mempertahankan rasa manusiawi mereka atau melakukan apa saja demi bertahan hidup. Would you rather electrocute her or electrocute yourself? Would you rather strike him with whipping staff or stab her? The way they played it, it’s not even about the prize money anymore.  Ini menyebabkan Would You Rather lebih kental porsi dramanya dibanding film lainnya. Dengan jumlah tokoh sebanyak ini sebetulnya character developmentnya bisa dibilang lemah, misalnya saja selain Iris tidak terlalu dijelaskan motivasi tokoh-tokoh lain yang juga hadir di situ. 

WYD 2

Selain Britanny Snow, publik juga mungkin lebih familiar dengan Sasha Grey (heaaaaa xD ) dan Robin Taylor yang baru-baru ini dicast sebagai Penguin di TV series Gotham yang akan tayang akhir tahun ini.

Overall, jika saya boleh memberi saran untuk urutan menonton ketiga film ini maka mulailah dari Would You Rather – 13 Sins – Cheap Thrills. Because we should save the best for last :)) Lagipula 13 Sins dan Cheap Thrills memiliki elemen dark humor yang serupa, dan akan memberi klimaks yang memuaskan setelah Would You Rather yang lebih ‘kalem’. Happy screaming!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s