Cover part 2

The Art Getaway: Sydney Biennale 2014 #AussieTrip (part 2)

Circular Quay morningSelamat pagi dari Circular Quay!

Hari kedua di Sydney, saya sudah bangun pagi-pagi sekali karena janjian dengan Muty yang juga sudah berangkat duluan ke Australia seminggu sebelumnya, untuk mengunjungi 19th Biennale of Sydney yang diadakan sepanjang Maret-Juni 2014. Ngomong-ngomong, #AussieTrip ini pertama kalinya saya solo-traveling😀 jadi agak deg-degan juga harus siap menjelajahi kota ini sendirian saat Molly tidak bisa menemani karena harus bekerja. Sempat panik karena pagi itu paket data smartphone saya mendadak mati, tidak ada wi-fi, Molly sudah pergi sejak pagi, dan saya lupa-lupa ingat rute bis mana yang harus diambil 8′))). Untung saja house-mate nya Molly masih ada jadi saya bisa menanyakan lagi rute maupun arah menuju halte terdekat, dengan membawa amunisi peta yang saya temukan di kamar Molly, hahaha. Setibanya di Circular Quay saya baru mendapat akses wi-fi di McDonalds, dan Muty baru mengabari kalau dia bangun kesiangan. Sial :)))  

OK back to Biennale, perhelatan seni tahunan ini venuenya tersebar di seluruh penjuru kota, dan pilihan kami jatuh pada Museum of Contemporary Art Australia dan Cockatoo Island karena lokasi keduanya dapat diakses via Circular Quay. Acara ini tentunya gratis, kami hanya perlu mengeluarkan biaya $7 untuk menyebrang ke Cockatoo Island menggunakan ferry.

MCA building and me MCA buildingYou Imagine What You Desire’, slogan Biennale of Sydney tahun ini

MCA - artwork mirror MCA artwork 1MCA artwork 3

MCA artwork 2The Quiet Shore, instalasi video still dari David Claerbout. Lantai dikondisikan untuk dapat memantulkan gambar yang sedang diputar sehingga menimbulkan ilusi cermin.
MCA artwork gravityInstalasi seni karya seniman Polandia, Hubert Czerepok,  yang terinspirasi dari dialog Joker di film The Dark Knight.

Karena pada minggu tersebut memang sedang libur panjang di Sydney (long weekend Paskah dan Anzac Memorial –semacam Hari Pahlawan, dan libur sekolah) sehingga Museum of Contemporary Art siang itu cukup ramai. Yang membuat saya cukup salut, sejak kemarin banyak sekali keluarga membawa anak-anaknya mengunjungi museum.  Dan jika saya perhatikan, para orangtua ini betul-betul membahas display museum/instalasi seni-nya bersama anak-anaknya, lho😀 Senang banget melihat apresiasi sejarah dan seni sudah dikenalkan sejak dini.

Puas berkeliling Museum of Contemporary Art, saya dan Muty menunggu ferry yang akan membawa kami menyebrang ke Cockatoo Island.
Ferry 1Ferry 5Yap, langit Sydney siang itu sedang jernih dan biru sekali❤

Cockatoo Island sendiri merupakan pulau terbesar yang terletak di tengah perairan Sydney Harbor dan dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dengan ferry. Pulau ini memiliki sejarah cukup panjang; pernah digunakan sebagai penjara, pabrik kapal hingga sekolah sepanjang abad ke-18. Tahun 1991 Cockatoo Island ditutup dan baru dibuka lagi tahun 2005 untuk festival, atraksi turis, event dan camping ground. Tahun 2010, pulau ini dinyatakan UNESCO sebagai World Heritage Site. Selengkapnya mengenai Cockatoo Island bisa dibaca di sini.

Screen shot 2014-06-06 at 1.45.12 PM

Cockatoo - welcome 2Setibanya di Cuckatoo Island, pengunjung disambut peta untuk petunjuk menyusuri Sydney Biennale 2014. Ada instalasi seni dari 33 seniman yang tersebar di pulau seluas 18 hektar ini. Seru, ya?😀
Kami harus menapaki tangga yang cukup tinggi untuk mencapai bagian upper island (di peta area berwarna ungu). Sampai di atas kaget sendiri menemukan ada area rumput yang terhampar luas dan beberapa bangunan yang cukup besar😄
Cockatoo - dock uphillCockatoo - comboCockatoo - craneCockatoo - hillCockatoo - camping groundBiarpun titelnya pulau penjara, namun nyatanya pulau ini luar biasa cantik! Terlihat betul bagaimana Cockatoo Island dirawat sedemikian rupa oleh Sydney Harbour Federation Trust, badan khusus preservasi bangunan/tanah bersejarah. Fasilitas umum seperti toilet, resto/bar, area anak-anak hingga camping ground tertata dengan rapi dan bersih. Kapan ya di kita bisa seperti ini? Huhuhu.

Cockatoo - uphill

Cockatoo - combo 2Cockatoo - combo 3Beberapa instalasi seni yang jadi favorit saya di Sydney Biennale ini antara lain ‘Interrogation’ (Ignas Krunglevicius) dan ‘Bush Power’ (Gerda Steiner dan Jorg Lenzlinger). ‘Interrogation’ mengambil medium video yang menampilkan transkrip interogasi pada kasus pembunuhan di Amerika Serikat pada tahun 2004. Walau hanya berupa tipografi dan tidak memakai satupun unsur suara manusia, namun backsound yang digunakan bikin merinding dan membuat suasana semakin intens :)). Sedangkan ‘Bush Power’ bisa dibilang instalasi paling menghibur, di mana beberapa perangkat gym dirakit sehingga terhubung dengan berbagai macam barang lainnya mulai dari ayunan, alat musik, hingga tengkorak yang menari X)).

Cockatoo - combo 4Beberapa momen yang berhasil saya dokumentasikan lewat video di Sydney Biennale 2014:

Waterfall comboInstalasi ‘I AM THE RIVER’ dari Eva Koch, berupa video air terjun setinggi 12 meter.

Cockatoo - google trainGoogle train alias ‘The Other Side’ dari Callum Norton. Kereta mini ini akan membawa penumpangnya melalui instalasi berupa suara, angin, asap dan cahaya di sepanjang terowongan yang berakhir di sisi lain tebing.

Ferry 4Karena terlalu asyik mengelilingi pulau, saya dan Muty hampir saja ketinggalan kapal ferry terakhir menuju mainland. Kru kapal di dermaga cuma senyum-senyum saja melihat kami yang sudah kehabisan nafas karena lari pontang-panting :))).
Perjuangan belum selesai sesampainya di Circular Quay karena kami harus segera ke Darling Harbour untuk menonton IMAX, sedangkan kami agak buta rute bis kesana. Akhirnya? Lagi-lagi jalan kaki :))

IMAX comboIMAX Sydney memang menjadi salah satu tujuan utama saya karena layar IMAX di sini adalah layar terbesar di dunia! Ternyata kami harus gigit jari karena voucher tiket yang sudah dibeli Muty sebelumnya ternyata tidak berlaku untuk film baru. Terpaksa deh, merogoh kocek lagi 8′)) Bersyukurlah yang di Indonesia, biaya nonton bioskop masih terjangkau. Di Sydney harga tiket bioskop sebesar $30-an, belum dengan minum dan cemilan😥.
Sayangnya, ada hal yang membuat sedikit kecewa. Layarnya memang luar biasa raksasa, namun kok rasanya format film yang diputar tidak sebesar layarnya sendiri. Karena penasaran, kami sempat bertanya pada petugas bioskop. Ternyata memang hanya film-film yang memang format IMAX (biasanya dokumenter) saja yang bisa dinikmati secara full screen. Hu-uh gak sahih deh nih icip-icip layar terbesarnya 8′)))

Sepulang dari IMAX kami diajak Molly untuk mencicipi Hurricane Grill yang terkenal akan ribsnya. Demi penghematan, satu porsi full rack seharga $42.90 kami share untuk berdua :)). Walaupun harga makanan di Australia memang cukup mahal, tapi biasanya diimbangi dengan porsi raksasa, so i’m not complaining x)

Hurricane RibsStill have three more days to go! Bring it on, Sydney😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s