Oxford street and me

Sights of Sydney #AussieTrip (part 1)

This might be long overdue, but writing a blog during post holiday blues is really a challenge, isn’t it? :)) So anyway, selain #SporeTrip saya awal tahun ini, jatah Personal Development Fund (PDF) dari kantor juga saya gunakan untuk membeli tiket PP ke Sydney, Australia. Karena salah satu syarat PDF untuk traveling adalah mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, maka kali ini saya menggunakan kesempatan ini untuk plesir perdana ke Australia!😀 Alasan lainnya adalah:
1) Konser John Mayer di Allphones Arena-Sydney, 26 April. Ini gara-gara @KartuPos merilis paket murmer yang langsung bikin kalap :)))
2) Mengunjungi sahabat saya semasa kuliah yang sedang bersekolah di Sydney.

Mengenai persiapannya, saya cukup deg-degan karena konon mengurus visa Australia agak rempong :)). Ah ya, untuk Australia, NZ dan UK kebetulan administrasi visa tidak lagi melalui kedutaan namun lewat badan yang memang ditunjuk oleh kedutaan, yaitu VFS Global.
Persyaratan selengkapnya untuk visa Australia bisa dilihat di:
http://www.indonesia.embassy.gov.au/jaktindonesian/Checklist_Visitor.html

Setelah riset dan tanya sana-sini, akhirnya saya hanya bisa berusaha melampirkan berbagai dokumen selengkap mungkin. Adapun beberapa hal yang menurut saya penting:
1) Upayakan menyertakan invitation letter jika memang kamu mengunjungi/tinggal bersama teman selama di Australia. Akan lebih baik lagi jika temanmu bisa melampirkan bukti tinggal seperti paspor dan visa, kartu pelajar, atau bahkan surat keterangan sewa flat dari landlordnya.
2) Jika kamu sudah bekerja, pastikan meminta surat keterangan dari kantor yang menyebutkan masa kerja kamu, slip gaji, surat cuti yang sudah disetujui dan kepastian kalau kamu akan kembali bekerja sepulangnya ke Indonesia. Saya sih sampai formulir potong pajak saja saya lampirkan :))
3) Fotokopi rekening bank. Nah ini dia yang sebetulnya bikin deg-degan :)) karena ada berbagai versi mengenai apakah nominal ini berpengaruh atau tidak. Ada yang bilang, minimal punya sejumlah AUS$ 100 x jumlah hari di sana, ada juga yang bilang minimal tabungannya sudah dua digit. Untuk amannya sih saya pinjam uang bokap dulu untuk mengisi rekening, daripada was-was :))

Setelah semua dokumen sudah diserahkan ke VFS, ternyata prosesnya cukup cepat dan sesuai prosedur, tepat 14 hari kerja saya mendapat notifikasi via e-mail kalau visa saya diapprove. YEAY!

Terkait cuaca, saya hampir lupa kalau musim di Australia itu ‘terbalik’. Saat di belahan bumi lain bulan April adalah pertengahan musim semi, maka di Australia justru menjelang musim dingin. Positifnya, lagi-lagi perjalanan saya kali ini udaranya sejuk, hehehe. So let’s get started!

DAY 1 – SYDNEY CITY TOUR AND AUSTRALIAN MUSEUM
Setelah menempuh kurang lebih 10 jam perjalanan dari Kuala Lumpur, Selasa (22/4) pagi saya tiba di Sydney dan akhirnya berjumpa dengan Molly, setelah tiga tahun lamanya :’) Usai sarapan di bandara, kami bergegas menuju Kensington, tempat di mana Molly tinggal. Ah ya, untuk tiket kereta, saya membeli kartu MyMultiZone 2 senilai $54.00 yang bisa digunakan untuk moda transportasi publik apapun (kereta, bis, ferry, light railway) selama 6 hari.

Hello

MyZone

Memang agak mahal, tapi setidaknya masih jauh lebih murah dibanding all access pass-nya Jepang dulu😀.  Hanya saja surprisingly bentuk kartunya masih termasuk konvensional; tipis seperti kartu telepon (duh, ketahuan angkatan tua, hahaha). Konon tipe kartu auto-scan seperti di Jepang baru akan diuji coba di Sydney pada bulan ini, setelah sebelumnya sudah mulai digunakan di Melbourne.  Dari bandara kami menggunakan kereta khusus untuk kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bis. Setelah diperhatikan, untuk transportasi dalam kota nampaknya memang lebih banyak yang menggunakan bis dibandingkan kereta.

Kensington sendiri terletak lumayan jauh dari pusat kota Sydney, dan termasuk daerah suburban alias pemukiman. Lokasinya memang lebih dekat ke UNSW, tempat di mana Molly kuliah. Yang menyenangkan karena rutenya melewati Centennial Park, yaitu taman super luas di daerah Eastern Sydney😀

Kensington neighbourhoodOxford StreetKami juga melewati Oxford street, kawasan komunitas LGBTQI (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer, Intersex) yang terkenal di Sydney. Bisa dilihat bendera rainbow yang menjadi simbol pergerakan LGBTQI banyak ditemukan di kawasan ini.  Bulan Februari hingga Maret lalu, jalanan ini menjadi starting point parade Mardi Gras. I’d love to experience the festivity of Mardi Gras myself, one day!😀. Oxford street juga dikenal dengan berbagai pilihan bar dan kemeriahan nightlife-nya.

Setelah tiba di Kensington untuk menaruh bagasi dan beristirahat sejenak, kami pun berangkat lagi untuk berkeliling kota Sydney, yah hitung-hitung sembari saya latihan menghafalkan rute bis. Adapun yang menurut saya agak menjengkelkan yaitu bis di Sydney tidak memiliki panduan notifikasi audio maupun visual setiap kali berhenti di halte sehingga saya hanya bisa bergantung sepenuhnya pada Google Maps untuk mengetahui halte mana tepatnya saya harus turun 8′)))

First stop saya adalah eksibisi Tyrannosaurs: Meet The Family di Australian Museum yang terletak di College street, dekat Hyde Park. Harga tiket masuk sekitar $22-30.

Hyde Park Halte

Sydney Museum Trex Family Trex Family - gate Trex family - visual

Trex Family - skulls

Sayangnya, isi pamerannya sendiri tidak terlalu banyak dan kalah jauh dengan eksibisi dinosaurus yang saya kunjungi di #SporeTrip lalu. Mungkin karena target audience utamanya adalah anak-anak ya.
Tapi kekecewaan saya terobati begitu saya naik ke lantai 2, karena koleksi fosil dinosaurus lainnya justru lebih mencengangkan😄

Aussie Museum - tall

Saya disambut fosil Jobaria Tiguidensis yang panjangnya mencapai 21 meter!

Aussie Museum - wideAussie Museum - crocsAussie Museum - guineaSelain dinosaurus, di lantai ini juga terdapat berbagai display reptil, mamalia dan unggas. Saya pernah dengar joke kalau Tuhan sedang dalam mood bercanda saat menciptakan hewan-hewan di Australia, karena memang banyak mahluk yang wujudnya aneh. :))
Foto terakhir di atas ini Diprotodon optatum, moyang Wombats yang beratnya diperkirakan mencapai 2 ton!

Aussie Museum - bones Aussie Museum - humanAussie Museum - cooking mineralsPanel Cooking Minerals ini salah satu yang menarik, karena menjelaskan pembentukan batu mineral menggunakan analogi resep masakan!😀

Selepas dari Australian Museum, malam itu Molly mengajak saya berkeliling Circular Quay dan Darling Harbor, dua area utama di Sydney. Akhirnya menyaksikan landmark Sydney yang mendunia, Sydney Opera House, dengan mata kepala sendiri😀

Darling Harbor - wideKerlip cantik Darling Harbor
Sydney Opera - night
Sydney Opera - city lightsPemandangan dari atas Sydney Opera House

Sydney bridgeMemperkenalkan Molly pada teknologi tongsis :))

Memang wajib untuk mendatangi kedua spot ini di siang dan malam hari, karena pemandangannya tentunya berbeda😄
Saya juga sempat mencicipi es krim Messina di The Star Mall, yang letaknya tidak jauh dari Darling Harbor. Konon gerai es krim ini tidak pernah sepi dari antrian pembeli!

Messina Ice CreamHari pertama di Sydney, cukup lelah karena berjalan kesana kemari seharian, namun menyenangkan! Saatnya pulang untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari😀

Next stop: island and beaches!

 

5 thoughts on “Sights of Sydney #AussieTrip (part 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s