Camera 360

Downtown Kyoto #JapanTrip (part 3)

Halo! Ini adalah bagian terakhir dari #JapanTrip saya, dengan tujuan Kyoto.

Dari semua kota yang kami kunjungi, bisa dibilang Kyoto adalah favorit saya!  Sempat menyesal juga karena hanya menyisihkan waktu semalam di kota ini sebelum keesokan harinya kembali bertolak ke KIX.

Jika kalian mencari pesona kota tua Jepang, maka Kyoto-lah jawabannya. Setibanya di Kyoto kami harus berjalan (baca: sambil menggiring koper) cukup jauh karena ternyata jarak stasiun dengan hostel yang ‘lumayan’. Namun hikmahnya bisa sambil sightseeing suasana kota yang tentunya jauh lebih ‘tenang’ dibanding Tokyo atau Osaka. Di kota ini, pemandangan gedung pencakar langit bisa terbilang jarang, adapun kompleks perumahan yang ada lebih banyak mengadopsi gaya tradisional, dan kuil mungil yang selalu ‘terselip’ di setiap perumahan. Bahkan salah satu rumah pejabat yang sempat kami lewati juga bergaya ala rumah bangsawan Jepang zaman dahulu. Hanya saja dilengkapi banyak kamera pengawas di setiap sudut, hihi.

Kyoto houses

Kyoto streets

Camera 360

Khaosan Kyoto Guest House, hostel yang kami tempati, sebetulnya memiliki fasilitas kamar yang paling minim dibanding hostel-hostel sebelumnya, namun mereka termasuk hostel yang lokasinya paling strategis selama #JapanTrip. Cukup berjalan kaki sekitar 5 menit, kami sudah sampai ke jalanan utama Shijo Dori yang dipenuhi jajaran toko hingga ke persimpangan Shijo-Kawaramachi, di mana berdiri shopping complex mewah Takashimaya. Tentu saja sebagai budget traveler, saya tidak terlalu berminat mengunjungi mall tersebut, hehe. Justru saya senang bukan main saat menyebrang ke Teramachi Market, karena di dalamnya terdapat berbagai macam toko souvenir dan cemilan khas Kyoto. Untuk beli oleh-oleh, saya sarankan beli di Kyoto saja, karena pilihan souvenir khas Jepang sangat banyak dan harganya cukup bervariasi. Salah satu keunggulan Khaosan Kyoto Guest House, di masing-masing kamar mereka sudah menyediakan satu folder berisi staff’s recommendation seputar  objek wisata, kuliner dan oleh-oleh Kyoto.

Camera 360

Kyoto - Teramachi Market

Kyoto - Green Tea

Yang membuat saya lebih girang lagi berada di Kyoto, yaitu saat mengetahui salah satu produk kuliner khas Kyoto adalah green tea! Hampir di sepanjang jalan di seluruh penjuru Kyoto tidak habis-habisnya toko berbagai jenis cemilan dengan citarasa green tea. Mulai dari es krim, mochi, biskuit, puding, coklat, hingga bakpau! Rasanya ingin mencicipi & membawa semuanya pulang!.

Selain gerai Nakau yang juga masih bisa ditemui di Kyoto, gerai fast food ala Jepang lainnya yang juga jadi andalan kami untuk makan yaitu Suki-Ya. Menunya juga mirip-mirip Nakau, berbagai variasi beef bowl dengan salad, miso soup dan lain-lain. Hanya saja kalau di Suki-Ya memang tidak menggunakan mesin tiket, tapi lebih ke restoran biasa x)

Camera 360

Camera 360

Setelah mengisi perut, malam pertama di Kyoto kami habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri Gion, berharap bertemu Geisha yang sedang ‘berdinas’. Sayangnya tidak kesampaian,😀. Akhirnya kami hanya menikmati pemandangan sepanjang kanal Shirakawa, yang dipenuhi ochaya, restoran dan rumah-rumah tradisional Jepang. Hingga box telepon umumnya pun bergaya kuno, keren!

Kyoto - Gion

Camera 360

Keesokan paginya kami berkunjung ke International Manga Museum, yang memiliki lebih dari 40,000 koleksi manga. Gedung Manga Museum ini sesungguhnya bekas gedung Tatsuike Primary School yang dahulunya merupakan sekolah yang cukup memiliki ikatan historis tersendiri dengan masyarakat kota Kyoto. Sebagai pembaca komik sejati tentunya datang ke bangunan 3 lantai ini bagaikan berziarah ke tempat suci. Apalagi ternyata sedang ada 40th Anniversary Rose of Versailles (atau di sini juga dikenal dengan Lady Oscar), manga tentang revolusi Perancis ciptaan mangaka senior Ryoko Ikeda!

Kyoto - Manga Museum

Kyoto - Manga Museum Comics

Camera 360

Camera 360

Sayangnya, selain koleksi rilisan internasional, komik yang ada di sini semua berbahasa jepang. Yang paling menarik adalah panel-panel sejarah manga, mulai dari proses lahirnya manga, linimasa manga dari tahun ke tahun hingga perputaran bisnis manga. Ada juga lho grafik penjualan komik yang paling laris sepanjang masa! Juaranya? Antara Naruto atau One Piece pokoknya, saya lupa😀

Seperti biasa, area yang boleh difoto di museum ini sangat terbatas sekali. Kebetulan saat kami kesana sedang ada pameran dari Gainax, studio animasi yang melahirkan karya-karya seperti Neon Genesis Evangelion, Gunbuster, dll. Bentuk pamerannya sendiri unik, yaitu ruangan-ruangan yang berisi lifesize-standee dari karton yang menceritakan cerita di balik proses pembuatan animasi oleh para pekerja Studio Gainax.

Yang juga menarik adalah kisah mengenai Kamishiba -storyteller keliling menggunakan gambar yang populer di Jepang tahun 1920an. Walau Kamishiba mulai tersisihkan pada saat Jepang mulai mengadopsi teknologi televisi, namun teknik bercerita Kamishiba dijadikan bentuk dasar dari storytelling yang digunakan manga/anime sekarang. Di Kyoto Manga Museum ini, ada ruangan khusus Kamishiba, lengkap dengan sepeda dan kursi-kursi penonton. Pada jam tertentu, Kamishiba tersebut akan berkeliling sambil membunyikan kayu sebagai tanda sesinya akan dimulai. Lucu, ya?😀

Setelah berjalan-jalan menyusuri Kyoto, ada beberapa hal yang membedakan Kyoto dengan Osaka dan Tokyo; di sini orang lebih banyak menggunakan transportasi bis daripada kereta. Keretanya pun terkesan lebih ‘tua’ dibandingkan kereta di dua kota sebelumnya. Yang paling saya benci dari Kyoto hanya satu, toilet stasiunnya yang sangat kotor, bau dan tidak terawat. Mungkin kalau toilet di dalam mall-nya sudah sudah memakai toilet berteknologi tinggi seperti di Tokyo, namun sayangnya toilet yang digunakan di stasiun masih model lama.

Kyoto - Chio-In Temple

Camera 360

Kyoto - Temple

Sepulang dari Manga Museum, kami mengelilingi Kyoto dengan berjalan kaki menyusuri daerah Gion, hingga ke kuil-kuil seperti kuil Chionin hingga kuil Yasaka. Kuil Yasaka, yang menonjol dengan gerbang oranye menyalanya, merupakan salah satu kuil yang paling ramai dengan kios jajanan😀 Ada ungkapan Jepang yang berbunyi ‘musim gugur adalah musim dengan selera makan yang paling baik’ maka itu saya tidak menyia-nyiakannya dengan mencicipi takoyaki dan cumi bakar yang dijajakan, hehehe. Di dalam kuil Yasaka, selain banyak lonceng doa, ada juga papan khusus untuk memasang harapan dan doa kita. Kalau di komik shojo kan banyak tuh, pemuda-pemudi Jepang yang membuat love wish di kuil. Nah, kurang lebih seperti itu, lah. Karena papan doanya saja sudah berbentuk hati😀.

Kyoto - Yasaka Shrine

Kyoto - Cumi Bakar

Kyoto - Yasaka Shrine prayers

Camera 360

Saat menyusuri pintu belakang kuil Yasaka, kami sempat menemui area pepohonan yang rantingnya penuh dengan ikatan kertas doa, sampai akhirnya tembus ke Maruyama Park. Taman dengan perpaduan pemandangan kolam dan gunung ini dikenal sebagai hanami (sakura-viewing) spot populer di musim semi, namun tidak kalah cantiknya di musim gugur. Saat itu sedang ada musisi jalanan, bule bertopi koboi yang membawakan lagu-lagu natal secara akustik. Betah duduk berlama-lama di Maruyama Park!

Camera 360

Kyoto - Maruyama Park

Kyoto - Maruyama Park musician

Kyoto - Wedding Photo

Atraksi turis seperti jalan-jalan dengan menyewa kimono atau didandani ala pengantin Jepang/Geisha untuk difoto juga banyak kami jumpai. Sayang, karena sempitnya waktu (dan terbatasnya budget, karena harganya cukup mahal) kami tidak sempat mencobanya :p Dari Maruyama Park, kami terus menyusuri jalanan Higashiyama hingga ke kuil Kiyomizudera, salah satu kuil besar di atas bukit. Higashiyama, adalah area must-visit di Kyoto. Nuansa kota tua nan cantik dengan jalanan bertangga yang ramai dengan cafe dan toko souvenir sepanjang jalan ini, sekali lagi, adalah tempat yang cocok untuk berburu oleh-oleh! Enaknya di sini, tidak perlu khawatir perbedaan harga souvenir yang terlalu mencolok antara satu tempat dengan lainnya karena rata-rata sih, sama saja.

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Sesampainya di kuil Kiyomizudera, ternyata memang sedang ramai sekali oleh pengunjung, mulai dari anak-anak sekolah yang sedang study tour hingga wisatawan biasa. Kami memutuskan untuk berfoto-foto di luar saja karena antrian masuk kuil cukup panjang. Psst, kalau jeli, bahkan kamu bisa menemukan toko souvenir Ghibli yang tersembunyi di area Higashiyama ini. Barang-barangnya pun lebih variatif dari stok yang ada di Museum Ghibli. Sayangnya, harganya sih tetap bikin nangis, hiks.

Camera 360

Camera 360

Warna musim gugur yang cantik di kuil Kiyomizudera!

Camera 360

Pemandangan dari atas bukit tempat kuil Kiyomizudera berdiri

Camera 360

Totoro ukuran besar dengan bandrol harga yang bikin nyesek, 92,400 yen! Hiks

Camera 360

Kyoto - KitkatThe famous KitKat Green Tea! Setelah membeli dan mencicipi varian yang ada (Green Tea, Cinnamon, Roasted Tea) ternyata yang paling enak justru yang Roasted Tea, lho! 

Kami pun bergegas pulang sebelum gelap karena harus kembali ke hostel untuk packing dan mengejar kereta Shinkansen dari stasiun Kyoto menuju bandara KIX, Osaka. Ada kejadian bodoh juga sih, yaitu saat naik bus menuju stasiun, karena kebetulan penumpangnya cukup penuh dan kami berdua sudah cukup ribet membawa-bawa koper, alhasil kami tidak ngeh kalau saaat naik harus mengambil tiket  pada mesin tiket yang ada di dalam bis yang letaknya tepat di depan pintu. Gunanya tiket tersebut adalah untuk menandai halte tempat kami naik hingga saat turun sudah tahu harus membayar ongkos berapa banyak. Untung supir busnya baik hati dan nampaknya cukup paham kalau kami berdua turis malang yang tidak tahu hal-hal teknis seperti ini, sehingga kami cukup menyebutkan nama halte tempat kami naik saja😀 Terima kasih ya, pak!

Setelah 2 jam perjalanan dan semalam menginap di bandara KIX, Osaka, paginya kami bertolak pulang ke Jakarta setelah transit sebentar di Kuala Lumpur. Phew! What a journey!

Waktu 7 hari memang tidaklah cukup untuk menjelajahi Osaka, Tokyo dan Kyoto, namun saya bertekad suatu hari nanti, saya akan kembali ke Jepang!

Terima kasih Maverick telah memberikan saya kesempatan untuk mengunjungi negeri Sakura!

See you on the next trip!

10 thoughts on “Downtown Kyoto #JapanTrip (part 3)”

    1. Bhuahuhuahuhau kalo udah setaun ada jatah PDF (personal development fund) sebesar 1x gaji, terserah mau dipake apa aja.
      Kursus kek, traveling kek, ngegym kek, –those activities on your wishlist
      kebeneran aja timingnya pas ama nikahan gue.
      Plus, dapet subsidi nikahan lagi. Ya lumayan lah tiket pesawat ama hotel kecover :)))

  1. Hi,

    Mau nanya donk, si JR Passnya bener-bener worth ga sih selain untuk perjalanan jauh (Shinkansen), seperti misalnya untuk transportasi dalam kota di Tokyo-Osaka-Kyoto ? Atau lebih baik beli Seica misalnya, untuk transportasi di Tokyo ?
    Thank youuu

    Regards,
    Myako

    1. Halo! Kalo JR Pass memang lebih terasa menguntungkan jika rute kamu banyak pindah kota dan butuh shinkansen itu tadi. Kalau misalnya kamu cuma stay di 1 kota saja sih mungkin lebih baik beli tiket kereta yang daily pass di masing-masing kota. Suica sendiri kalau saya baca-baca sebetulnya lebih ke prepaid card termasuk untuk belanja di convenience store tapi bisa dipakai untuk subway dan bis juga.
      Sebetulnya saya sendiri tidak menghitung tepatnya untung/rugi, tapi karena rutenya banyak roundtrip (Bandara-Osaka-Nara-Osaka-Tokyo-Kyoto-Bandara Osaka) jadi memang tidak mau dipusingkan biaya shinkansen :)) toh JR pass juga bisa dipakai di rute lokal masing-masing kota selama masih di bawah perusahaan JR, unlimited pula. Jadi kalau banyak nyasar ya ndak apa apa hahaha. Kalau Suica masih ada kemungkinan ‘pulsa’nya habis dan mesti top-up. Nah urusan yang begini takut agak ribet :))
      Jadi balik lagi ke itinerary kamu, kalau misalnya sudah bikin hitung-hitungan tarif rute dan dengan Suica sudah memadai, kenapa tidak😀
      Tips: di Kyoto, transportasi lokal mendingan pakai bus karena jarak antar lokasi cenderung dekat. Yang paling banyak keliling pakai subway itu memang di Tokyo. Plus sering nyasar mwahahaha x’)

      Untuk jelasnya coba cek ini deh: http://www.japan-guide.com/e/e2359_003.html

      Semoga membantu😀

    2. hai dev…salam kenal…awal november ini gw juga ada rencananya tngl 7-16 nov.kalo boleh tau rencananya tiba dimana?…krn rencana ak lagi cari barengan temen yg tiba di osaka…mksh

  2. halo!
    Salam kenal ya, saya baru baca postingan tentang Japan ini dan KEREN BANGET! Oh iya, kebetulan awal November tahun ini juga saya berencana kesana, dan itu pas autumn juga.

    Dingin banget nggak sih? Kalau untuk pakaian supaya nggak kedinginan, suggest pake apa nih? Trus, kayak longjohn gitu juga apa perlu?

    Thank you~~

    Regards,
    Dev

    1. Halo! Terima kasih sudah mengunjungi blog ini ^^ sebetulnya gak pake longjohn juga gak apa-apa sih, sewaktu saya kesana yg paling dingin justru angin malam Tokyo haha. Pakai lengan panjang + coat yg agak tebal juga nahan kok. Plus sarung tangan dan syal. Supaya bisa ngira ngira suhu di sana nanti, bisa cek di AccuWeather.com. Semoga cukup membantu ya, have a nice trip!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s