Asakusa Tokyo

Tokyo Connection #JapanTrip (part 2)

Melanjutkan perjalanan #JapanPDFTrip saya sebelumnya, di postingan kali ini tujuan saya adalah  Tokyo!

Tokyo

Asakusa Tokyo

DAY 1

Walau hanya berjarak dua jam (via shinkansen) dari Osaka, namun ternyata saya cukup terkena culture shock setibanya di Terminal Tokyo. Luar biasa ramai dengan orang lalu lalang! Betul-betul terasa denyut ibukota metropolitan yang dinamis. Di Terminal Tokyo itu kita harus gesit dalam bergerak, karena diam sebentar saja, pasti nyaris tertubruk orang yang lewat karena dianggap menghalangi jalan, hahaha. Ah iya, di Jepang juga ada hal yang harus diingat jika menggunakan eskalator, yakni kita harus tahu di sisi mana kita harus berdiri. Di Tokyo, kita harus berdiri di sebelah kiri karena jalur kanan adalah ‘jalur cepat’ bagi orang yang sedang buru-buru. Di Osaka malah sebaliknya, jalur cepatnya adalah jalur kiri.

Dan tentunya yang lebih membuat saya dan suami pusing adalah peta jalur keretanya yang empat kali lipat lebih kompleks dari Osaka!. Sampai-sampai dari jatah tiga hari yang dimiliki, untuk nyasarnya saja sudah menghabiskan satu hari sendiri, HAHAHA.

Berikut perbandingan peta kereta Osaka dan Tokyo:

Osaka JR Line Map

JR Osaka map

Tokyo JR Line Map

JR map Tokyo

Karena problematika nyasar itu jugalah, rencana menyusuri berbagai museum di Ueno Park dan mampir ke Shibuya selama di Tokyo gagal total. Pada akhirnya pada hari pertama di Tokyo kami hanya sempat berkunjung ke Shinjuku (yang sebetulnya tidak menarik –ya iyalah, red district🙂 ) dan Harajuku. Itupun karena sudah kemalaman, jadi cewek-cewek kogyaru Harajuku-nya sudah pada pulang, deh.

And you know you’re in Tokyo when most of the teenage girls have the similar perm-hair and fake eyelashes! Apparently fake eyelashes is serious business, here X)

Di Tokyo, kami menginap di daerah Ikebukuro, tepatnya hostel Kimi Ryokan. Sebetulnya sempat ‘gentar’ karena Ikebukuro sendiri dikenal karena daerah red districtnya😀 saat kami pertama berputar-putar mencari lokasi hostelnya, sepanjang jalan banyak sekali girls bar dan love hotel . tapi syukurlah ternyata Kimi Ryokan ini hostelnya jauh dari image tersebut, bahkan hostel ini menjadi hostel favorit saya selama #JapanTrip ini!. Kimi Ryokan memakai konsep tradisional, sehingga kamar tidurnya memang beralaskan tatami dan futon. Untuk hospitality juga oke, selain resepsionisnya ramah dan fasih berbahasa inggris, ia dengan sigap menawarkan kami untuk beristirahat di common room/pantry saat kami baru saja tiba  dan membuatkan ocha hangat selama ia menyiapkan kamar kami. Kami juga diberi sepasang yukata dan handuk lho!😄

Kimi Ryokan, Ikebukuro

DAY 2 

Pada hari kedua kami akhirnya hanya memprioritaskan berkunjung ke Museum Fujiko F. Fujio (Kawasaki City) dan Museum Ghibli (Mitaka). Letak kedua museum itu sendiri sedikit di luar Tokyo Loop Line (jalur utama Tokyo) yaitu stasiun Noborito dan Mitaka. Bagi penggemar Doraemon dan animasi Ghibli, berkunjung ke dua museum ini adalah wajib! Bahkan sudah tersedia shuttle bus khusus yang dengan mudah diakses di stasiun setempat. Perlu diingat tiket untuk kedua museum ini hanya dijual di Lawson, minimal sehari sebelumnya. Saya sendiri membelinya saat di Osaka, itupun tiket untuk kloter Museum Ghibli yang siang kehabisan dan akhirnya mendapat kloter sore, pukul 16.00. Karena minat wisatawan yang tinggi, saya sarankan memilih untuk berkunjung ke kedua museum tersebut pada weekdays (note: setiap hari Selasa kedua museum ini tutup). Berikut akan saya ceritakan selengkapnya mengenai kunjungan saya ke kedua museum tersebut

Museum Fujiko F. Fujio

Museum ini merupakan sebuah wujud penghormatan terhadap Profesor Fujiko F. Fujio, manga artist yang melahirkan salah satu tokoh yang paling dicintai semua orang di seluruh dunia: Doraemon!  Kenapa dibangun di Kawasaki-City, karena di kota inilah semasa hidupnya beliau banyak menelurkan karya-karya terbaiknya seperti P-Man (#barutau di Jepangnya namanya Perman XD) , Doraemon, dll. Tempat ini cukup mudah dicapai dari Tokyo — ambil jurusan kereta ke stasiun Noborito, dan tinggal naik shuttle bus khusus yang siaga di depan stasiun. Bisnya juga super-duper lucu!😄. Waktu kami kesana, kebetulan rombongannya isinya mayoritas anak-anak yang ditemani ibu/kakaknya, jadi cukup ramai😄

Doraemon Bus

Demi melindungi karya-karya Fujiko F. Fujio, museumnya sendiri menerapkan peraturan tidak boleh mengambil foto di tempat yang sudah ditentukan, seperti main hall. Kalau tidak salah, konon lampu blitz cukup berpengaruh pada kondisi kertas. Mereka memang sangat hati-hati sekali menjaga beberapa sketsa asli yang dipajang, bahkan lighting di dalam museum sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak merusak/mempengaruhi keasaman kertas. Selain diberi audio guide mengenai perjalanan hidup Prof Fujiko F. Fujio sebagai manga artist, kita juga dapat melihat replika ruang kerjanya serta beberapa insight dan trivia mengenai proses pembuatan karya-karyanya. Mungkin orang-orang yang berkunjung ke museum ini sebelumnya lebih mengenal sosok ‘Doraemon’, namun setelah mengikuti audio guide ini dijamin akan semakin mengagumi sosok mastermind di baliknya, Prof. Fujiko F. Fujio. Salut juga untuk Jepang yang mampu menghargai profesi manga artist sebagai ‘aset negara’ di bidang kreatif.

Tempat yang diperbolehkan untuk foto-foto adalah Reading Room – perpustakaan yang isinya semua komik karya Prof. Fujiko F. Fujio, (sayangnya berbahasa Jepang :’)) yang disatukan dengan ruang bermain. Tidak boleh dilewatkan juga berfoto dengan patung-patung yang ada di taman lantai atas: Doraemon, Pintu Kemana Saja, dll.

FF museum 1

Pintu Kemana Saja

Camera 360

Doraemon

Museum Ghibli

Hujan rintik-rintik sudah mulai turun di Kawasaki City saat kami bertolak menuju Museum Ghibli, Mitaka. Dan ternyata semakin deras sesampainya kami di Stasiun Mitaka! Kami menunggu di coffee shop dekat stasiun sambil menunggu bis Ghibli kloter kami datang menjemput di halte khusus. Sama dengan Museum Fujiko F. Fujio, bis yang disediakan pun didesain khusus dengan gambar tokoh-tokoh Ghibli😀.  Sesampainya di Museum Ghibli, jangan lupa berfoto dengan Totoro  yang menyambut kita di pintu depan😄

Museum Ghibli sendiri bentuknya lebih menyerupai kastil, dan para pengunjung di sini bisa lebih bebas berkeliling di dalamnya. Namun sekali lagi, di sini juga dilarang mengambil foto di dalam museum *sigh*. Bagi yang memiliki kecintaan akan seni ilustrasi dan film animasi, berada di Museum Ghibli akan terasa seperti di dunia mimpi yang surreal. Setiap pojok memiliki atraksi yang menunjukkan bagaimana film animasi sesungguhnya dibuat. Proyektor, gulungan roll film, kertas sketsa, cat air, perpustakaan dengan buku-buku ilustrasi. Favorit saya adalah zoetrope 3D  yang ada di lantai bawah. Boneka The Cat Bus raksasa dari film My Neighbour Totoro juga ada, namun sayangnya itu disediakan untuk arena bermain anak-anak, hehehe.

Juga dipastikan kalap saat mengunjungi toko souvenir ‘Mamma Aiuto!’. Di sini menjual berbagai macam merchandise official dari film-film Ghibli, dari puzzle, kartupos, boneka, sampai sweater. Harga barang-barang di sini memang cukup mahal, karena itu harus pintar-pintar memilih :p. Sayapun akhirnya hanya beli satu set kartupos  dan tempat stationery The Cat Bus.

Ghibli Cat Bus

Totoro

Berikut adalah foto yang saya ambil dari set kartu pos:

Ghibli Museum

Ah ya, ada yang istimewa dengan supir bus yang saya jumpai selama di Jepang. Di sini, supir bus selalu terlihat rapih, keren dan ramah. Pokoknya profesi yang cukup dihormati, deh. Salut juga terhadap etos kerja para supir bus ini, misalnya saja, mereka selalu tidak lupa mengucapkan ‘terima kasih’ kepada SETIAP penumpang yang turun. Sewaktu pulang dari Museum Ghibli, misalnya. Tidak peduli sebanyak apapun penumpang yang turun, pak supir selalu mengucapkan terima kasih setiap kali mereka memasukkan koin ke dalam mesin yang ada di sebelah kursi supir. Lucu juga mendengar pak supir bilang ‘terima kasih, terima kasih, terima kasih’ tanpa henti sampai penumpang terakhir turun😀

Sepulang dari Museum Ghibli, saya janjian dengan @IvanPrakasa, seorang pelajar/blogger yang sedang menuntut ilmu di Jepang, untuk mencicipi nikmatnya Sashimi otentik di sebuah resto di Tsukiji Fish Market, yaitu pasar ikan terbesar dan paling sibuk di dunia.  Terima kasih ya, Ivan! Maaf, belum sempat berkunjung ke Chiba (Ivan saat ini mendapat kehormatan menjadi Chiba Ambassador alias duta pariwisata prefektur Chiba. Simak juga cerita kesehariannya di Jepang di blognya)

Ivan Prakasa

Sashimi - Tsukiji Fish Market

DAY 3

Harajuku

Rasanya tidak afdol ya ke Jepang jika belum menjelajah Harajuku street, the real fashion capital of the world. Sayangnya pada saat kedua kalinya kami ke sana jatuh pada hari Senin sehingga tidak terlalu banyak penampakan ‘nyentrik’. Sempat juga mampir ke AKB48 Harajuku Store, mencari titipan beberapa teman yang kebetulan menggilai super idol-group asal Jepang ini. Begitu ngetopnya AKB48, selama di Jepang saya selalu menemui billboard raksasa, berbagai merchandise unik bertemakan AKB48  sampai Pachinko-nya pun ada!

Sebetulnya Harajuku ini tidak seheboh dan sebesar yang saya bayangkan sih, memang satu jalan itu isinya toko-tokok pernak pernik dan baju yang bisa dibilang cukup murah. Misalnya saja saya menemukan toko  stocking/legging ‘Tutu Anna’ yang sedang ada sale 1000 yen untuk 3 stocking. Ada juga toko Daiso 2 lantai. Jika kita berjalan sampai ujung Takeshita street, maka akan menemukan berbagai butik yang lebih high-end. Saya beruntung menemukan Chicago thrift store yang memiliki koleksi kimono second yang lucu-lucu dengan harga berkisar antara 1000 yen saja!

Camera 360

Camera 360

Setelah membawa banyak tentengan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hostel untuk menaruh semua barang belanjaan sebelum mampir ke Akihabara. Soalnya cukup repot berjalan kesana kemari naik turun stasiun kereta, apalagi saat jam rush hour pulang kantor. Yang menarik lagi, selama #Japantrip ini saya perhatikan di setiap kereta ada signage/peraturan yang melarang para penumpang kereta mengaktifkan nada dering handphonenya. Bahkan menerima telepon pun tidak dianjurkan, kecuali jika sangat terpaksa. Itupun  wajib menggunakan handsfree/ear-piece dan sebisa mungkin meminta lawan bicara untuk menelepon di lain waktu.  Nampaknya pemerintah di sana cukup paham bahwa sebagian besar warganya yang menghabiskan harinya di kereta api  menggunakan waktu di dalam kereta untuk beristirahat sejenak di sela-sela aktivitas mereka.  How very thoughtful, no?🙂 Salah satu signage  yang saya suka menggambarkan  anjuran untuk lebih peka dalam memasang volume headphone/earphone, karena yang kamu dengar mungkin simfoni, tapi bagi orang lain akan  berupa noise yang mengganggu.

Selain disediakan khusus gerbong khusus wanita, di setiap gerbong juga disediakan kursi khusus bagi orang tua, orangtua yang membawa anak-anak dan wanita hamil. Tapi ya ada saja sih bapak-bapak yang  berlagak tidur duduk di situ, apalagi jika kereta sedang penuh :p.

Vending Machine RestoUntuk makanan sehari-hari di Tokyo, selain masih tetap bergantung pada Family Mart/7-11, kami juga mencicipi gerai rice bowl Nakau yang menggunakan kupon. Memang dasar turis norak, karena sebelumnya kami sempat bingung cara memesannya jadi begitu duduk di bar stool, pelayannya juga kebingungan menerangkan bahwa untuk pemesanan kami harus menggunakan mesin kupon yang ada di dekat pintu masuk😀. Akhirnya kami baru sadar saat ada pembeli lain yang baru masuk ke dalam resto, hehehehe. Gerai Nakau ini salah satu yang paling banyak tersebar di Tokyo, pilihan makanannya tidak berbeda jauh dengan Yoshinoya yaitu dari rice bowl hingga curry rice. Selain murah (kisaran 300-600 yen) dan buka 24 jam, gerai ini juga mudah dikenali lewat logo dan neon box outletnya yang berwarna merah atau kuning. Keduanya sama saja sih, hanya saja katanya yang berlogo dominan kuning lebih enak daripada yang merah (atau sebaliknya, saya lupa). Tidak jarang letak antara satu outlet Nakau dengan outlet cabang lainnya hanya berselisih satu perempatan saja.

Hal unik yang saya sempat temui di Tokyo juga yaitu kedai ramen yang pengunjungnya tidak disediakan kursi alias harus makan sambil berdiri😀 Aneh juga ya, tapi mungkin untuk pekerja kantoran yang waktunya terbatas dan selalu diburu waktu, yang seperti ini justru praktis (?) Entahlah :p.

Nakau 1 Nakau 2

Saat mampir ke electric town Akihabara pun kami tidak sempat banyak berkeliling, karena (lagi-lagi) kemalaman, dan angin malam Tokyo yang sedang bertiup cukup kencang membuat enggan berada di jalanan lebih lama. Walau begitu, gadis-gadis dari Maid Cafe yang banyak tersebar di Akihabara masih semangat mempromosikan cafe mereka masing-masing di trotoar, lho! Sayang tidak sempat saya foto :p

Maid cafe, Akihabara

Sebelum meninggalkan Tokyo keesokan harinya untuk naik Shinkansen menuju Kyoto, saya menyempatkan beli oleh-oleh khas Tokyo yang konon sedang populer, Tokyo Banana. Camilan roti berisi custard pisang ini bisa dibeli di stasiun dan sudah dikemas dalam kotak cantik. Selain varian rasa original dan karamel, kebetulan saat saya di sana sedang ada varian Tokyo Banana Roar dengan motif loreng😄 Tokyo Banana ini tahan sampai sepuluh hari sehingga aman dibawa sampai ke tanah air

Tokyo Banana

Setelah ini, tunggu postingan terakhir #JapanPDFTrip saya di Kyoto!😀

One thought on “Tokyo Connection #JapanTrip (part 2)”

  1. Aaaaak…. aku baca,,,,😀
    aduh fotoku dipajang xD *tutup muka
    makasih udah ketemuan waktu itu disela2 banyak yg pengin ketemu…
    gapapa kok blom mampir chiba… emang jauh dari Tokyo…😛
    kapan2 kalo main jepang lagi bilang2 lagi ya…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s