The Dark Knight Rises: The EPIC Conclusion

‘The legend ends here. July 2012’

Setelah menahan diri ‘puasa’ dari teaser, footage, trailer apapun terkait film terakhir dari trilogi Batman milik Christopher Nolan seminggu sebelum  tayang, in the end i was actually shed tears by the time i finished my first screening of The Dark Knight Rises. It was an EPIC conclusion indeed. And i cried because it was a hard good-bye to Nolan’s trilogy.

Nah, yang bakal ditulis di sini mungkin memang sebaiknya dibaca SETELAH kamu menonton The Dark Knight Rises (TDKR). Karena sebagaimana film khas Nolan lainnya yang penuh ‘kejutan’, sulit untuk tidak membahas beberapa detil film yang tentunya berupa spoiler. Namun tentu saja saya tidak akan mengungkapkan beberapa twist yang cukup ‘krusial’. Hey, i’m not THAT mean :p

[SPOILER ALERT]

Melompat 7-8 tahun dari film sebelumnya, kota Gotham kini bisa dibilang sedang menjalani masa damai. Setelah tuduhan pembunuhan atas Harvey Dent, ksatria kegelapan kita memutuskan untuk menarik diri dari aksi vigilantenya, begitu pula dari kehidupan sosialnya sebagai Bruce Wayne. Namun rupanya dari sisi belahan bumi lain, sebuah ‘badai’ sedang bersiap menerjang Gotham. Sama seperti The Dark Knight, tokoh antagonis kali ini sudah diperkenalkan di dalam adegan pembuka yang tentunya, selalu mencengangkan. Bane (Tom Hardy) adalah tentara bayaran dengan sosok yang ‘buas’ dan juga merupakan ahli strategi yang handal.  Ia adalah paduan mematikan antara kemampuan otak dan fisik, dan kini bersama pasukan bawah tanahnya, Bane memiliki rencana ‘khusus’ untuk kota Gotham.

Sementara itu, Bruce Wayne sendiri bisa dibilang sedang mengalami krisis identitas. Masih didera cedera fisik dari pertarungannya di masa lalu dan trauma atas kematian Rachel dan Harvey, Bruce masih gamang untuk kembali lagi menjadi Batman saat ia mengendus keberadaan Bane. Di satu sisi ada Alfred (Michael Caine) yang sebenarnya tidak ingin anak asuh kesayangannya itu terjerumus dalam bahaya yang lebih besar, namun juga di sisi lain ada kehadiran tokoh seperti Komisaris Gordon (Gary Oldman) dan John Blake (Joseph Gordon Levitt), polisi jujur yang masih percaya pada sosok Batman. Ia juga masih memiliki tanggung jawabnya sebagai pemilik korporasi Wayne — masih dibantu oleh Lucius Fox (Morgan Freeman), yang sedang mengembangkan proyek energi bersih dengan milyuner jelita, Miranda Tate (Marion Cotillard)

Selina Kyle: There’s a storm coming Mr. Wayne.

Di awal cerita, Wayne Mansion mendapat ‘kunjungan’ dari si pencuri cantik Selina Kyle (Anne Hathaway). Jatuhnya benda yang dicuri oleh Selina ke tangan yang salah rupanya berakibat cukup fatal, hingga semakin menyadarkan Bruce ia harus kembali mengenakan kostum ksatrianya untuk menggagalkan upaya Bane meluluh-lantakkan Gotham.

Ekspektasi penggemar terhadap episode terakhir ini luar biasa besar, apalagi setelah penggambaran Joker yang begitu sempurna oleh Heath Ledger pada The Dark Knight (TDK). In my opinion, we can’t really compare TDK and TDKR head-to-head, karena Nolan jelas memberikan approach yang berbeda pada kedua film tersebut. Pada TDK, Nolan menyajikan keahliannya akan multilayered plot, dan eskalasi ketegangan pada TDK bergulir sangat cepat sehingga adrenalin penonton terus-terusan ‘dihajar’.

Sedangkan TDKR bisa dibilang memang tidak se-‘intense’ TDK dalam eksekusinya, although my heart does pounding scene-after-scene. But i mean it in a good way. TDKR lebih banyak memainkan emosi, sebagaimana digambarkan dalam beberapa dialog Alfred dan Bruce sejak awal yang begitu menyesakkan hati. Dari trivia IMDB, Christopher Nolan memiliki tiga tema besar untuk trilogi Batmannya ini. ‘Fear’ untuk Batman Begins, ‘Chaos’ untuk The Dark Knight, dan ‘Pain’ untuk The Dark Knight Rises. Walau tema TDK dengan TDKR terkesan ‘terbalik’, namun jika diperhatikan benar-benar, TDKR sesungguhnya lebih berfokus pada konteks siksaan mental dan fisik bertubi-tubi yang mesti dihadapi jagoan bertopeng kita. Walau begitu, cakupan ‘chaos’ dalam TDKR tidak juga berarti lebih kecil dari TDK, bahkan jauh lebih luas dibandingkan cerita sebelumnya. Istilahnya, jika dalam TDK Joker baru memperkenalkan konsep anarki, maka Bane mewujudkannya dengan skala lebih besar melalui revolusi besar-besaran. As ironic it may sounds…a much more ‘organized’ anarchy :)).  Banyak yang bilang TDKR ini banyak terinspirasi dari karya klasik Charles Dickens tentang revolusi Perancis; A Tale of  Two Cities (1859). Saya sendiri belum baca sih, namun untuk referensi pasca TDKR, boleh disimak🙂

Maka itu mungkin durasi yang cukup lama dimanfaatkan Nolan untuk membangun built-up alur yang lebih ‘kalem’. Sialnya ada beberapa bloopers yang cukup kentara, dan untuk sutradara sedetil Nolan, hal ini cukup lucu sih😀  Namun mungkin itu resikonya mengambil timeframe plot yang cukup lama (dikisahkan Bane sempat menduduki kota Gotham sekitar 3-4 bulan). Personally, i  don’t give a damn, anyway. xD

Bane: So you think the dark is your ally? I was born in it. Molded by it. The first time I saw the light I was already a man. And it was nothing but bright. The shadows betray you. Because they belong to me

Tentu adegan yang paling ditunggu adalah saat Bane dan Batman akhirnya face-t0-face untuk pertama kalinya dan bertarung dengan tangan kosong. Tidak butuh CGI atau efek jutaan dollar untuk menghasilkan pertarungan yang betul-betul terasa raw dan membuat bulu kuduk berdiri. (Yeah, The Avengers, i’m talkin yo you!). This is pure fist-fight and bone-cracking! Adegan pertarungan massal terakhir di jalanan Gotham bahkan mengingatkan saya akan Gangs of New York-nya Scorcese.

Jika harus memilih, maka Bane adalah karakter favorit saya dalam TDKR ini. Screen-presencenya luar biasa kuat! Momen yang paling hebat dan selalu dinanti adalah saat Bane berbicara. Walau dibantu alat pengubah suara, namun tone dan gaya bicara yang digunakan Tom Hardy sebagai Bane sungguh khas, mampu membuat merinding seketika dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Bayangkan, sepanjang film wajah Bane tertutup masker gas, yang artinya siapapun aktor yang memainkannya haruslah piawai akting dengan ‘hanya’ menggunakan bahasa tubuh, sorot mata dan suara. And oh how Tom Hardy nailed it! 

Yang agak lucu mungkin perbedaan tinggi badan Christian Bale (183 cm) dan Tom Hardy (175 cm), sedangkan pada komiknya Bane semestinya jauh lebih besar dari Batman. Nampaknya hal ini disiasati Nolan dengan banyak mengambil angle dari bawah saat mengambil shot mereka berdua😀

OK what about Seline Kyle? (istilah Catwoman tidak pernah secara ‘resmi’ digunakan di film ini). Beban yang ditanggung Anne Hathaway juga tidak kalah besar. Lagi-lagi, kita tidak bisa gamblang membandingkan Selina Kyle milik Michelle Pfeiffer dengan Anne Hathaway. Pengembangan karakternya di sini sebagai ‘professional burglar’ justru menjadikan sosok Selina lebih terlihat sebagai jagoan ala agen rahasia. And she’s witty, too :D Yang tetap sama adalah karakternya yang lebih banyak bermain di area abu-abu. As she said it herself, she’s ‘adaptable’. Jadi tidak bisa dibilang protagonis atau antagonis juga.

Juga yang bikin pangling: Joseph Gordon Levitt. Mungkin ini adalah peran kedua-nya setelah Hesher yang mampu membuat saya berucap ‘…wait, isn’t he used to be that scrawny kid on 10 Things I Hate About You and that whiny loverboy on 500 Days of Summer? WHAT HAPPENED?‘. Bahkan di Inception, ia tidak segagah ini. Lenyap sudah si bocah bersuara cempreng dan bertubuh ceking, digantikan dengan karakter yang sangat dewasa dan terkesan tangguh sebagai salah satu rookie satuan kepolisian😀. Rasanya tidak sabar melihat JGL dalam genre aksi berikutnya, Looper. Anyway, porsi John Blake di TDKR ini cukup signifikan sebagai karakter baru, namun tentu saja detilnya tidak akan saya ceritakan di sini😉 Yang jelas, ia menjadi salah satu twist di akhir cerita yang membuat penonton ramai-ramai bersorak-sorai.

And when it comes to gadgets and toys, Bruce Wayne/Batman always has the coolest ones. Setelah tumblr dan batpod sudah dikeluarkan di dua film pertama, kini kita akan dimanjakan dengan kehadiran The Bat, armada udara canggih buatan Lucius Fox. Dunno why they didn’t call it Batwing instead, mungkin tidak ingin sama dengan Batwing yang sudah ada di Batman (1989), hehehe. Dan juga hadirnya Bat Cave, walau interiornya jauh lebih sederhana dari yang sudah ditampilkan di film-film Batman sebelumnya.

Dan tentunya, sebagian ‘nyawa’ dari trilogi milik Nolan juga dihembuskan oleh Hans Zimmer,  melalui komposisi musik jenius yang jadi salah satu pilar pendukung paling kuat dari sejak Batman Begins.  Dengarkan keseluruhan 15 track di sini

Pertanyaan yang sudah digulirkan sejak Batman Begins; yakni masihkah dunia yang korup ini membutuhkan Batman atau tidak, telah sukses dijawab oleh Nolan dalam episode penutup ini dengan cerdas,  megah, dan mengharukan.

Thank you sir Christopher Nolan, for the most AMAZING trilogy of our beloved Dark Knight you have brought us.

9/10

P.S. This is Christopher Nolan’s goodbye letter to his Batman trilogy from Vanity Fair magazine. Read and weep :’)

Also, my deepest condolences towards the victims of Aurora tragedy, Denver – Colorado. Sending out prayers and sympathy to victim’s friends & family.

9 thoughts on “The Dark Knight Rises: The EPIC Conclusion”

  1. yep, setuju banget, kehadiran Bane walau tidak segila Joker tetep menakutkan, apalagi pas dia bilang “Do you feel in charged?” ke si Daggett, kalo gw jd si Daggett gw dah mewek pasti :))))

    1. Iya, gak fair kalo ngebandingin mereka berdua karena emang approach dan pengembangan karakternya sama sekali berbeda x)
      Joker itu anjing gila, Bane itu jenderal perang.
      Kalo gue takjub + merinding tiap Bane mulai speech. Pas duel pertama dengan Batman dan pas orasi sebelum ngejebol Blackgate.
      Gile, potongan boleh sangar tapi tutur berbicaranya nunjukkin kapasitas otaknya banget, very ‘educated’ dan taktis.

      1. true dat! speech dia yg berantem pertama ma batman sih yg plg bikin gw jiper, bayangin aja pas berantem lawan lu dengan tenangnya ngehajar lu sambil nyeramahin, hahaha… yah, bagaimanapun jg, thanks nolan, duh jd pgn nonton lagi nih😛

  2. Suka banget sama Bane… sampe pas adegan dia sama Miranda Tate menjelang akhir film. Tiba-tiba kesan serem yang dibangun sepanjang film menghilang, agak mengganggu si buat saya.
    Tapi overall, The Dark Knight Rises adalah penutup yang keren dari trilogi batmannya Nolan.

    1. LOL memang akar semua mudarat adalah perempuan 8′))))
      kalo kata temen gw, ‘No one friendzone like Talia’ :)))

      Yep, TDKR might not be the best out of 3, but surely it was the best conclusion :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s