Matt Hamill

The Hammer – review

Ternyata selain The Wrestler (2008) dan Warrior (2011), pada tahun 2010 terselip satu film yang diangkat dari kisah nyata mengenai sosok petarung UFC (Ultimate Fighting Championship). Lantas apa yang membedakan The Hammer dari kisah ‘zero to hero’ lainnya? Keistimewaan terletak pada sosok yang diangkat yakni Matt Hamill, pegulat tuna rungu pertama yang menjuarai  National Collegiate Wrestling Championship. ‘The Hammer’ sendiri diambil dari nama panggung Matt sebagai pegulat.

Terlahir sebagai tuna rungu, Matt dibesarkan dengan kepercayaan bahwa ia tidak berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Didikan tersebut terutama datang dari Stanley, kakeknya, yang sudah melihat kecerdasan dan bakat Matt dalam gulat sejak awal. Bahkan ia memotivasi Matt untuk mengejar program beasiswa untuk atlet  di Universitas Purdue yang prestisius. Walau begitu, sebagai satu-satunya tuna rungu di kota kelahirannya Loveland, Ohio, tentu ada saatnya dimana ia menghadapi saat-saat sulit sebagaimana remaja lainnya; tenggelam dalam patah hati dan kekecewaan. Tidak terbiasanya Matt menggunakan sign language pun ternyata menyulitkan kegiatan belajar mengajarnya di Purdue, sampai akhirnya ia terpaksa drop out.

Matt  yang  sudah putus asa, akhirnya berhasil diyakinkan kakeknya untuk mencoba kesempatan kedua di Rochester Institute of Technology (RIT). Tidak seperti Purdue, kampus tersebut memang memiliki komunitas tuna rungu yang cukup besar. Siapa sangka sejak ia melangkahkan kakinya di RIT,  untuk pertama kalinya Matt tidak lagi merasa ‘terasing’ dengan kondisinya sebagai tuna rungu. RIT tak ubahnya kampus biasa dengan segala hiruk pikuk mahasiswa pada tahun ajaran baru, bedanya kini ‘keramaian’ tersebut ditemuinya lewat sign language kemanapun ia memandang. Walau sempat gugup untuk kembali bersosialisasi, di sinilah Matt perlahan membangun kembali self-esteemnya dengan membuka diri pada lingkungannya, persahabatan dan juga, cinta!😀

Mungkin bagi yang mengharapkan film ini akan menyajikan aksi gulat Matt Hamill di atas ring hingga menjadi pegulat profesional akan sedikit kecewa, karena memang The Hammer lebih mengangkat perjuangan Matt melalui masa remaja/kuliah hingga ia memperoleh gelar di Kejuaraan Nasional pertamanya. Porsi adegan gulat pun tidak sebrutal atau sebanyak film The Wrestler dan Warrior. Namun justru daya tarik film ini memang bukan terletak pada plot yang memukau (toh, semua orang sudah bisa membaca arah sebuah film biopic), tapi pada bagaimana interaksi pada komunitas tuna rungu yang turut membentuk pribadi Matt Hamill. Mungkin perasaannya sama seperti Matt yang baru menyadari ternyata di luar kota kecilnya, kehidupan komunitas tuna rungu pun berjalan dinamis dan ‘hidup’ sebagaimana orang normal lainnya. Lihat saja tingkah polah Jay (Michael Anthony Spady), teman sekamar Matt yang supel, tengil dan partygoer😀

Gara-gara film ini juga jadi kepincut dengan akting  Russell Harvard yang memerankan Matt Hamill, aktor yang memang seorang tuna rungu di kehidupan nyata. Awalnya yang akan diplot menjadi Matt Hamill adalah Eben Kostbar, sang co-writer skenario dan juga sahabat Hamill. Namun karena kisahnya sendiri dimaksudkan sebagai salah satu simbol kebanggaan komunitas tuna rungu, Russell Harvard akhirnya dipilih sebagai bentuk nyata dukungan untuk aktor tuna rungu. Begitu pula dengan semua peran tuna rungu dalam film ini, diperankan oleh aktor/aktris tuna rungu yang luar biasa!🙂 Sebetulnya wajah Russell Harvard agak terlalu ‘tua’ untuk memerankan Hamill di masa SMA, tapi mimik mukanya sebagai karakter yang lugu dan pemalu sungguh menggemaskan! xD

‘Dialog’ antar tuna rungu yang hanya diwakilkan lewat subtitle tetap mampu menyampaikan adegan sarat emosi, lho! Salah satu adegan dan dialog yang paling berkesan yakni saat Matt mengajak Kristi, gadis yang ditaksirnya di RIT ke tempat favoritnya: tebing air terjun. Di dunia yang normal, tebing yang diiringi suara derasnya air terjun bukanlah lokasi kondusif untuk memulai suatu percakapan. Namun film The Hammer sengaja membawa penonton ke dalam ‘kesunyian’ mereka dengan meniadakan audio dan berfokus hanya pada dialog. Simple yet thoughtful🙂

The Hammer, a lightweight but heartfelt story about finding your place in the world🙂

Another dose of  feel good movie!  7.5/10

P.S: Selain akting, musik juga salah satu hal yang ditekuni Russell Harvard. Ya, ia ‘memainkan’ musiknya melalui sign language!😀. Dalam interviewnya dengan Loveland magazine, berikut jawabannya saat ditanya apa yang membuatnya tertarik pada musik:

“My sister happened to introduce me to music and showed me some artists and I fell in love with it. The deaf community obviously can’t hear music so I thought I would interpret for them by reading the lyrics and signing. I wanted them to experience music through their eyes.”

:) Interview lengkapya bisa dibaca di sini

2 thoughts on “The Hammer – review”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s