Confessions english poster

Confessions (Kohuhaku)

Familiar dengan film Kill Bill, I Spit On Your Grave, Hard Candy,  Oldboy, The Skin I Live In, dan I Saw The Devil? Tema ‘vengeance‘ alias balas dendam yang jadi benang merah film-film yang barusan disebutkan memang selalu seru untuk diangkat ke layar lebar. Jika selama ini balas dendam digambarkan identik dengan aksi vigilante yang disertai bumbu bloody-gore, maka film Confessions (2010) dengan cerdas menyajikan  ‘balas dendam’ dari permainan alur  serta multiple vantage point. Film yang juga sempat masuk shortlist Academy Awards 2011 untuk Best Foreign Language Film ini bisa dibilang lebih kental dengan aroma psychological thriller yang mencekam secara emosi.

“Revenge is a dish best served cold

Begitulah peribahasa yang  sering dilontarkan terkait upaya balas dendam. Nampaknya prinsip inilah yang dipegang Yuko Moriguchi (Takako Matsu), seorang guru dan ibu tunggal yang kehilangan anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun, Manami, dalam sebuah kejadian tragis di sekolah tempat ia bekerja. Di hari terakhirnya mengajar, dengan kalemnya ia ‘mengaku’ pada anak-anak didiknya bahwa ia tahu penyebab kematian Manami bukanlah kecelakaan, namun putrinya adalah korban dari konspirasi pembunuhan yang keji. Pelakunya, tak lain adalah dua orang siswa yang ada di kelas tempat ia mengajar, yang ia samarkan dengan nama ‘Student A’ dan ‘Student B’.  Karena kejahatan oleh anak di bawah umur tidak bisa dijerat hukum menurut undang-undang Jepang (biasanya hanya berakhir dengan hukuman rehabilitasi), Moriguchi memutuskan untuk  menggunakan metodenya sendiri untuk memberi pelajaran kepada para pembunuh putrinya tersebut.

The calm before the storm

Bersiaplah untuk kagum (atau ngeri) dengan bagaimana master plan Moriguchi yang sederhana mampu menggulirkan bola salju yang semakin kencang melaju ke dalam jurang bernama ‘karma’. Kalau meminjam kata-kata Joker sih, ‘Madness is lot like gravity. All it needs is a little push’.  And little push, she did.

Jika berbicara mengenai latar belakang, nampaknya kultur kaum remaja Jepang memang sebegitu ‘gelap’nya sehingga selalu menjadi kambing hitam dari bibit-bibit psikopat (Battle Royale, Suicide Club, anyone?) :p Fenomena sosial dalam kehidupan remaja seperti peer pressure dan bullying juga ditampilkan dengan konsep yang sedemikian satir – jika tidak dikatakan brutal.  Namun situasi chaos itu jugalah yang memperkaya konsep vantage point di Confessions. Selain Moriguchi, penonton akan disuguhi cerita dari sudut pandang ‘Student A’, ‘Student B’, ibu dari ‘Student B’, salah seorang guru pengganti Moriguchi  serta salah satu siswi di kelas mereka. Latar belakang dari masing-masing tokoh serta keterkaitan satu sama lain perlahan akan terkuak seiring berjalannya cerita.

Untuk visualnya sendiri, Confessions mungkin akan lebih terlihat seperti video klip yang stylish daripada film thriller karena banyaknya adegan slow-motion yang digunakan Tatsuya Nakashima, sang sutradara. Beberapa orang mungkin akan menganggap hal tersebut agak mengganggu namun bagi saya sih, perpaduan adegan tetap proporsional dan cantik, apalagi dengan balutan palet biru keabu-abuan yang mewarnai hampir seluruh film ini. Alunan backsoundnya pun tidak tanggung-tanggung, ‘Last Flowers’ dari Radiohead. Adegan paling dahsyat ada pada adegan terakhir dengan reverse chronology sebagai  kepingan akhir rentetan tragedi di Confessions.

So now, if you ever think about having an act of vengeance of your own, you can start by thinking: what would Moriguchi do?

Confessions: the dark side of despair with twisted and mentally disturbing conclusion 9/10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s