skin-i-live-in2 2

The Skin I Live In – review

Walaupun sudah familiar dengan nama besar Pedro Almodovar, ternyata ini pertama kalinya saya menyaksikan karya beliau. Film yang diadaptasi dari novel crime/thriller ‘Mygale’ karya Thierry Jonquet ini sontak mendapatkan publikasi yang luas saat diikutkan festival Cannes 2011, apalagi kemudian The Skin I Live In menjadi salah satu nominator untuk penghargaan tertinggi Palme d’Or.

Film berbahasa Spanyol yang berjudul asli La Piel Que Habito ini bercerita tentang seorang obsesi dokter sekaligus peneliti Robert Ledgard (Antonio Banderas)  menciptakan sebuah kulit sintetis.  Hal ini dipicu almarhum istrinya yang dulu mengalami kecelakaan mobil dan menyebabkan luka bakar hebat di sekujur tubuhnya. Agak sulit menceritakan lebih jauh sinopsis film ini karena memang kunci cerita ada di wanita misterius yang hidup di kediaman Robert. Wanita yang berpakaian tertutup ini merupakan kelinci percobaan Robert dalam penelitiannya. Mengapa dan kenapa ia bisa sampai di tangan Robert, adalah sesuatu yang mesti disaksikan sendiri😀

Skin_I_Live_In_3

Yang jelas, The Skin I Live In bercerita seputar obsesi, tragedi, balas dendam,  dan keputusasaan.  Jika sudah pernah menyaksikan thriller Korea, Old Boy (2003) maka pola The Skin I Live In kurang lebih serupa, hanya saja twistnya bisa dibilang jauh lebih ‘menampar’. Jika bingung dengan hubungan satu kisah dengan kisah lainnya dalam plot yang non linear ini, cobalah sedikit bersabar! Karena pada akhirnya potongan-potongan puzzle tersebut akan membentuk sebuah satu cerita utuh.  :D Lawan godaan untuk mengintip wikipedia atau melihat trailer fullnya, it would ruin the fun!

Juga jangan tertipu dengan footage di atas, walau premisnya mengambil tokoh ahli bedah, namun lupakan saja jika mengharapkan adegan gore atau potongan tubuh berserakan. Konon lewat film ini Almodovar memang ingin menciptakan film horor tanpa harus menumpahkan darah sebagaimana film-film horor komersial lainnya.  Apakah beliau berhasil? YA! Yang menjadi  elemen horor paling utama dari The Skin I Live In adalah music scoring dahsyat dari komposer Alberto Iglesias. It’s blissful in an eerie way.😀

Karena film ini mendapat rated R,  jangan tonton di ruang keluarga ya :p

Revenge is a dish best served cold. Magnifico! 8/10

2 thoughts on “The Skin I Live In – review”

  1. Tunggu-tunggu.. Posternya intimidating banget! Hahaha.. Jadi penasaran.. Kapan2 beli DVD di ambas kasi abang2nya blog kamu aja apa ya biar dicariin filem2nyah..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s