Midnight in Paris – review

Siapapun sudah familiar dengan kisah Cinderella. Dentang jam 12 malam adalah waktu keberuntungannya dimana ia bisa merasakan mimpinya menjadi kenyataan. Woody Allen sepertinya ingin mewujudkan keajaiban serupa bagi tokoh penulis ciptaannya yang diperankan Owen Wilson. Dan kota Paris mendapat kehormatan untuk meminjamkan percikan magisnya sebagai kota sejuta mimpi.

Gil is an aspiring writer. Setidaknya itulah cita-citanya, sementara untuk mencukupi hidup ia ‘terpaksa’ bekerja sebagai penulis naskah film Hollywood. Menghabiskan liburan di Paris bersama tunangannya Inez (Rachel McAdams), Gil begitu terkesan dengan romantika kota ini dan sempat berpikir untuk melepaskan semua kehidupan glamornya di Hollywood untuk menetap di Paris. Namun tentu saja sang tunangan, yang lebih memilih hidup berkecukupan, menentang ide tersebut.

Gil: I’m having trouble because I’m a Hollywood hack who never gave real literature a shot.

Di antara kejenuhannya bergaul dengan teman-teman Inez, Gil memutuskan untuk menikmati Paris dengan cara yang ia tahu paling baik; berjalan kaki di malam hari. When beauty is in the eye of the beholder, then so does magic. Menjelang tengah malam, tiba-tiba saja kejadian aneh mulai terjadi. Sebuah mobil antik beserta rombongan  yang entah dari mana asal muasalnya mengajak Gil turut serta untuk menjelajahi gemerlap Paris dari sisi yang berbeda.

Lalu apa yang membuat petualangan ini begitu spesial? Karena rombongan tersebut terdiri dari Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Gertrude Stein, Salvador Dali, Degas dan masih banyak lagi. Ya, tokoh-tokoh literatur dan seniman hebat di jamannya, yang hidup kembali dalam riuhnya nuansa Paris tahun 1920an. It’s simply heaven for literary geek like Gil!😀

Gil: Gil Pender. 
Ernest Hemingway: Hemingway. 
Gil: Hemingway? 
Ernest Hemingway: You liked my book? 
Gil: Liked? I loved all of your work. 
Ernest Hemingway: Yes. It was a good book because it was an honest book, and that’s what war does to men. And there’s nothing fine and noble about dying in the mud unless you die gracefully. And then it’s not only noble but brave.

Hari demi hari kemudian ia lalui dengan pola serupa; menembus pekatnya malam hingga membuyarkan batasan dinding ruang dan waktu, untuk sekedar bercakap-cakap dan menuai inspirasi dari para sosialita dan seniman dari masa lalu. Salah satu inspirasi itu juga datang dalam wujud seorang wanita misterius bernama Adriana (Marion Cotillard), salah seorang dari banyak wanita yang jadi kekasih Picasso. Semakin Gil menghabiskan waktunya dalam kapsul waktu ini, semakin ia mempertanyakan tujuan hidupnya saat ini.

Selain Adrien Brody sebagai cameo seniman surealis Salvador Dali, first lady Perancis Carla Bruni juga ikut berpartisipasi lho! Ibu negara yang jelita ini berperan sebagai pemandu wisata Inez dan Gil.😀

Setelah sukses turut mempromosikan keindahan kota Barcelona pada film Vicky Cristina Barcelona, kali ini Woody Allen membuat orang kembali jatuh cinta pada Paris. Simak saja opening creditnya yang sangat ‘polos’ menyoroti tiap sudut kota Paris, hingga cerita bergulir ke Paris era Golden Age dengan segala romansanya. Kadang ‘romansa’ memang tidak melulu harus mengenai jatuh bangun cinta, namun cukup dengan temaram jalanan, alunan musik swing apik dengan sentuhan akordion serta dialog ringan nan jenaka, menjadikan Midnight in Paris sebuah film ‘cantik’ yang memikat tanpa harus menjadi berlebihan. Effortless beauty! 8/10

Adriana: I can never decide whether Paris is more beautiful by day or by night. 
Gil: No, you can’t, you couldn’t pick one. I mean I can give you a checkmate argument for each side. You know, I sometimes think, how is anyone ever gonna come up with a book, or a painting, or a symphony, or a sculpture that can compete with a great city. You can’t. Because you look around and every street, every boulevard, is its own special art form and when you think that in the cold, violent, meaningless universe that Paris exists, these lights, I mean come on, there’s nothing happening on Jupiter or Neptune, but from way out in space you can see these lights, the cafés, people drinking and singing. For all we know, Paris is the hottest spot in the universe.

*Instrumental cantik pada trailer ini adalah ‘Ballad du Paris’ – Francois Parisi. Jangan lupa cari juga soundtracknya!😀

6 thoughts on “Midnight in Paris – review”

  1. Setuju! Midnight in Paris film yang cantik,ga berlebihan.Buat yang ga suka sastra sekalipun kayaknya masih tetap bisa menikmati suasana Paris. Sayangnya,Cotillard yang biasanya jadi primadona di film2nya menurut gw malah terlalu manis dan aktingnya yang biasanya briliant jadi ga terlalu kelihatan. Anyway,love your review!

    1. waaaah terima kasiihh. Masih kalah kok sama review-reviewmu hehe ^^
      iyaaa, belum sempat dipindahin, eh udah ada yg keburu nulis Midnight In Paris duluan di sana :))
      Jadinya mau pasang First Grader aja x)

      Ayo ditonton filmnya, bagus kok😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s