Another Earth - review

Another Earth – review

Secara kebetulan ada dua karya di ajang festival film tahun 2011 yang mengangkat tema serupa tapi tak sama. Yang pertama adalah Melancholia karya Lars Von Trier yang mengangkat drama dibumbui plot sebuah planet yang berpotensi menghancurkan bumi, serta Another Earth, yang juga dihiasi planet lain, namun berupa bumi paralel.

Walau Melancholia bermain di ‘liga besar’ seperti Cannes dan European Film Awards, IMHO secara storytelling daya pikat Another Earth jauh lebih besar, terbukti film ini meraih Special Jury Prize dan Alfred P. Sloan Feature Film Prize di Sundance Film Festival. Jangan membayangkan plot Another Earth akan penuh aksi terkait armageddon seperti Deep Impact, karena sesungguhnya film ini bercerita mengenai introspeksi, kontemplasi, harapan, identitas dan tentu saja, cinta. In the parallel universe, this could have been a love story. 

Rhoda (Brit Marling, aktris sekaligus penulis naskah Another Earth) seharusnya menjalani impiannya untuk mempelajari astrofisika saat ia resmi diterima di MIT (Massachussets Institute of Technology). Apalagi saat yang bersamaan, para peneliti telah mempublikasikan bahwa telah ditemukan sebuah planet yang secara misterius memiliki banyak kemiripan dengan bumi. Namun kecerobohannya mengantarkan alur nasib yang tragis saat ia terlibat pada kecelakaan mobil yang menewaskan seorang ibu yang sedang hamil dan anak tertuanya. Adegan berpindah menuju 4 tahun kemudian saat Rhoda baru saja bebas dari vonis hukuman 4 tahun penjara.

Spending her youth in prison has suck the personality out of her. Kian murung dan gamang atas masa depannya, Rhoda secara perlahan semakin menarik diri dari lingkungannya. Rasa sesalnya juga mendorong Rhoda hingga sampai ke depan pintu rumah John Burroughs (William Mapother) lelaki yang kehilangan keluarganya di kecelakaan tragis 4 tahun lalu. Saat hanya satu pintu yang memisahkan dua sosok terpuruk ini, mampukah Rhoda menyampaikan permintaan maafnya?

Spot some drama? yes. Namun tidak seperti Von Trier yang terlalu asyik sendiri dengan dunia melankolisnya, Mike Cahill disini mampu mengolah emosi dan cerdas menangkap ‘momen’ sehingga premis bumi parallel sengaja dihadirkan untuk melengkapi rangkaian ‘cantik’ pertanyaan-pertanyaan dalam mencari jati diri. Tahukah perasaan yang ditimbulkan saat menyaksikan video ‘Pale Blue Dot’ dengan narasi ahli astronomi Carl Sagan? Exactly my point😀

Richard Berendzen: In the grand history of the cosmos, more than thirteen thousand million years old, our Earth is replicated elsewhere. But maybe there is another way of seeing this world. If any small variation arises-they look this way, you look that way-suddenly maybe everything changes and now you begin to wonder, what else is different? Well, one might say that you have an exact mirror image that is suddenly shattered and there’s a new reality. And therein lies the opportunity and the mystery. What else? What new? What now? 

Beberapa momen yang cukup  bisa menggetarkan para penggemar sci-fi adalah saat adegan first contact dengan planet misterius tersebut yang menguak adanya dunia paralel lewat sinyal radio. Berlanjut dari euphoria tersebut, sebuah kompetisi bahkan diadakan, dengan iming-iming hadiah diterbangkan oleh NASA untuk mengunjungi ‘bumi kedua’.  Analogi akan harapan, kesempatan, jalan keluar? Nampaknya memang begitulah maksud dari sang pembuat film ini.

Ada sindiran yang disampaikan tokoh John Burroughs mengenai superioritas manusia, terkait pemberian nama ‘Earth 2’ oleh para peneliti di televisi.

‘What if the ‘Earth 2′ not seeing themselves as the second earth?’

Richard Berendzen: Within our lifetimes, we’ve marveled as biologists have managed to look at ever smaller and smaller things. And astronomers have looked further and further into the dark night sky, back in time and out in space. But maybe the most mysterious of all is neither the small nor the large: it’s us, up close. Could we even recognize ourselves, and if we did, would we know ourselves? What would we say to ourselves? What would we learn from ourselves? What would we really like to see if we could stand outside ourselves and look at us? 

Another Earth. A very thoughtful cosmic drama about soul-searching. 8/10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s