triangle

Triangle – review

Film produksi lama (2009) ini sempat mampir ke bioskop beberapa bulan kemarin. Sempat agak pesimis melihat poster yang berbau tipikal film slasher ala kadarnya, tapi setelah menyaksikan Triangle, saya harus menarik lagi pernyataan tersebut😀

This is one mindfuck-twisted-thriller, i don’t even know how Christopher Smith –the writer AND director able to compose, compile and mash the whole thing into one wicked continuity storyline. Sick. 

Sepintas intro cerita akan terdengar seperti kisah Kapal Hantu pada umumnya. Jess (Melissa George), ibu tunggal satu anak pengidap autis bernama Tommy tiba di pelabuhan dengan sedikit ling lung. Hari itu memang rencananya Jess akan pergi berlayar dengan teman dekatnya Greg (Michael Dorman), yang juga mengundang Victor, pasangan suami istri Downy dan Sally, serta sahabat Sally yang bernama Emma. Namun malang bagi rombongan tersebut, hari yang cerah mendadak diliputi awan gelap. Diterjang secara mendadak oleh hujan badai yang hebat, kapal milik Greg hampir saja hancur jika tidak kemudian badai tersebut akhirnya reda. Kebingungan karena tersesat di tengah tengah laut lepas, bukan main leganya mereka saat sebuah kapal pesiar datang mendekat.  Masih dilimpungi rasa lelah dan perasaan aneh yang entah dari mana datangnya, Jess sempat ragu untuk ikut naik ke kapal pesiar yang nampaknya tidak berpenghuni itu.

Greg: Are you all right?
Jess: [staring down one of the ships corridors] I feel like I know this place. I recognize this corridor.
Greg: Well I guess they look pretty similar.
Jess: [worried] No! That’s not it!

Dan ya, setelah mereka menyusuri seisi kapal, ternyata memang tidak berpenghuni. Ghost Ship? Most likely. Jess terus menerus merasa gelisah, karena lorong lorong kapal terasa familiar baginya. Belum lagi ada sosok misterius yang nampaknya berkeliaran di dalam kapal. Keanehan demi keanehan mulai terjadi. Tiba tiba satu persatu kawan mereka mati terbunuh oleh sosok misterius bertopeng itu. Hingga akhirnya Jess mesti berupaya keras bertahan hidup sendirian dalam kejar-kejaran dengan maut.

Sekali lagi ditegaskan, kisah ini sama sekali bukan cerita standar akan kapal hantu dengan pembunuh brutal yang tidak jelas asal usulnya. Seiring dengan bergulirnya cerita, akan terkuak fakta yang cukup mengerikan.

SPOILER ALERT! If you dont wanna know the answer to how, why and what, look away!!😀

Saat Greg terbunuh di aula kapal, bukan main terkejutnya Jess saat Downey dan Sally dengan histeris menuduh ialah yang membunuhnya. Begitu pula dengan Victor yang saat berjumpa dengan Jess sudah bersimbah darah. Di tengah kalut dan kebingungannya, Jess semakin terkesiap saat akhir duelnya dengan pembunuh bertopeng di dek kapal dimana sang pembunuh melemparkan dirinya ke laut, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sebuah kapal, yang yakni adalah kapal Greg, beserta seluruh rombongannya termasuk DIRINYA SENDIRI hendak naik ke kapal Aeolus.

Time loop. Itulah penjelasan dari rangkaian kejadian ganjil yang Jess dan semua orang alami. Entah mungkin memang kapal misterius itu terkutuk, namun Jess dipaksa untuk menjalani lagi, lagi, lagi dan lagi semua kejadian sejak ia naik kapal Aeolus tersebut. Sosok misterius, suara langkah serta nafas sebelumnya di lorong akhirnya terpecahkan. Itu adalah Jess sendiri, mencoba bersembunyi dari ‘Jess’ yang baru saja naik.

Dan lebih sakit jiwanya lagi ini bukan hanya dua lapis time loop, tapi berkali-kali. Jadi sepanjang film adalah mengulang seluruh kejadian, namun dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Kini Jess harus mencari cara untuk memutus lingkaran setan tersebut agar ia bisa kembali pulang ke Tommy, putranya.

Chill factor? Saat diperlihatkan salah satu sudut kapal dimana mayat dari sosok yang sama bertumpuk memenuhi dek, dikarenakan time loop tersebut. Menonton film ini memang mesti dalam keadaan ‘siaga’ karena cukup menguras logika dan emosi, hahahaha.

Lagi lagi, pernah membaca kisah serupa yang melibatkan time loop dalam komik serial misteri Jepang karangan Yoko Matsumoto. Hanya saja, jika Triangle bersetting di kapal, cerita dalam komik itu bersetting di suatu rumah besar di sebuah pulau.

Memang, butuh komposisi cerita dan editing yang luar biasa ‘rapih’ untuk merealisasikan ide sekompleks time loop ini, dan Christopher Smith berhasil mewujudkannya tanpa tanggung tanggung. Triangle is one underrated psychological thriller you shouldn’t missed!

Sea-sick is nothing. Mind-boggling Triangle gets  9/10

Jess: [first lines – consoling her child] Oh you’re just having a bad dream, that’s all baby. That’s all it was. Bad dreams make you think you’re seeing things that you haven’t. You know what I do when I have bad dream? I close my eyes and I think of something nice – like being here with you. 

3 thoughts on “Triangle – review”

  1. baru liat film ini. sepertinya awal *atau justru akhir* semuanya terjadi setelah Jess mati ketabrak truk. disitu another Jess melihat kejadian & diantar sopir taxi k pelabuhan. jgn2 peristiwa ini berulang karena Jess gak bayar taxi yg menunggu dgn arometer masih jalan, krna sopirnya tanya “you will be beck again, wright?”

  2. Nice review. Soal mayat berwajah sama yang bertumpuk2 itu emang serem.
    “…dalam komik serial misteri Jepang karangan Yoko Matsumoto.”
    Ah, saya udah baca! twistnya oke. This is a never end story.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s