Devil – review

Pertama kali melihat trailer film Devil ini, ada dua hal yang terlintas: Pertama,  ceritanya sepintas mirip dengan komik serial misteri Jepang yang pernah saya baca. Kedua, premis yang menarik,..tapi tunggu, eh..Shyamalan?

Well, setelah kegagalan demi kegagalan pasca Sixth Sense yang fenomenal, nama M. Night Shyamalan nampaknya menjadi jinx dari tiap film yang disutradarainya, maka wajar if i have my own pessimism towards his work :p . Tapi  ternyata di dalam film Devil ini dia hanya sebatas konseptor ide cerita, sedangkan screenplay ditulis oleh Brian Nelson yang sebelumnya menulis Hard Candy (one of most underrated thriller, with Ellen Page as a merciless vigilante).  Yang didaulat menjadi sutradara yakni John Erick Dowdle; di antara film yang di bawah arahannya yakni thriller zombie-adaptasi Quarantine

i thought to myself: Interesting. What the heck, i’ll give it a try.😀

Precaution: Claustrophobics, beware x)

Suatu hari, lima orang yang tidak mengenal satu sama lain tiba-tiba harus mengalami kesialan; terjebak di satu lift suatu gedung perkantoran. Terdiri dari seorang salesman, staff sekuriti temporer, seorang wanita paruh baya, seorang pemuda mantan marinir dan seorang wanita muda. Semestinya semua baik-baik saja saat pihak sekuriti gedung mengirimkan staff teknisi untuk memeriksa apa yang salah dengan lift tersebut. Namun ternyata aura kejahatan sudah meliputi ruang sempit itu sehingga kejadian-kejadian janggal mulai terjadi. Siap siap merinding saat salah seorang sekuriti, Ramirez, melihat suatu penampakan tidak wajar di rekaman CCTV lift tersebut. Ketegangan semakin berlipat saat lift yang tidak kunjung terbuka itu mulai mengalami mati lampu beberapa kali, dan saat kegelapan menyelimuti, siapa yang menduga saat lampu menyala sudah terkapar sesosok tubuh tidak bernyawa.

Pembunuhan di ruang tertutup? Itulah dugaan yang ada di pikiran Detektif Bowden (Chris Messina), polisi yang dipanggil ke lokasi untuk memeriksa situasi melalui ruang kontrol utama. Belum lagi tuntas menemukan keterkaitan semua ini dengan kejadian bunuh diri baru baru iniyang  terjadi di gedung yang sama, Ramirez yang religius serta merta mulai ketakutan dan menyebut bahwa ini ada hasil kerja sang Iblis. Konon, sang Iblis seringkali menyerupai wujud manusia dalam menjalankan rencananya. Bowden yang cenderung non-believer mau tidak mau mesti menerima kemungkinan bahwa salah seorang di antara mereka yang terjebak itu….adalah penjelmaan Iblis.

Detective Bowden: So no, I don’t believe in the Devil. You don’t need him, people are bad enough by themselves.

Ramirez: You must consider that one of these people might be the Devil.


Dipacu oleh waktu, Bowden berupaya mencari jalinan benang merah antara orang-orang yang terjebak di dalam lift tersebut.  Apalagi situasi semakin memburuk karena ketakutan dan kecurigaan satu sama lain di dalam lift memuncak dan setiap lampu mati, kau tidak akan pernah tahu siapa yang jadi korban berikutnya…

Shymalan seolah mengajak kita untuk bermain Guess Who’s the Devil sejak narasi mengenai Iblis digulirkan di awal. Pengenalan latar belakang tiap tokoh yang sengaja disamarkan bukan tanpa maksud, karena disitulah kunci dari semua misteri ini. Sementara kita asyik menebak nebak, bukan berarti tidak akan dikejutkan dengan beberapa adegan yang cukup memompa jantung. Mungkin tidak ada wujud hantu yang signifikan, mungkin pembunuhan yang terjadi tidak se-gore pada film-film horor slasher umumnya; justru disitulah cerdasnya film ini –dengan satu TKP tertutup, lima tersangka dan pembunuhan beruntun mampu membuat penonton terpaku pada layar untuk menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.  Apalagi twist ending yang disajikan akhirnya membuat semua kepingan puzzle yang berceceran sepanjang film terangkai menjadi sebuah gambar utuh. Oya, adegan pembuka film ini pun tidak kalah memikat sekaligus membuat merinding, yakni shoot kota Philadelphia dari atas, namun menggunakan sudut pandang benar benar terbalik 180 derajat.

If you’re into that devil/satan anthology such as told by The Devil’s Advocate (1997) or Constantine (2005) (randomly, both films featured Keanu Reeves😀 Ha!) then you will enjoy Devil. Yang jelas, sebagaimana halnya film The Eye (2002), film ini nampaknya berhasil membuat orang sedikit paranoid jika akan menggunakan lift :p

Worth the jump!! 7.5/10

INTERMEZZO: Oiya, mengenai cerita serupa yang pernah saya baca di salah satu komik serial misteri Jepang, jika ada yang suka/mengikuti  (kalau tidak salah) seri Tales From the Darkside-nya Yoko Matsumoto yang terbit sekitar tahun 1994, maka tidak akan asing dengan premis kisah Devil. Saya lupa jilid berapa, yang jelas kisahnya kurang lebih sama: sekelompok orang terjebak di lift saat seorang peramal yang juga ada di lift tersebut sebelumnya memperingatkan semua orang akan kehadiran Iblis (nah kan :D). Untuk kemudian ia meninggal seketika karena serangan jantung dan mulailah saling tuduh menuduh juga terjadi yang juga diakhiri dengan pembunuhan massal.

Kalau ada yang ingat itu dari seri yang mana, boleh share info ya, jadi penasaran juga soalnya

😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s