The Joneses – review

Siapa yg tidak iri pada keluarga Jones? Dikisahkan baru saja pindah ke perumahan elit di daerah suburban, Keluarga Jones adalah potret keluarga sempurna. Steve (David Duchovny) sang kepala keluarga yg tampan dan kharismatik, pebisnis sukses dan beristrikan si jelita Kate (Demi Moore). Dua anak mereka Mick dan Jenn juga tidak kalah populernya di antara temen-teman mereka. Hidup di mansion mewah, mengendarai mobil sport mutakhir, dengan gaya hidup kelas atas bergelimangan materi: kosmetik, baju desainer dan segala peralatan rumah tangga dan elektronik terbaru.

They’re basically living the American Dream. Or in this case, selling it. Yep, di balik gemerlap itu semua, keluarga Jones bukanlah keluarga sungguhan. Mereka adalah orang-orang terpilih tergabung dalam sebuah ‘unit’ yg dibayar untuk menjalankan apa yg disebut dengan stealth marketing. Mengandalkan sifat konsumerisme di Amerika, singkatnya teknik marketing ‘baru’ ini berjalan secara kasat mata melalui dampak psikologis lewat pendekatan hubungan yg paling dasar: bertetangga.

‘If they like you, they’ll want what you have’.

Maka mulailah ‘keluarga Jones’ memasarkan produk-produk sesuai target pasarnya masing-masing. Steve memasarkan alat-alat golf, perangkat audio video, mobil. Kate memamerkan busana dan tas rancangan desainer, kosmetik, alat masak, makanan beku, dll. Mick dan Jenn membuat anak-anak sebayanya berbondong-bondong memborong perangkat video games, apparel, skateboard, dll. Semua itu dilakukan melalui aktivitas sesederhana obrolan tetangga😀. Dalam kurun waktu 30 hari akan ada KC (Lauren Hutton) seorang ‘supervisor’ yg akan mereview pencapaian sales mereka bulan itu.

Steve yg dulunya sales mobil sebetulnya masih ‘baru’ dalam pekerjaan ini. Konflik dalam film ini baru mencuat saat Steve merasa mulai kurang nyaman dan lelah dengan keluarga ‘palsu’nya yg selalu berorientasi mengumpulkan profit, khususnya Kate yg memang lebih senior dan sangat ambisius mencapai status ‘icon’, yakni strata tertinggi dalam pangkat seorang salesperson. Jenn, yg aslinya sedikit ‘nakal’ pun nekat berpacaran diam-diam dengan salah seorang tetangga mereka yg telah beristri.  Mick juga memiliki rahasianya sendiri yg baru terkuak di tengah alur.  Ketika sifat konsumtif yg dipicu terus-terusan ini secara tidak langsung mendatangkan tragedi bagi salah seorang tetangga mereka -pasangan Larry dan Summer Symonds,  Steve dipaksa mempertanyakan kembali peran sertanya atas pembentukan citra kehidupan ‘sempurna’ melalui profesi rahasianya ini.

Ide yg diangkat film The Joneses fresh dan orisinil, serta menyindir sifat konsumtif pada masyarakat dan corporate ladder climber. Sebuah pencitraan keluarga ‘sempurna’ masa kini yg sedangkal pemenuhan materi semata. They’re American Beauty meets The Stepford Wives. Less dark but still entertainingly satire, yang sayangnya ditutup dengan ending sedikit klise (walau tanpa mengurangi muatan pesan moralnya). Bagi para marketer juga film ini memiliki daya tarik yg sama seperti halnya Thank You For Smoking. Stealth marketing di sekitar kita bahkan sebetulnya sudah terjadi disadari ataupun tidak –saling pamer antar tetangga, anak-anak mengkonsumsi apapun yg idola mereka konsumsi– film ini hanya dengan cerdas mewujudkannya ke dalam suatu konsep sebuah profesi imajiner.

The classic tale of how consumerism ends to self destruct. They’ll teach you how.😀

7.5/10


4 thoughts on “The Joneses – review”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s