Julie & Julia – review

Ah! Nora Ephron is officially my heroine. She’s responsible for the mother-of-all-romantic comedy ‘When Harry Met Sally’, also ‘You’ve Got Mail’ & ‘Sleepless In Seattle’. Invincible! x) Selain itu, gw juga suka adaptasi bebasnya terhadap ‘Bewitched’. Ciri khas Nora adalah sentuhan femininnya yg sangat terasa di setiap filmnya.

Kali ini adalah Julie & Julia, kisah yg didasari memoir nyata dua wanita yg hidup di zaman berbeda. Yeah, it reminds us of ‘The Hours’, but in a  less depressing way😉. Julia Child (an outstanding performance by Meryl Streep) adalah istri seorang diplomat (Stanley Tucci) yg hidup pada akhir tahun  1940an. Merasa jenuh dengan kesehariannya di Paris dimana suaminya Paul ditempatkan, Julia menemukan panggilan jiwanya saat ia memutuskan untuk mengikuti kursus memasak di Cordon Bleu. Berpindah ke tahun 2002, Julie Powell (Amy Adams), wanita usia 30-an, baru saja pindah ke kawasan Queens dengan suaminya, bekerja di pemerintahan dan merasa hampa dengan hidupnya. Passionnya adalah memasak, dan ia amat mengidolakan buku masak Julia Child ‘Mastering the Art of French Cooking’. Saat suaminya meyakinkan dia untuk memulai blognya sendiri, mulailah Julie dengan proyek kecilnya: mempraktekkan 524 resep Julia Child dalam 365 hari.  Dimulailah kisah dua orang wanita ini dalam menemukan arti hidup mereka melalui satu benang merah: memasak.

All hails go to Meryl Streep, aktris veteran yang selalu membuktikan kualitas aktingnya tanpa tanggung tanggung. Setelah memukau sebagai Miranda Priestley, disini ia tampil amat sangat meyakinkan sebagai a mid-age devoted wife, where the gestures & accents are both impeccable, woman!😀. Tidak heran Golden Globe Best Performance by an Actress in a Motion Picture berhasil diboyong, walaupun Oscar hanya berhasil sampai jadi nominee.

Disini juga menjadi ajang reuni Streep dengan Stanley Tucci (The Devil Wears Prada) dan Amy Adams (Doubt). Amy Adams bermain cukup apik,  sekilas disini mirip dengan Ellen Page, versi lebih dewasa hehehe. Kisahnya sendiri inspiratif, dimana diperlihatkan sebelumnya Julia sendiri ‘buta’ akan dunia publishing, dan Julie adalah newbie dalam dunia blog. Berbagai hambatan tentu mereka temui sepanjang perjalanan, antara lain Julia yg harus tahan berkali-kali ditolak penerbit karena bukunya dianggap terlalu tebal, belum lagi pekerjaan suaminya yg terus berpindah-pindah sedikit banyak menghambat kelancaran penyelesaian bukunya. Julie sendiri mesti berkutat dengan pekerjaan tetapnya yg menyebalkan, ketidakpuasannya akan lingkungan tempat tinggalnya, serta perasaan rendah dirinya karena tidak pernah sanggup menyelesaikan apapun sampai tuntas.

The greatest thing is, both of them have the most supportive husbands🙂. At least gw tidak merasakan kekesalan seperti saat menonton The Freedom Writers — u know, that selfish husband part by Patrick Dempsey hehehehehe :p

I give Julie & Julia 8 /10

and of course, prepare yourself for the indulgence drool over the food😉

This movie makes me want to be a housewife and learn how to cook. *wait, i didn’t just said that, did i?* wkwkwk

Paul Child: [to Julia] You are the butter to my bread, you are the breath to my life.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s