Rumah Dara – review

Dengan hype yg sudah bergaung sejak film pendeknya ‘Dara’ menjadi salah satu anthology film ‘Takut’, sukses berjaya di festival film di luar negeri dan menjadi opening INAFFF akhir tahun lalu, akhirnya Macabre alias Rumah Dara rilis di bioskop!

Seiring semakin populernya genre horror/gore/slasher sejak Saw, Hostel, Texas Chainsaw Massacre, The Hills Have Eyes, dll nampaknya membuat The Mo Brothers ingin mengangkat tema tersebut pada perfilman Indonesia, tanpa tanggung tanggung. Yeah, when do the last time we ever had gore movies? Maybe G30S-PKI, if it counts :p

Untuk jalan ceritanya sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tipikal film slasher pada umumnya. Kisah dibuka dengan sentral kakak beradik Ladya (Julie Estelle) dan Adjie (Ario Bayu). Adjie yg istrinya sedang hamil tua hendak berpamitan untuk pindah ke Australia. Hubungan dengan Ladya tidak begitu baik karena suatu kecelakaan di masa lalu yg menyebabkan kematian orang tua mereka. Karena satu dan lain hal, Ladya akhirnya memutuskan untuk ikut mengantar Adjie beserta teman-teman lainnya Jimi, Alam dan Eko ke bandara. Di tengah jalan tol yg diguyur hujan deras, seorang wanita misterius muncul di depan mobil mereka. Tidak tega, mereka  menawarkan untuk mengantar wanita yg bernama Maya (Imelda)  itu pulang.

Sebagai tanda terima kasih, ibunda Maya yakni Dara (Shareefa Daanish) menawarkan untuk memasakkan makan malam. Walau sungkan dan merasa tidak nyaman dengan aura aneh dari keluarga misterius ini, Adjie dkk memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Namun ketika di tengah-tengah perjamuan satu persatu dari mereka tergeletak tidak sadarkan diri untuk kemudian tersadar dalam keadaan terikat, well, you might think twice when a creepy strangers  offered you a dinner…

Alur cerita berikutnya tentu saja bermandikan darah. A LOT OF IT. Konon syuting film ini menggunakan 30 galon darah kambing –tanpa sepengetahuan para aktor/aktris. Wew..pretty nasty, eh?. What about the ‘toys’? it has all of the essentials: chainsaw, knife, sword, bowgun, reaping hook, hairpin,..and even a killer heels! literally x). Praise for the props!

Untuk aktingnya, memang tidak salah Daanish menang sebagai Best Actress di Puchon Film Festival. Hanya sayang, tone suaranya sedikit mengganggu. Mungkin dimaksudkan supaya terkesan menyeramkan, tapi justru jadi terdengar terlalu dipaksakan. Karena toh sosoknya sudah cukup seram tanpa harus bersuara seperti itu😀 hehehe. Mungkin yg terkesan agak janggal adalah plotnya sebagai ibu dari Maya, Adam dan Armand..karena sebetulnya sih wajah Imelda bahkan lebih tua daripada Daanish, hehehe…seandainya make upnya lebih di’tua’kan lagi akan lebih pas😉. Arifin Putra, yet the bright young actor!!. Gerak gerik dan struktur mukanya yg dingin sangat mendukung perannya sebagai Adam.

meet the Dara’s family,..the nasty version of Addam’s family :p

dan Julie Estelle sebagai heroine of the movie juga sekali lg membuktikan kualitasnya. Jarang sekali ada aktris muda Indonesia yg memiliki kekuatan akting sebanding dengan keelokan wajahnya :p. She’s good.

Adanya cameo dari Aming terasa sedikit out of place, karena suspense yg sudah dibangun agak sedikit luntur dengan Aming yg agak sulit lepas dari karakter ‘comedic’nya.

Banyak juga yg mengkritik kurang  jelasnya latar atau motif dari keluarga Dara ini. I didn’t find it very much disturbing though, it IS a slasher movie..don’t sweat the small stuff :p. Toh pada suatu adegan, diindikasikan bahwa mereka sudah hidup sejak tahun 1880-an. Well, it’s better to use our imagination dan menyimpulkan bahwa keluarga Dara mengkonsumsi ‘daging’ sehingga dapat hidup abadi –kurang lebih premisnya seperti itu. Tidak sulit kan? hehehe.

Gw tidak merasakan efek sampai tidak enak makan seperti beberapa orang setelah menonton film ini, namun ada beberapa adegan yg cukup membuat gw mengintip dari balik tangan saja hehehe. The plot was okay, but we do have to appreciate upaya The Mo Brothers untuk menyumbangkan genre yg lain dari yg lain, tanpa membuatnya terlihat cheesy. Again, praise for the props!!😀

Nantikan saja, pasti tidak lama akan ada follower-follower sejenis –terlepas mampu atau tidaknya kualitasnya menyamai Rumah Dara, hehehe

score 7.5/10


P.S berdasarkan wawancara The Mo Brothers dengan flickmagazine.net, konon konsep awalnya adalah trilogi. Seandainya responnya bagus, maka kemungkinan untuk prekuel dan sekuel ada. Woohoooo!😀

berbagai versi poster Rumah Dara:

5 thoughts on “Rumah Dara – review”

  1. indeed. We’re gonna wait for sequels or possible clones😀
    bring us MORE BLOOD!!!!

    and i’m the one who disturbed by the lack of their motives and background

    gw juga ga merasakan efek mual sehabis nonton film ini, malah ngajakin nyari makan kan wkwkwkkkwkk…
    and yeah… i caught you covered your eyes with both of your hands hahahahhaha

  2. gw baru nonton td malam.. hahaha.. itu pun krn koleksi film di laptop gw dah habis… tp ternyata lumayan keren… masih banyak film2 slaher di luar yg kalah… salut deh… smga bisa lebih diperbaiki…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s