Watchmen – review

WARNING: This is not recommended for popcorn moviegoers who prefer your hero swinging in tights bashing up some bad guys – plain good vs. evil with extravagant spc FX and happy ending.
Alan Moore is god and Zack Snyder is the prophet, i’m tellin ya..x) if you’re not into Moore’s work such as ‘V For Vendetta’ or ‘From Hell’, then this is definitely NOT for you.
Berlatar belakang Amerika tahun 1985 dimana situasi politik sedang tidak menentu karena ancaman perang nuklir US-soviet, kisah Watchmen dibuka dengan adegan pembunuhan brutal The Comedian aka Eddie Blake, veteran superhero. Rorschach, rekan sesama superhero menginvestigasi kasus tersebut untuk menemukan kecurigaan akan adanya konspirasi pembunuhan para superheroes. Mulailah ia memperingati rekan-rekannya: Nite Owl II aka Daniel, ahli fisika Dr. Manhattan aka Jon bersama kekasihnya Silk Spectre II aka Laurie, dan jutawan muda Ozymandias aka Adrian.

Dr. Manhattan sendiri adalah satu-satunya yg memiliki kekuatan super, hingga disebut ‘the indestructible’ dan menjadi ujung tombak US dalam menghadapi ancaman perang nuklir. Sedangkan Adrian sudah lama membuka kedoknya sebagai superhero dan sebagai manusia paling cerdas di dunia, kini ia telah memiliki kerajaan bisnis multibiliuner, juga sedang mengerjakan suatu proyek pemerintah bersama Dr. Manhattan. Daniel dan Laurie pun pensiun dan memilih menjalani hidup normal.
Namun tragedi yg menimpa The Comedian dan fakta bahwa Rorshach telah dijebak untuk dituduh sebagai pembunuh, memaksa mereka untuk bekerja sama menguak misteri yg menyelubungi konspirasi ini. Apa motif di balik semua ini? Apakah ada hubungannya dengan keterlibatan mereka dalam perang dingin? Bagaimana mereka mencegah ‘Doomsday Clock’ yg kian mendekat?

Gaya penceritaan Nolan dengan The Dark Knightnya, telah membuka jalan untuk sudut pandang baru adaptasi komik ke layar lebar. Walaupun Watchmen memang berangkat dari graphic novel, bukan komik pada umumnya, sehingga aroma noir dan satir sebagaimana graphic novel yg sebelumnya telah terlebih dulu difilmkan – Sin City, memang lebih pekat.
Watchmen lebih menyoroti superheroes dari sisi humanis secara utuh, bukan sekadar sisi protagonis ataupun antagonis semata namun kompleksitas grey area. Semisal The Comedian digambarkan sebagai sebagai seorang bajingan, emosional dan sinis pada sifat asli manusia namun justru dibunuh karena ia menentang rencana extinction umat manusia. Rorschach mungkin detektif yg merciless namun ia memegang teguh prinsipnya hingga detik akhir ajalnya. Jika ditelusuri latar belakangnya kehidupannya yg tragis, sungguh unik ia berakhir sebagai ‘the good guy’. Dr. Manhattan mungkin memiliki kekuatan tak terbatas, namun hal itu pun tidak mampu menyelamatkan hubungannya dengan Laurie yg meninggalkannya, karena Laurie merasa Jon sudah tidak lagi memiliki emosi sewajarnya manusia normal. Sedangkan Adrian memiliki ambisi pribadi untuk menaklukkan dunia yg dikungkung isu-isu seperti keterbatasan bahan bakar, ketakutan akan perang,dll. Demi keberlangsungan manusia atau demi ego intelegensianya semata, hanya Tuhan yg tahu.

Watchmen menyajikan karakter-karakter riil dengan cerita yg dibalut filosofi politik, serta dialog-dialog yang sangat kental dengan unsur ironi dan sarkasme. Dua tokoh yg sangat menonjol disini adalah Rorschach sebagai narator, yg diperankan dengan sangat apik oleh Jackie Earle Haley; serta The Comedian (Jeffrey Dean Morgan, sebelumnya bermain bersama Uma Thurman dalam ‘The Accidental Husband’..yup. Even i’m surprised it was him! xD ) yg walaupun di’matikan’ sejak awal namun melalui flashback, karakternya meninggalkan kesan yg sangat kuat. Alan Moore pun nampaknya senang sekali mengangkat tema anarkis dalam setiap ceritanya (V For Vendetta – aksi terorisme V yg merupakan simbol pemberontakan, From Hell – aksi pembunuhan Jack The Ripper terhadap pelacur-pelacur yg dinilai ‘mengotori’ dunia), begitu pula dengan Watchmen. (Which part? figure it out yourself, wouldn’t want any spoiler, did ya? ;p)

well, end of story, for those of you despise Watchmen for not being typically ‘superheroes movie’, you can crawl back to your lollipopheroes & SUCK IT!!!
because Watchmen fukkin’ rules!! :p

memorable quotes (among SO MANY, these quotes from IMDB are all i have :p):

The Comedian:  God damn I love working on American soil, Dan. Ain’t had this much fun since Woodward and Bernstein. Congress is pushing through some new bill that’s gonna outlaw masks. Our days are numbered. Till then it’s like you always say, we’re society’s only protection.
Nite Owl II: From what?
The Comedian: You kidding me? From themselves.

Rorschach: You see, Doctor, God didn’t kill that little girl. Fate didn’t butcher her and destiny didn’t feed her to those dogs. If God saw what any of us did that night he didn’t seem to mind. From then on I knew… God doesn’t make the world this way. We do.

The Comedian: Once you realize what a joke everything is, being the Comedian is the only thing that makes sense.

Janet Black: Doctor Manhattan as you know the Doomsday Clock is a symbolic clock face analogizing humankind’s proximity to extinction, midnight representing the threat of nuclear war. As of now it stands at four minutes to midnight. Would you agree that we are that close to annihilation?
Dr. Manhattan: My father was a watch maker. He abandoned it when Einstein discovered time is relative. I would only agree that a symbolic clock is as nourishing to the intellect as photograph of oxygen to a drowning man.

Rorschach: None of you understand. I’m not locked up in here with you. You’re locked up in here with me.

Dr. Manhattan: In my opinion, the existence of life is a highly overrated phenomenon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s