The Beaver – review

Yes, i know. It’s been a while.  Been very busy with my new job. So many movies i haven’t got a chance to share here. :(  But then i saw The Beaver (2011).  I thought it’s gonna be all-depressing-dark-suicidal- American Beauty-ish. Guess what? IT IS! In a good way, of course :D (BTW American Beauty is one of my favorite movie)

If you think this movie is about a man with a nerve-breakdown and  decided to be a ventriloquist,….keep reading!

First thing first, kudos to Mel Gibson for playing such twisted multiple personalities!

Continue reading

The Company Men – review

Tahun 2010, resesi di Amerika menghantam banyak perusahaan dan memaksa mereka melakukan perampingan pegawai. Dikisahkan GTX Corporation adalah salah satu perusahaan yang juga kena imbas, dan dalam upaya mempertahankan nilai saham mereka di pasar, CEO Jim Salinger (Craig T. Nelson) mau tidak mau mengambil langkah yang dirasa perlu. Film ini akan bercerita seputar orang-orang yang terkena dampak dari keputusan pahit tersebut. Pada suatu pagi, salah satu top sales executive GTX Bobby Walker (Ben Affleck, very well played) mesti tertampar kenyataan bahwa ia terkena PHK terlepas dari fakta 12 tahun ia bekerja disitu. Terbiasa dengan gaya hidup kelas atas bergelimang kemewahan, Bobby seakan mengalami jet lag berkepanjangan saat ia harus menyampaikan kabar ini pada keluarganya, menyesuaikan gaya hidupnya, serta mesti ‘mengantri’ lowongan pekerjaan bersama kelas pekerja lainnya.

Penyangkalan Bobby atas situasi yang menimpa dirinya ini sudah diperlihatkan sejak awal, saat ia ‘mengadu’ pada Gene McClary (Tommy Lee Jones) –salah satu petinggi GTX yang juga tidak setuju atas langkah yang diambil Jim, teman lamanya tersebut. Yang juga gelisah dengan situasi ini adalah Phil Woodward (Chris Cooper), eksekutif yang sudah merintis karir di GTX dari bawah hingga usianya kini 60 tahun. Saat akhirnya ia pun diberhentikan, ia terjerembab ke dalam persaingan bursa kerja dengan saingan saingannya yang tentunya jauh lebih muda dan berpotensi daripada dirinya. Apalagi perusahaan manapun tidak ingin mengambil resiko terkait asuransi dengan pekerja seusia Phil.

Continue reading

The Other Woman – review

Semula, pilihan tontonan pertama jatuh pada ‘No Strings Attached’ yang juga dibintangi si jelita Natalie Portman, Namun belum lima belas menit cara bertuturnya sudah tidak enak diikuti :p akhirnya banting setir ke film ‘The Other Woman’ yang merupakan produksi 2009 tapi baru dirilis 2011. Ternyata film drama ini dikemas dengan cukup solid dan mampu menyita perhatian selama 119 menit.

FIlm dibuka dengan adegan Emilia Greenleaf (Natalie Portman) yang sedang menjemput anak tirinya, William, di sekolah. Dari sini penonton bisa menangkap kalau hubungan antara keduanya tidak bisa dibilang baik. Kemudian bergulirlah beberapa bagian flashback akan awal mula pertemuannya dengan suaminya kini, pengacara tampan Jack Woolf (Scott Cohen). Walau tahu Jack yang saat itu sudah beristrikan Carolyn (Lisa Kudrow) namun keduanya tidak bisa menampik rasa ketertarikan satu sama lain. Perselingkuhan mereka mengalami titik balik saat akhirnya Emilia hamil. Singkat cerita, Jack menceraikan istrinya, menikahi Emilia dan hidup bertiga bersama William putra tunggalnya sembari menanti bayi mereka lahir. Akhir yang bahagia? tidak juga.

Kemalangan menimpa pasangan ini saat Isabel, putri mereka yang baru saja berusia tiga hari meninggal di pelukan Emilia saat tidur. Tentu kejadian itu membuat mereka sangat terpukul. Bagaimana kehidupan Emilia setelah tragedi inilah yang menjadi fokus cerita ‘The Other Woman’. Selain menghadapi stigma negatif sebagai ‘istri kedua’ dari lingkungannya dan mantan istri yang masih menyimpan amarah, Emilia masih harus menghadapi anak tirinya yang kadang celetukan polosnya cukup memicu pertengkaran antara mereka. Seperti saat William mengusulkan untuk menjual perlengkapan bayi milik Isabel ke eBay karena toh sudah tidak digunakan lagi. Namun perlahan-lahan Emily mulai bisa mencari celah untuk menjalin hubungan baik dengan William.

Mungkin inilah film tentang ibu tiri terbaik kedua setelah Stepmom (1998) :D. Walau tokoh Emily memang jauh lebih labil dibanding tokoh yang diperankan Julia Roberts di film tersebut. Mungkin sebagian besar wanita yang menonton akan meradang jika dihadapkan pada karakter Emily di kehidupan nyata, namun justru itulah :D film ini menampilkan angle dari sisi sang ‘wanita lain’, pergolakan batin dan berbagai dilema yang dihadapinya. Porsi setiap karakter yang ada sungguh pas sehingga akan membuat kita berempati bukan hanya pada satu karakter tertentu, namun semuanya.  Karena Natalie Portman seperti biasa menampilkan akting tak tercela, maka pujian juga layak diberikan pada Lisa Kudrow sebagai barisan sakit hati terdepan, hehehe. Film ini diangkat dari novel ‘Love and Other Impossible Pursuits’ (2006) oleh Ayelet Waldman.

A decent heart-wrenching drama worth to watch 8/10

Conviction – review

Hilary Swank, our Oscar darling kembali dengan akting memikatnya dalam film Conviction. Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai perjuangan Betty Anne Waters, dalam memperjuangkan keadilan bagi kakak laki lakinya Kenneth Waters yang didakwa tuduhan pembunuhan di kampung halaman mereka, Ayer pada tahun 1983. Kisah dua bersaudara ini diceritakan secara back to back antara kilas balik dengan masa kini. Betty Anne (Hilary Swank) dan Kenny (Sam Rockwell), kakak beradik yang saling menyayangi walaupun sejak kecil sudah harus berpisah karena dititipkan pada rumah asuh yang berbeda. Namun mereka tetap berhubungan sampai masing-masing tumbuh dewasa, menikah dan memiliki keluarga sendiri.

Pada suatu hari, Kenny, si sulung dengan temperamen yang meledak-ledak,  tertimpa kesialan  dimana ia dicurigai oleh polisi setempat yakni Nancy Taylor (Melissa Leo) atas kasus pembunuhan brutal pada penduduk setempat. Sempat dilepaskan karena tidak cukup bukti, secara mengejutkan tiga tahun kemudian polisi kembali mendatanginya untuk kali ini betul betul menjebloskannya ke dalam penjara. Dengan rentetan barang bukti, alibi yang lemah dan keterangan saksi yang memberatkan, vonis seumur hidup pun tidak terhindarkan lagi.

Betty Anne yang cukup terpukul atas kejadian ini mulai memutar otak untuk membuktikan jika Kenny tidak bersalah. Bukan perkara mudah, karena Pengacara publik memasang tarif mahal dan Kenny pun sempat melakukan percobaan bunuh diri di penjara karena nyaris putus asa. Sampai akhirnya Betty Anne mengambil keputusan berani: kembali ke bangku kuliah untuk mengambil gelar hukum agar bisa menjadi pengacara untuk kakaknya. Disinilah perjuangan Betty Anne dimulai. Begitu berdedikasinya ia pada upayanya ini hingga pernikahannya pun tanpa sengaja menjadi korban. Terbebani peran single mother, berbagai tugas kuliah dan ancaman drop out membuat Betty Anne nyaris menyerah di tengah jalan jika bukan karena dorongan semangat dari teman kuliahnya Abra Rice (Minnie Driver).

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Betty Anne menemukan sebuah organisasi non-profit bernama Innocence Project, yang membantu menangani kasus kasus wrongful convictions seperti yang dialami Kenny. Ternyata teknologi DNA baru marak pada saat itu dan konon pencocokan DNA bisa diajukan pada kasus lama yang  diragukan keabsahannya. Betty Anne kembali merunut bukti-bukti lama, menanyai saksi saksi lama, hingga titik cerah akan kasus Kenny perlahan mulai menyeruak. Apakah perjuangan Betty Anne selama belasan -bahkan puluhan tahun membebaskan kakaknya akan berbuah hasil?

Mungkin tanpa harus diberitahu akhir cerita pun, sudah bisa tertebak ya :) . Tapi bukankah pada kisah seperti ini, yang menarik adalah prosesnya? Secara keseluruhan kisah ini betul betul menginspirasi dan menyentuh, betapa setia dan tidak putus-putusnya kepercayaan Betty Anne  pada kakaknya. Perhatikan transformasi karakter Betty Anne yang awalnya hanya seorang ibu rumah tangga biasa menjadi mahasiswa dan akhirnya seorang pengacara. Film ini menunjukkan betapa jahatnya sebuah ‘sistem’ yang korup, betapa dahsyat dampaknya pada orang orang yang terjerumus pada sistem tersebut, dan betapa mahal harga yang harus dibayar — waktu dan keluarga.  This ain’t a simple cinderella story, this is an endless devotion of a loving sister whom put up a good fight. Bahkan sejak awal Betty Anne tidak pernah mempertanyakan apakah kakaknya betul-betul tidak bersalah.  If that’s not true faith, i don’t know what is :)

Bukan hanya Hilary Swank, namun performa Sam Rockwell sebagai Kenny dengan pasang surut emosinya pun sayang untuk dilewatkan, hingga tidak kurang dari tiga nominasi sebagai Best Supporting Actor di berbagai festival film diraihnya untuk peran ini. Sang sutradara Tony Goldwin, berhasil mengemas kisah ini dengan begitu memikat dan sama sekali tidak membosankan. Sebelumnya ia lebih banyak menangani serial TV seperti The L Word, Grey’s Anatomy, hingga Dexter. Namun mungkin orang akan lebih mengenal sosoknya sebagai aktor yakni sebagai antagonis Carl Brunner dalam film ‘Ghost’ (1990) yang amat populer.

Conviction, a crusade for justice that’s worth-watching 8/10

The Kids Are Alright – review

Ok dalam rangka kesuksesan ‘The Kids Are Alright’ menyabet Golden Globe  untuk kategori Best Comedy or Musical just now, i might as well write the review about this movie x). Berkisah tentang seorang anak yang penasaran akan ayah biologisnya karena hidup dalam keluarga dimana orangtuanya adalah pasangan lesbian Nic (Annette Bening, top notch performance) dan Jules (Julianne Moore). Bermodalkan donor sperma yang sama, pasangan tersebut melahirkan dua orang anak; yakni  Joni (Mia Wasikowska) dan Laser (Josh Hutcherson). Pada usianya yang ke 18,  Joni atas permintaan Laser diam diam menghubungi bank sperma untuk memperoleh identitas ayah biologis mereka. Maka sampailah mereka kepada Paul (Mark Ruffallo), seorang supplier sayur dan buah serta pemilik restoran.

Paul, tidak kalah canggungnya saat akhirnya berjumpa dengan Joni dan Laser. Nic dan Jules juga terkejut bukan kepalang saat akhirnya mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya. Nic, yang paling dominan di keluarga mereka, merasa sedikit kecewa dan mulai merasa tersaingi kehadiran Paul sebagai figur ‘ayah’. Apalagi Paul, dengan sosoknya yang berkendara motor, slenge’an dan cenderung free-spirited nampaknya mendapat tempat khusus di hati anak=anaknya. Sebelum keterlibatan Paul dalam keluarga ini, rumah tangga Nic dan Jules sebenarnya sedang dirundung sedikit masalah. Setidaknya bagi Jules, yang merasa sikap control freak Nic berpengaruh banyak pada rasa percaya dirinya yang rendah dan upayanya merintis karirnya sendiri sebagai landscape designer. Akhirnya Paul menyewa Jules untuk merapihkan halaman di salah satu properti miliknya. Namun kemudian sekelumit krisis paruh baya ini bergulir di luar kontrol Nic, Jules dan Paul hingga menimbulkan berbagai drama dan konflik yang cukup krusial .

Jules: …marriage is hard… Just two people slogging through the shit, year after year, getting older, changing. It’s a fucking marathon, okay? So, sometimes, you know, you’re together for so long, that you just… You stop seeing the other person. You just see weird projections of your own junk. Instead of talking to each other, you go off the rails and act grubby and make stupid choices… You know if I read more Russian novels, then…

Sebenarnya agak janggal jika ‘The Kids Are Alright’ dikategorikan ke dalam Musical/Comedy. Obviously it’s not a musical, and definitely more drama than comedy. Bahkan cenderung satir. Namun memang Annette Bening patut diacungi jempol karena berhasil membawakan sosok Nic yang tegas, dominan, bahkan akan membuat penonton merasa sebal dan bersimpati pada Jules (well i did :D ) and of course she won the Golden Globes for Best Actress in Comedy/Drama :D yay!. Sebelumnya agak sedikit tertipu, karena pada dugaan awal cerita akan lebih berfokus pada Joni dan Laser (Because they’re on the title, d’oh) tapi justru lebih berpusat pada Jules-Nic dan bagaimana kehadiran Paul mengubah bukan saja konsep keluarga mereka secara keseluruhan namun juga pada hubungan Jules dan Nic itu sendiri.  And i have to say, with those puppy eyes and one fine ass, it took no surprise if he could get any lesbian back to straight.  Wait, did i just give you guys a hint? ……N’ah, you have to see the whole story :D

Well overall, the kids, the moms and the biological father are doin alright!

7.5/10

Cyrus – review

John (John C. Reilly) adalah seorang duda yang sedang mengalami krisis paruh baya. Belum lagi ia pulih dari perceraiannya tujuh tahun lalu, mantan istrinya Jamie (Catherine Keener) datang untuk mengabarkan pernikahannya. Khawatir melihat kondisi kehidupan sosial John yang memprihatinkan, Jamie mendorong John untuk datang ke pesta pertunangannya, sekedar bertemu dengan orang-orang baru yang mungkin bisa kembali membangkitkan rasa percaya diri John.

Lama tidak bergaul dengan orang banyak khususnya  wanita, polah tingkah kikuk John sepanjang malam nyaris berbuah kegagalan sampai akhirnya ia berjumpa dengan Molly (Marisa Tomei) yang sederhana namun memikat. Tiba-tiba saja semuanya berjalan begitu cepat, hingga mereka menghabiskan malam-malam berikutnya bersama. Selalu menyelinap pulang di tengah malam, ternyata ada sesuatu yang belum Molly ceritakan pada John.

Saat John memutuskan untuk diam-diam mengunjungi rumah Molly, alangkah terkejutnya ketika ia menemukan seorang penghuni lain disana, yakni Cyrus (Jonah Hill) seorang musisi amatir yang juga adalah anak lelaki Molly.

Uniknya, Cyrus tidak seperti anak laki laki berusia 21 tahun pada umumnya, tutur kata dan pemikirannya cenderung dewasa dan hubungan ibu-anak yang dijalaninya bersama Molly pun termasuk tidak konvensional. Awalnya John lega karena Cyrus terlihat menerima kehadirannya sebagai kekasih baru Molly. Namun ketika terjadi beberapa insiden janggal, John mulai ragu apakah sosok Cyrus yang simpatik selama ini benar benar tulus ataukah ada maksud tersendiri di belakangnya. Tidak ingin gagal dalam hubungan seumur jagungnya dengan Molly,  John mesti memutar otak untuk tidak terjebak dalam plot yang diam-diam disusun Cyrus.

Kisah Cyrus ini sesungguhnya cukup sederhana. Jika sepintas terkesan seperti kisah thriller, tenang saja, film ini drama tulen kok. Tidak rumit dengan intrik, hanya menceritakan drama sehari-hari namun dengan kemasan yang tetap asyik disimak :D . Jonah Hill, yang biasa tampil sebagai pendukung di film adult comedy seperti Superbad, Forgetting Sarah Marshall, Knocked Up dan lain lain berhasil  menunjukkan bahwa ia mampu mengimbangi senior-seniornya disini seperti Reilly, Tomei dan Keener.

Yang menarik dari film ini tentu saja selain akting natural para pemerannya adalah camera movementnya yang sangat raw dan dinamis. Jarang sekali shotnya diambil secara still. Sutradara kakak-beradik Mark dan Jay Duplass nampaknya memang sengaja ingin memberikan sedikit gaya dokumenter pada film mereka ini. Jay Duplass sendiri sebelumnya lebih banyak berkutat dengan film pendek dan hasil karyanya di Sundance film festival sempat mendapat pujian. Sedangkan Mark, selain aktif mebantu kakaknya juga sempat menjadi aktor pendukung dalam film ‘Greenberg’ bersama Ben Stiller, dimana film ini juga mendapat ulasan positif dari para kritikus.

Simak juga beberapa lagu apik yang diputar pada saat credit title, yakni

Charlie Wadham ‘My Love’ serta Blind Pilot ‘I Buried A Bone’.

Overall, Cyrus adalah drama sederhana yang menggelitik, genuine sekaligus menghibur :)

7.5/10

The Joneses – review

Siapa yg tidak iri pada keluarga Jones? Dikisahkan baru saja pindah ke perumahan elit di daerah suburban, Keluarga Jones adalah potret keluarga sempurna. Steve (David Duchovny) sang kepala keluarga yg tampan dan kharismatik, pebisnis sukses dan beristrikan si jelita Kate (Demi Moore). Dua anak mereka Mick dan Jenn juga tidak kalah populernya di antara temen-teman mereka. Hidup di mansion mewah, mengendarai mobil sport mutakhir, dengan gaya hidup kelas atas bergelimangan materi: kosmetik, baju desainer dan segala peralatan rumah tangga dan elektronik terbaru.

They’re basically living the American Dream. Or in this case, selling it. Yep, di balik gemerlap itu semua, keluarga Jones bukanlah keluarga sungguhan. Mereka adalah orang-orang terpilih tergabung dalam sebuah ‘unit’ yg dibayar untuk menjalankan apa yg disebut dengan stealth marketing. Mengandalkan sifat konsumerisme di Amerika, singkatnya teknik marketing ‘baru’ ini berjalan secara kasat mata melalui dampak psikologis lewat pendekatan hubungan yg paling dasar: bertetangga.

‘If they like you, they’ll want what you have’.

Maka mulailah ‘keluarga Jones’ memasarkan produk-produk sesuai target pasarnya masing-masing. Steve memasarkan alat-alat golf, perangkat audio video, mobil. Kate memamerkan busana dan tas rancangan desainer, kosmetik, alat masak, makanan beku, dll. Mick dan Jenn membuat anak-anak sebayanya berbondong-bondong memborong perangkat video games, apparel, skateboard, dll. Semua itu dilakukan melalui aktivitas sesederhana obrolan tetangga :D . Dalam kurun waktu 30 hari akan ada KC (Lauren Hutton) seorang ‘supervisor’ yg akan mereview pencapaian sales mereka bulan itu.

Steve yg dulunya sales mobil sebetulnya masih ‘baru’ dalam pekerjaan ini. Konflik dalam film ini baru mencuat saat Steve merasa mulai kurang nyaman dan lelah dengan keluarga ‘palsu’nya yg selalu berorientasi mengumpulkan profit, khususnya Kate yg memang lebih senior dan sangat ambisius mencapai status ‘icon’, yakni strata tertinggi dalam pangkat seorang salesperson. Jenn, yg aslinya sedikit ‘nakal’ pun nekat berpacaran diam-diam dengan salah seorang tetangga mereka yg telah beristri.  Mick juga memiliki rahasianya sendiri yg baru terkuak di tengah alur.  Ketika sifat konsumtif yg dipicu terus-terusan ini secara tidak langsung mendatangkan tragedi bagi salah seorang tetangga mereka -pasangan Larry dan Summer Symonds,  Steve dipaksa mempertanyakan kembali peran sertanya atas pembentukan citra kehidupan ‘sempurna’ melalui profesi rahasianya ini.

Ide yg diangkat film The Joneses fresh dan orisinil, serta menyindir sifat konsumtif pada masyarakat dan corporate ladder climber. Sebuah pencitraan keluarga ‘sempurna’ masa kini yg sedangkal pemenuhan materi semata. They’re American Beauty meets The Stepford Wives. Less dark but still entertainingly satire, yang sayangnya ditutup dengan ending sedikit klise (walau tanpa mengurangi muatan pesan moralnya). Bagi para marketer juga film ini memiliki daya tarik yg sama seperti halnya Thank You For Smoking. Stealth marketing di sekitar kita bahkan sebetulnya sudah terjadi disadari ataupun tidak –saling pamer antar tetangga, anak-anak mengkonsumsi apapun yg idola mereka konsumsi– film ini hanya dengan cerdas mewujudkannya ke dalam suatu konsep sebuah profesi imajiner.

The classic tale of how consumerism ends to self destruct. They’ll teach you how. :D

7.5/10


Bangkok Traffic Love Story – review

Jika kita biasa disajikan ramuan horor mencekam dari ranah Thailand, maka kali ini bersiaplah mencicipi komedi romantis ala Bangkok Traffic Love Story :D

Mei Li sedang senewen, karena di usianya ke-30 ini dia tidak kunjung juga mendapatkan kekasih-padahal hampir semua teman-temannya termasuk Ped sahabatnya, telah menikah. Sepulangnya dari pernikahan Ped–belum sepenuhnya sadar karena mabuk, Mei Li mengalami kecelakaan mobil yg mempertemukannya dengan Loong, seorang insinyur tampan yg membantunya saat kecelakaan tersebut terjadi.

Alur berikutnya mudah ditebak, di tengah keputus-asaannya itu Mei Li langsung jatuh hati. Dan tidak butuh waktu lama sampai ia bertemu Loong lagi. Saat adik perempuannya tertangkap basah sedang bermesraan dengan pacarnya di atap rumah susun mereka, tentu keluarga Mei Li gusar.  Mereka menuntut ‘pertanggungjawaban’ dan saat wali sang pacar adiknya dipanggil, tak lain tak bukan adalah Loong. Ternyata Loong tinggal di rumah dimana pacar adiknya tersebut bekerja sebagai penjaga.

Singkat kata, Mei Li mulai melakukan investigasi mendalam dan menemukan bahwa Loong bekerja shift malam di BTS (jaringan kereta listrik). Mei Li pun mulai mengusahakan berbagai alasan untuk bertemu Loong, walaupun usaha-usahanya tersebut sarat kekonyolan dan biasanya berujung pada musibah ;) . Di tengah-tengah segala upayanya itu Mei Li juga sempat berkonsultasi pada gadis SMU tetangganya, Plern. Plern yg genit dan piawai flirting menunjukkan pada Mei Li bagaimana mendapatkan nomor telepon Loong, bagaimana mengajak kencan, dll. Namun nampaknya Plern jg mulai tertarik pada Loong. Disinilah Mei Li mulai panik.

Sejak awal, Bangkok Traffic Love Story sudah menyisipkan adegan-adegan yg sangat mengundang tawa. Jika akrab dengan gaya khas dorama Jepang dengan humor komikalnya, maka elemen humor yg sama diterapkan disini. Antara lain tempat kerjanya yg menjual bra tenaga solar serta bosnya yg nyentrik; bagaimana Mei Li selalu mengunjungi Ped di saat-saat –errr janggal; keluarganya yg tak kalah aneh; juga segala kecerobohan Mei Li saat bertemu Loong –yg ujung-ujungnya selalu merusakkan barang milik Loong mulai dari kacamata, laptop dan kamera, hahahaha!! :D . Dan jika diperhatikan, Ped sahabat Mei Li, sangat mirip dengan Melanie Ricardo :D jika ada versi Indonesia-nya nampaknya tidak usah repot mencari cast untuk peran ini hahaha.

Judul ‘Traffic Love Story’ pun karena setting banyak mengambil di tengah kebisingan dan kepadatan riuhnya lalu lintas kota Bangkok, juga khususnya trayek BTS tempat Loong bekerja. Beberapa adegan romantis juga mengambil tempat di Bangkok Planetarium dan rumah di tepi sungai Chao Phraya. Dan karena saya sempat mengunjungi Bangkok beberapa bulan yg lalu, beberapa tempat terlihat cukup familiar ;) sayangnya saya tidak sempat mencoba BTS-nya :(

Anehnya Plern yg juga ditampilkan di beberapa versi poster film ini, ternyata hanya jadi sebuah tempelan alias perannya menjadi rival Mei Li hanya sepersekian persen dari keseluruhan film.  Fokus cerita lebih banyak mengenai bagaimana desperate-nya Mei Li dalam mengejar Loong. Tingkat keputus-asaannya hampir setara dengan kisah Itazura Na Kiss dari Jepang, namun tidak se-menyebalkan itu hehehe.

Overall, film yg telah menyabet Best Actor, Best Actress dan Best Picture di People’s Choice Awards 2009  Thailand ini mampu menyajikan komedi yg fresh & a good laugh, i’ll give 7/10 for that :D .

P.S For me personally, endingnya sedikit mengganggu konsep ‘romance’ yg sudah dibangun sedemikian rupa. Seperti apa? well, you have to watch it yourself, then maybe–just maybe, you’ll agree with me :p

An American Crime – review

Sylvia Likens: …every situation God always has a plan. I guess I’m still trying to figure out what that plan was.

Baru saja diceritakan tentang kisah tragis Junko Furuta di Jepang, film rilisan 2007 ini diangkat dari kisah nyata tahun 1965 di Indiana, Amerika yg tak kalah memilukannya. Alkisah kakak beradik Sylvia (Ellen Page) dan Jenny Likens (Hayley McFarland) yg selama ini hidup berpindah-pindah mengikuti pekerjaan orang tuanya yakni pekerja karnaval. Karena sang ibu tidak tega kedua putrinya harus mengalami gaya hidup seperti ini terus menerus, sang ayah pada satu waktu mengusulkan untuk menitipkan kedua gadis tersebut kepada Gertrude Baniszewski (Catherine Keener, dengan performa yg mencengangkan). Wanita yg kerap ditemui keluarga Likens di gereja ini adalah orang tua tunggal yg hidup dengan enam orang anaknya. Karena Gertrude dijanjikan kompensasi finansial, ia setuju saja menambah ‘anggota’ keluarga ke dalam rumahnya yg sedianya sudah ramai itu. Paula, putri tertua Gertrude toh teman satu sekolah Sylvia- karena itu tidak terlalu sulit untuk Likens bersaudara untuk membaur dengan Baniszewski bersaudara.

Paula sendiri sebetulnya bisa dibilang ‘badung’ –ia berpacaran dengan lelaki beristri, dan saat belakangan diketahui ia hamil, ia membuat Sylvia berjanji untuk merahasiakannya.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, namun seketika beralih menjadi sebuah mimpi buruk saat Gertrude mulai kesal karena uang bulanan yg dijanjikan pasangan Likens tak kunjung datang. Mengurus delapan orang anak, sedangkan pendapatan sehari-harinya pun  tak tentu sebagai buruh cuci, membuat kestabilan jiwa Gertrude perlahan mulai goyah. Ia pun mulai melampiaskan kekesalannya pada Sylvia dan Jenny. Mereka menerima ‘hukuman’ berupa lecutan dari ikat pinggang karena keterlambatan tersebut. Kedua gadis tersebut cukup shock dengan kejadian itu. Sylvia sang kakak, hanya bisa pasrah dan mencoba melindungi Jenny.

Ternyata kenaasan tidak berhenti sampai disitu. Karena kesalahpahaman, Sylvia tidak sengaja mencetuskan soal kehamilan Paula  saat Paula dan kekasihnya terlibat argumen karena sang pria hendak kembali pada istrinya. Walaupun maksud Sylvia baik, namun Paula menganggap tindakannya itu telah menghancurkan hidupnya. Apalagi rumor tersebut mulai menyebar di sekolah karena ulah Ricky Hobbs (Evan Peters) –anak lelaki yg diam-diam menyukai Sylvia dan kebetulan mencuri dengar saat perseteruan itu terjadi.

Shirley Baniszewski: Don’t worry Jennie. Mamma’s just teaching her.

Dibakar dendam, Paula mulai memanipulasi kejadian ini dengan mengadu pada ibunya dan menyalahkan Sylvia karena telah menyebarkan rumor dan bahwa Sylvia-lah yang  bertingkah laku layaknya wanita murahan. Dimulailah hari-hari bagai neraka bagi Sylvia. Berbagai hukuman yg di luar batas kemanusiaan mesti ia jalani, termasuk dipukuli, disundut api rokok, serta dikurung di ruang bawah tanah sampai berhari-hari. Jenny sang adik, tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menangis karena ia diancam akan menerima perlakuan serupa jika memberitahu orang lain ataupun mencoba kabur. Gertrude berhasil menutupi hal ini dari orang lain dengan berkilah Sylvia sedang dikirim ke rehabilitasi anak nakal karena tingkahnya yg sulit diatur. Yang lebih miris adalah, anak-anak Baniszewski pun mulai ikut-ikutan menyiksa Sylvia, bahkan mengundang anak-anak tetangga untuk ikut berpartisipasi karena ‘…mother says we could’. Sylvia yg malang harus mengalami penderitaan bertubi-tubi menjadi ‘mainan’ bagi keluarga Baniszewski. Puncak siksaan saat mereka memutuskan menorehkan sebuah ‘tanda’ pada tubuh Sylvia.

Gertrude Baniszewski: You know what it’s like to be sick, Sylvia. I’ve been sick for so long, too. I can’t… discipline my kids they was I should. I punish them I know, but… sometimes with my medicine I gets so I don’t know what I’m doing.
[begins to cry]
Gertrude Baniszewski
: And I care for them so much. Paula, the thing is… Paula’s a lot like me. I had her when I was just about your age. Then Stephanie. Then all the others. Then John left… And here I am on medicine, doing whatever I can to keep my family together. I want something better for Paula… There has to be something better… And I need to protect my children…
[cries]
Gertrude Baniszewski
: Do you understand that? You kids… you’re all I’ve got… Thank you, Sylvia. Thank you for understanding, thank you.

FIlm ini juga dikisahkan back-to-back dengan suasana ruang pengadilan dimana Gertrude menjadi terdakwa atas kasus ini dan pemaparan atas kesaksian tiap tokoh yg terlibat, termasuk anak-anaknya. Di akhir film akan terkuak bagaimana nasib Sylvia, Jenny maupun Gertrude. Catherine Keener betul betul tampil meyakinkan sebagai seorang ibu tunggal yg mengalami depresi, nerve breakdown dan terganggu mentalnya. Catherine sukses bertransformasi menjadi ‘monster’, ia sempat juga dinominasikan Emmy dan Golden Globe untuk  peran ini. Sedangkan wajah innocent Ellen Page yg konon pilihan satu-satunya untuk memerankan Sylvia juga membuat kita semakin tidak tega menyaksikan adegan demi adegan dimana dia disiksa. Cukup ngeri menyadari bahwa kisah ini diangkat dari kisah nyata. Di satu sisi, faktor ekonomi dan tekanan memiliki enam orang anak –plus dua orang anak tambahan memang dapat dimengerti menimbulkan stress yg amat sangat bagi Gertrude. Namun juga bergidik dengan fakta bahwa anak-anaknya ‘terpengaruh’ untuk ikut-ikutan berbuat keji tanpa sebenarnya mengerti apa yg sedang terjadi. Usia anak Gertrude bahkan baru berkisar belasan tahun.  Yang lebih menyedihkan lagi, tidak seorang pun dari lingkungan mereka sadar akan tragedi yg menimpa Sylvia –ironis, namun begitulah adanya yg umum terjadi pada kasus kekerasan domestik, bukan begitu? :( . Saat terkuak, kasus ini mendapat predikat   “the single worst crime perpetrated against an individual in Indiana’s history”. An American Crime –brutal, disturbing and heartbreaking. 7/10


Sylvia Likens: She sacrificed me to protect her children, and she sacrificed her children to protect herself.

Away We Go – review

10 menit pertama menonton film ini saya sempat ragu pada rekomendasi seorang teman akan film ini, karena film macam apa yg topik dialog utamanya dalam adegan pembuka  adalah vaginal douche? hahaha. Tapi ternyata teman saya memang benar adanya, ‘Away We Go’ luar biasa!. Mungkin sejak era ‘Juno’, kisah-kisah sederhana mengenai keluarga menjadi topik menarik yg bisa diangkat –tentu saja ini menjadi alternatif melegakan di tengah-tengah serbuan film berbudget gila-gilaan, efek visual dahsyat namun miskin cerita  :D

Burt Farlander (John Krasinki) dan Verona De Tessant (Maya Rudolph) tengah menunggu kehadiran buah hati mereka dalam beberapa bulan lagi. Mereka sengaja tinggal tidak jauh dari orangtua Burt -Jerry dan Gloria Farlander, agar saat proses kelahiran maupun merawat sang bayi kelak, sang calon kakek nenek juga dapat turut serta. Apalagi orangtua Verona sudah lama meninggal. Burt dan Verona sendiri sesungguhnya tidak menikah, karena Verona sendiri tidak mempercayai pernikahan yg dinilainya sebagai ‘institusi’ semata, walaupun Burt sendiri sebetulnya sudah berkali kali melamarnya.

Namun alangkah terkejutnya pasangan muda ini mendengar kabar bahwa Jerry dan Gloria hendak pindah ke Belgia tepat sebulan sebelum sang jabang bayi diperkirakan lahir. Karena mereka tetap ingin ada kehadiran keluarga dekat atau sahabat saat kelahiran nanti, maka Bert dan Verona pun terpikir untuk juga pindah. Dimulailah perjalanan mereka menelusuri Phoenix, Madison, hingga Montreal mengunjungi sahabat-sahabat lama dan kerabat mereka, sekaligus menyeleksi lingkungan yg tepat untuk keluarga kecil mereka nanti. Yes, this is road movie, people! :D

Disinilah berbagai kekocakan mulai terjadi. Mulai dari sahabat lama Verona yg gaya bicaranya amat sangat frontal; pasangan hippies dengan kebiasaan yg cukup aneh; hingga keluarga teman kuliah mereka yg mengadopsi banyak anak. Hingga pada usaha Bert membantu Verona menaikkan rate detak jantung bayi dalam perutnya yg mengundang tawa. Cukup takjub melihat Verona yg dikisahkan sedang hamil 6 bulan melakukan road trip ini bersama Bert. Dalam perjalanan ini juga mereka merenungi makna arti ‘rumah’ seperti apa yg sebenarnya mereka idamkan. Film ini sukses membuat ‘iri’ akan kehangatan dalam kesederhanaan hubungan Bert dan Verona. Apalagi Bert yg selalu bisa menenangkan Verona saat self esteemnya sedang turun, dengan kejenakaannya sendiri :) .  Jangan lewatkan juga penampilan Maggie Gylenhall yg berperan sebagai teman lama Verona yg sedikit eksentrik :D . Hampir luput dari mata saya kalau sutradara dari film ini adalah Sam Mendes, yg sebelumnya justru lebih suka ‘bermain’ di area satir dan depresi seperti ‘American Beauty’ dan ‘Revolutionary Road’. Good job mate, be ‘happy’ more often might be good for you ;) .

I’ve been on movie marathon for the last three days, and ‘Away We Go’ is the BEST i’ve had :)

It’s a definite 9/10


Verona De Tessant: Burt, are we fuck-ups?
Burt Farlander
: No! What do you mean?
Verona De Tessant
: I mean, we’re 34…
Burt Farlander
: I’m 33.
Verona De Tessant
: …and we don’t even have this basic stuff figured out.
Burt Farlander
: Basic, like how?
Verona De Tessant
: Basic, like how to live.
Burt Farlander
: We’re not fuck-ups.
Verona De Tessant
: We have a cardboard window.
Burt Farlander
: [Looks at window] We’re not fuck-ups.
Verona De Tessant
: [Whispers] I think we might be fuck-ups.
Burt Farlander
: [Whispers back] We’re not fuck-ups.

Tom Garnett: It’s all those good things you have in you. The love, the wisdom, the generosity, the selflessness, the patience. The patience! At 3 A.M. when everyone’s awake because Ibrahim is sick and he can’t find the bathroom and he’s just puked all over Katki’s bed. When you blink, when you blink! And it’s 5:30 and it’s time to get up again and you know you’re going to be tired all day, all week, all your fucking life. And you’re thinking what happened to Greece? What happened to swimming naked off the coast of Greece? And you have to be willing to make the family out of whatever you have.


Burt Farlander: Do you promise to let our daughter be fat or skinny or any weight at all? Because we want her to be happy, no matter what. Being obsessed with weight is just too cliché for our daughter.
Verona De Tessant: Yes, I do. Do you promise, when she talks, you’ll listen? Like, really listen, especially when she’s scared? And that her fights will be your fights?
Burt Farlander: I do. And do you promise that if I die some embarrassing and boring death that you’re gonna tell our daughter that her father was killed by Russian soldiers in this intense hand-to-hand combat in an attempt to save the lives of 850 Chechnyan orphans?
Verona De Tessant: I do. Chechnyan orphans. I do. I do.