mtf_vUdYF_123

Autumn in Osaka #JapanTrip (part 1)

Tumbuh besar dengan pengaruh pop culture yang sangat kuat dari Jepang (manga, anime, fashion, kuliner, J-music, dan lain-lain) membuat negeri Sakura ini menjadi tujuan utama saya saat saya mendapatkan jatah Personal Development Fund (PDF) perdana tahun ini. Di Maverick, setiap karyawan yang sudah menjalankan masa baktinya selama setahun diberi ganjaran berupa PDF yaitu dana yang bisa digunakan untuk kegiatan apapun di luar kegiatan kantor.  Mulai dari menjalani hobi ataupun pergi melancong kemanapun kita suka.

Kebetulan lagi, masa bakti setahun saya di Maverick hanya berselisih satu bulan dengan bulan dimana saya melangsungkan pernikahan! Jadilah Jepang saya jadikan negara tujuan bulan madu. Seru, kan, bulan madu yang akomodasinya dibiayai kantor! :p

Autumn Leaves

Selain musim semi di bulan Maret yang terkenal dengan mekarnya bunga Sakura, menurut japan-guide.com, November adalah bulan terbaik untuk mengunjungi Jepang karena jatuh pada musim gugur, di mana daun-daun di Jepang sedang dihiasi rona merah dan kuning yang super cantik. Beberapa persiapan yang saya lakukan:

1. Browsing referensi sebanyak-banyaknya untuk menyusun itinerary. Selain japan-guide.com yang memang paling resourceful, kebetulan saya mendapat referensi itinerary dari blognya Puty Karina Puar dan iapun berbaik hati untuk mengirimkan rujukan itinerary buatannya pada saya :). Kebetulan lagi tahun 2012 banyak sekali teman-teman yang juga melakukan #JapanTrip seperti @qronoz , @rahneputri, @pipis, @arismd, @NCLYS dll sehingga bisa juga banyak bertanya mengenai tips & trik selama melakukan perjalanan di Jepang.

2. Sebagai warga negara tropis, persiapkan diri untuk membawa setelan baju hangat karena angin musim gugur konon cukup kencang; di siang hari mencapai 13 celsius dan malam hari bisa drop hingga 3 celsius.

3. Zaman digital nampaknya tidak lengkap ya jika tidak mengupdate status dan share foto selama perjalanan :D karena itu saya memutuskan untuk menyewa modem wifi portable senilai 6000 yen untuk pemakaian 7 hari selama di Jepang, berdasarkan referensi @pipis, saya menggunakan jasa Global Advanced Communication. Wifi portable ini nanti bisa diantarkan ke bandara atau ke hostel kita sesuai kesepakatan. Koneksi internet juga penting untuk penggunaan GoogleMaps selama di perjalanan supaya tidak nyasar. Juga jangan lupa membawa powerbank supaya batere smartphone kita tetap stand by selama perjalanan.

Powerbank & Modem Wifi

Berikutnya saya akan membagi kisah saya dan @arghawisha selama #JapanTrip ke dalam 3 bagian: Osaka, Tokyo dan Kyoto. First stop Kansai International Airport! 

Osaka

Banyak orang bilang, jika Jakarta diibaratkan Tokyo, maka Osaka adalah Bandung. Sama-sama terkenal akan citarasa kulinernya yang lezat dan juga kota kelahiran banyak musisi hebat Jepang (salah satunya band Jepang pujaan saya yang sempat mampir ke Indonesia di awal tahun, L’Arc~en~Ciel). Bahkan pada zaman dulu, Osaka memang pernah jadi ibukota Jepang sebelum akhirnya dipindahkan ke Tokyo.

KIX

Hal pertama yang dilakukan saat mendarat di Jepang via Bandara Internasional KIX adalah mengantri penukaran JR-Pass; yaitu kartu subway khusus turis internasional. Dengan kartu pass ini, kita tidak perlu mengantri tiket di subway dan bebas menggunakan kereta selama jalurnya di bawah bendera perusahaan JR. Harganya memang cukup mahal, namun karena saya tidak ingin repot (dan tidak ingin terjebak kendala bahasa), menurut saya cukup sepadan kok. Oh iya, JR Pass ini harus dibeli sebelum kita berangkat, yaitu di Japan Airlines Indonesia. Bukti pembelian di Indonesia nantinya tinggal ditukarkan dengan kartunya di outlet bandara.

UPDATE:  Penggunaan JR Pass bakal menguntungkan kalau rute kamu di Jepang banyak bolak-balik atau pindah-pindah kota (misal dari Osaka ke Tokyo, Kyoto, Nagoya atau kota lainnya) kalau cuma stay di satu kota sih lebih  baik beli transportation pass yang harian saja.
Soalnya yg bikin mahal itu sebetulnya tiket Shinkansen antar kota :))
Misalnya: tiket Tokaido Shinkansen (kereta Hikari and Kodama) rute Kyoto-Tokyo saja harga one way-nya 13,600 yen. Baru sekali jalan lho ya  XD. Untuk lihat tarif berbagai rute Shinkansen, bisa lihat di: http://www.jreast.co.jp/e/charge
Nah, untuk JR-Pass 7 hari itu harganya 38,880 Yen alias sekitar 4.5 juta. Memang mahal, bahkan lebih mahal dari tiket pesawat PP saya waktu itu hahah :’)). Tapi kalau memang banyak bolak balik Tokyo-Osaka-Kyoto dll, tentunya jatuhnya lebih murah, apalagi bisa dipakai di rute dalam kota juga (terutama Tokyo dan Osaka).
Untuk informasi mengenai daily pass Tokyo bisa lihat di sini, Osaka di sini dan Kyoto di sini.

Kejadian lucu yaitu saat saya berusaha menelpon pemilik hostel tempat saya dan suami menginap untuk minta dijemput, namun ternyata kami cukup bingung bagaimana menggunakan payphone di stasiun, karena semua petunjuknya memakai bahasa Jepang! Hal menarik juga yang saya perhatikan, bahkan brosur-brosur untuk turis yang ada di bandara hampir semua berbahasa Jepang :D Kinda pointless, no? hahaha.

OsakaSetelah menggunakan bahasa terpatah-patah dari buku panduan travel dan aplikasi translator di smartphone untuk bertanya pada petugas stasiun, akhirnya tersambung juga dengan Takemoto-san, sang pemilik hostel. I guess there is no such thing as luxury traveling in Japan, unless you’re really really really have a lot of money. Pemandangan turis (dan pekerja kantoran) menggiring kopernya di sepanjang jalan nampaknya bukan suatu hal yang aneh, karena biaya taksi di Jepang yang sangat mahal dan hampir semua orang menggunakan akses transportasi publik, yaitu kereta. Jadilah saya dan suami berjalan menenteng koper kami hampir 3-4 blok jauhnya  dari stasiun menuju hostel mengikuti Takemoto-san yang menjemput kami menggunakan sepeda. Namun inilah istimewanya Jepang, yang fasilitas publiknya sangat memanjakan pedestrian alias pejalan kaki. Jalan yang lebar dan bebas polusi serta zebra cross yang melimpah didukung ketertiban para penduduknya, adalah hal-hal yang agak sulit ditemukan di negeri sendiri. Iri? sudah pasti.

Ah ya, selama di Osaka saya dan suami menginap di Osaka Namba Guest House menggunakan hostelbookers.com. Karena memang kami tidak ingin bermewah-mewah, jadi hostel sudah cukuplah buat kami, yang penting cukup nyaman dipakai beristirahat dan dekat dengan convenience store dan stasiun! Osaka Namba Guest House ini  memiliki 3 kamar dengan 1 pintu utama dan sharing bathroom. Wifi juga tersedia di sini. Kamarnya memang cukup sederhana, tapi selimut futon yang disediakan sangat fluffy!

Osaka Nanba Guest House

Keberadaan convenience store seperti Family Mart atau Seven Eleven di sekitar hostel itu penting, karena di situlah tempat kami bergantung untuk membeli sarapan dan makan malam :D. Untuk menghemat biaya makan, pilihan kami jatuh pada onigiri atau oden yang harganya bervariasi antara 100-300 yen. Lumayan kan? :p

Family Mart

Jetlag tidak menghentikan kami untuk langsung plesir ke Osaka Castle. Nampaknya di Osaka-Jo Hall yang ada di dekatnya sedang ada konser, karena ramai sekali dan banyak orang yang berlarian menuju hall. Walau kami tidak sempat masuk ke dalam istananya (karena sudah terlanjur tutup juga sih hehehe), namun berjalan-jalan mengelilingi taman dan bentengnya saja sudah luar biasa senang. Orang Jepang memang apik menjaga heritagenya sehingga tetap terawat, indah dan yang paling penting: bersih!

Osaka Jo Hall

Osaka Castle

Puas melihat megahnya Osaka Castle, kami bertolak pulang ke daerah Nanba untuk menyusuri entertainment & food district yang ramai dengan pengunjung dan gemerlap lampu neon dari game center dan pachinko!. Saya sempat berpikir ini kawasan Dotonburi yang terkenal itu, namun nampaknya bukan, karena saya tidak menemui landmark neon Glico man dan kepiting yang terkenal itu :)). Tentu tidak lupa mencicipi camilan khas Osaka, Takoyaki dan Okonomiyaki. Walaupun di Indonesia juga sudah banyak dijual, namun porsi penyajian di Osaka jauuuuh lebih ‘murah hati’.

Nanba Downtown

Takoyaki

Hari kedua sengaja saya memilih untuk mengunjungi Nara untuk melihat kuil dan ‘Autumn spot’ yang pastinya lebih indah daripada yang ada di kota besar seperti Osaka. Nara terletak 1.5 jam perjalanan kereta dari Osaka, dan yang membuat saya tertarik selain aura kota tuanya adalah Kuil Todaiji, salah satu kuil yang memiliki patung Buddha perunggu terbesar.  Tinggi patungnya sendiri mencapai 15 meter, bayangkan saja seberapa besar kuil yang menaunginya. Belum lagi ukiran-ukiran patung yang sangat mendetil. Suasana kuil Todaiji di akhir pekan itu cukup ramai dengan orang-orang yang hendak berdoa ataupun sekedar berwisata.

Nara street

Todaiji Temple, Nara

Buddha statue, Todaiji temple

Juga yang paling menyenangkan adalah kawanan rusa yang sengaja dilepas di jalan masuk menuju Nandaimon Gate, gerbang pengantar sebelum masuk ke Kuil Todaiji.

Konon dalam legenda mereka, rusa dianggap sebagai hewan yang dijadikan kendaraan dewa saat berkunjung ke bumi. Sejak itulah rusa dianggap suci. Nampaknya rusa-rusa ini memang sudah biasa ada di keramaian karena mereka cenderung ramah dan jago berpose jika tahu akan difoto.

Deer at Nara Park

Say Deer!

Dari Kuil Todaiji kami berjalan kaki ke Isuien Garden, taman yang indahnya bukan main! Yang lebih hebat lagi, arsitektur taman ini sudah dibuat sejak abad ke-17. Masuk ke taman ini serasa masuk ke dunia lain, karena taman yang terdiri dari pepohonan, kolam, bukit dan tea-house tradisonal Jepang ini betul-betul tenang dan asri.

Kalau memang ada yang namanya surga, ya mungkin begini inilah bentuknya :p

Isuien Garden

Isuien Garden

Isuien Garden - back

Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Osaka Kaiyukan, akuarium yang terletak di dekat dermaga dan salah satu akuarium terbesar di dunia! Akuarium ini didesain sedemikian rupa sehingga pengunjung berputar mengelilingi labirin dari ‘dataran tinggi’ menuju kedalaman laut.  Koleksi hewan mereka mulai dari serombongan penguin hingga ubur-ubur yang eksotis, lengkap! Favorit pengunjung? tentunya kolam paus/hiu. Ikan sardin yang berenang dalam kawanan di antara hiu paus dan ikan pari seolah-olah menari mengikuti musik yang mengalun. Simfoni bawah laut yang indah!

Osaka Kaiyukan

Jellyfish - Osaka Kaiyukan

Shark tank - Osaka Kaiiyukan

Sepulangnya dari Osaka Kaiyukan, kami mengisi perut di gerai makan rekomendasi Takemoto-san yang lokasinya dekat dengan hostel kami. Saya lupa nama menunya apa, tapi hidangan berisi udon, daging sapi cincang, telur mentah dan sayuran itu enak dan mengenyangkan! Kalau tidak salah harganya sekitar 300-450 yen. Untuk minum sendiri biasanya sudah disediakan gratis, baik itu berupa air putih atau ocha.

Dinner at Nanba

Beef bowl

Setelah Osaka, masih ada dua kota selanjutnya yaitu Tokyo dan Kyoto. Tunggu kisah perjalanan saya dalam postingan selanjutnya, ya! :)

 

 

18 thoughts on “Autumn in Osaka #JapanTrip (part 1)”

  1. hi, salam kenal.. mau tanya, saat itu kira2 berapa derajat yah.. saya mau pergi awal dec 2013. agak bingung dgn coat nya (harus yang tebal, tipis, sedeng2 atau gmn). thanks so much.

    1. Waktu itu suhunya sekitar 13-16 derajat, anginnya lumayan kenceng apalagi kalau malam :))
      Saya sih kemarin hanya pakai 1 coat lapis baju lengan panjang katun dengan syal saja.
      Bawahannya hanya pake legging + boots.
      FYI sampainya di jepang coba mampir ke toko stocking/legging, karena mereka punya legging yang bahannya memang lebih tebal dari yang biasa dan bisa menahan hawa panas tubuh. Saya juga baru nemu pas di Harajuku dan harganya murah :D
      Kalau tidak ketemu, ya pakai jeans saja tidak apa-apa sih.
      Yang juga tidak kalah penting sih bawa kupluk/penghangat kepala dan sarung tangan :D

      Awal desember mungkin sudah lebih dingin, coba cek saja prediksi suhunya di http://www.accuweather.com/en/jp/tokyo/226396/weather-forecast/226396

  2. pagi mba..
    seneng banget nemu blog ini, trus coment nya dibales lagi..
    Mba bisa bantu aku ga kirim rujukan itinerary mba kmren ke emailku… aku berangkat april ini, tp masih bingung ntr mau kemanaa aja.. :(
    makasihhhh bangeettt…

    1. Hai halo, maaf baru sempat balas lagi XD oke segera kukirim ya, tapi ini juga rujukan yang aku dapet karena pas aku pergi gak pake itinerary tok selain untuk patokan durasi dan rute kereta saja hehehe

  3. Mba tanya donk, aku rencana ber5 awal november ke osaka, sebaiknya kita beli JR Pass atau ga usah, dan harganya berapa mbak…tq

    1. Halo! Sebetulnya sih JR Pass bakal nguntungin kalau rute kamu di Jepang banyak bolak-balik atau pindah-pindah kota (misal dari Osaka ke Tokyo, Kyoto, Nagoya atau kota lainnya) kalau cuma stay di satu kota sih pakai yang harian saja.
      Soalnya yg bikin mahal itu sebetulnya tiket Shinkansen antar kota :))
      Misalnya: tiket Tokaido Shinkansen (kereta Hikari and Kodama) rute Kyoto-Tokyo saja harga one waynya 13,600 yen. Baru sekali jalan lho XD
      Nah, untuk JR-Pass 7 hari itu harganya 38,880 Yen alias sekitar 4.5 juta. Memang mahal, bahkan lebih mahal dari tiket pesawat PP saya waktu itu hahah :’)). Tapi kalau memang banyak bolak balik Tokyo-Osaka-Kyoto dll, tentunya jatuhnya lebih murah, apalagi bisa dipakai di rute dalam kota juga.

      Kalau untuk daily pass di Osaka bisa cek:
      http://www.osaka-info.jp/osp/en/guide/guide.html
      Ada yang harian atau per dua hari, harganya sekitar 2000-3000 yen, bisa dibeli di bandara KIX atau di stasiun :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s