Midnight in Paris – review

Siapapun sudah familiar dengan kisah Cinderella. Dentang jam 12 malam adalah waktu keberuntungannya dimana ia bisa merasakan mimpinya menjadi kenyataan. Woody Allen sepertinya ingin mewujudkan keajaiban serupa bagi tokoh penulis ciptaannya yang diperankan Owen Wilson. Dan kota Paris mendapat kehormatan untuk meminjamkan percikan magisnya sebagai kota sejuta mimpi.

Gil is an aspiring writer. Setidaknya itulah cita-citanya, sementara untuk mencukupi hidup ia ‘terpaksa’ bekerja sebagai penulis naskah film Hollywood. Menghabiskan liburan di Paris bersama tunangannya Inez (Rachel McAdams), Gil begitu terkesan dengan romantika kota ini dan sempat berpikir untuk melepaskan semua kehidupan glamornya di Hollywood untuk menetap di Paris. Namun tentu saja sang tunangan, yang lebih memilih hidup berkecukupan, menentang ide tersebut.

Gil: I’m having trouble because I’m a Hollywood hack who never gave real literature a shot.

Continue reading

Locked & Elevated

Irene Adler: Oh dear God. Look at the poor man. You don’t actually think I was interested in you? Why? Because you’re the great Sherlock Holmes, the clever detective in the funny hat?

Sherlock Holmes: No…[Takes her hand and leans in to whisper] because I took your pulse. Elevated. Your pupils dilated. I imagine John Watson thinks love’s a mystery to me, but the chemistry is incredibly simple and very destructive. When we first met, you told me that a disguise is always a self portrait, how true of you, the combination to your safe – your measurements. [Holds up her phone] But this, this is far more intimate. This is your heart, and you should never let it rule your head. [He starts entering digits] You could have chosen any random number and walked out of here today with everything you worked for. But you just couldn’t resist it, could you? I’ve always assumed that love is a dangerous disadvantage.

Thank you for the final proof.

Sherlock Holmes & Irene Adler; Sherlock the series – A Scandal in Belgravia

#currentlyobsessed

(image source: here)

Like Crazy – review

Anna: I thought I understood it. But I didn’t. I knew the smudgeness of it. The eagerness of it. The Idea of it. Of you and me.

Tidak seperti film bernarasi seperti pada umumnya, Like Crazy menyampaikan kepingan-kepingan dokumentasi perjalanan cinta Jacob (Anton Yelchin) dan Anna (Felicity Jones) dengan apa adanya. Dengan tema besar mengenai long distance relationship (LDR), beberapa menit awal Like Crazy memang akan terasa lambat dan membosankan, karena memang tidak dikemas se-hip Going The Distance ataupun dihiasi banyak lagu dari band indie terkini seperti 500 Days of Summer. Walau begitu, Droke Doremus sang sutradara cukup cermat menuturkan dan memvisualisasikan beberapa momen tertentu dengan indahnya mulai dari awal perjumpaan mereka, kencan pertama, perpisahan pertama, pertengkaran pertama, dan seterusnya.

Summer fling, mungkin itu yang ada di benak awal Jacob saat berkenalan dengan Anna, mahasiswi pertukaran pelajar dari Inggris. Singkat cerita hubungan mereka berkembang dengan sendirinya, mengesampingkan bahwa Anna pada akhirnya toh akan pulang ke Inggris. Bahkan saking head-over-heels falling in love, pada suatu ketika Anna menyalahi penggunaan visa pelajarnya. Ia memutuskan untuk menghabiskan liburan bersama Jacob di mana seharusnya ia pulang ke Inggris. Satu kecerobohan kecil ini ternyata membawa dampak berkepanjangan pada hubungan mereka ke depannya.

Continue reading

Drive – review

The underdog movie of the year. Untuk awalnya, jangan berharap film ini penuh adegan aksi kebut-kebutan ala Fast and Furious hanya karena Ryan Gosling diplot sebagai stunt driver. Jangan pula menyangka Gosling telah menjadi bintang laga komersil. Drive is simply a love story, a badass love story in cold blood. And packed in a very stylish 80′s ambience and tunes.

Stunt driver by day, wheelman by night, begitulah keseharian pria misterius yang diperankan Ryan Gosling ini. Dingin dan tidak pernah bicara banyak, hingga ia berkenalan dengan Irene (Carey Mulligan) seorang ibu muda yang hidup di seberang apartemennya. Walau tahu Irene memiliki suami yang sedang mendekam di penjara, namun jelas sekali ada ketertarikan di antara keduanya. Nah, disinilah Nicholas Winding Ren sang sutradara terampil menyuguhan adegan-adegan ‘manis’ antara Gosling dan Mulligan berhiaskan lantunan elektro khas 80′an, sebagaimana sudah sangat terasa sejak credit title pembuka.

As for the cold blood thingy, it’s entirely true as well. Bermula saat sang tokoh anti-hero kita mencoba membantu suami Irene yang baru saja keluar dari penjara dan diperas oleh mafia. Mereka berdua dijebak sehingga kini ia mesti menelusuri dan menuntut balas pada sang gembong mafia demi melindungi Irene dan Benicio, putra Irene. And when you say Mob, it means extreme violence. The elevator scene below, is my favorite. :D

Continue reading

50/50 – review

Nampaknya karena Joseph Gordon Levitt memang dianugerahi wajah yang melas, ia cocok sekali memerankan peran tokoh teraniaya macam Cameron James di 10 Things I Hate About You, Tom Hansen di 500 Days of Summer, atau seperti perannya sebagai Adam di film 50/50 ini. Kecuali tentunya saat ia mendobrak itu semua lewat Hesher (2010) :p. Well anyway, back to 50/50, Adam adalah pemuda twenty-something biasa, bekerja sebagai produser di sebuah stasiun radio dan memiliki pacar cantik yang tinggal bersamanya. Dunianya seketika jungkir balik saat ia divonis dokter mengidap sebuah kanker tulang belakang yang langka. Tentunya bukan kabar yang ingin didengar seseorang di saat usianya baru saja 27 tahun.

Adam: A tumor? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: Me? 
Dr. Ross: Yes. 
Adam: That doesn’t make any sense though. I mean… I don’t smoke, I don’t drink… I recycle…

Untuk fim dengan tema kanker, plotnya cukup mudah dicerna, tidak semelankolis Dying Young (1991) atau sedepresi Funny People (2009). Namun ada benang merah yang menghubungkan 50/50 dengan Funny People, yakni sama-sama dibintangi Seth Rogen. Disini Seth Rogen berperan sebagai Kyle, sahabat Adam yang ceplas-ceplos. (well, Seth Rogen is being Seth Rogen indeed :D ). 50/50 sendiri adalah angka presentasi kesembuhan Adam yang diprediksi oleh dokter.  Keistimewaan kisah 50/50 ini memang terletak pada kesederhanaannya. Seolah menyampaikan that shit does just happen sometimes and it doesn’t discriminate, even to a guy as decent, as mild, as good as Adam. Adam kini menjalani kesehariannya dengan rangkaian kemoterapi, berkenalan dengan pasien kanker lain, juga sesi terapi dengan psikiater kikuk Katherine (Anna Kendrick). Ia pun harus menghadapi kepanikan sang ibu (Anjelica Huston, in one of her less-scary gesture here :D ) dan the girlfriend we’d all love to hate, Rachael (Bryce Dallas Howard, yang nampaknya mulai menapaki spesialis peran antagonis sejak akting gemilangnya di The Help :D ). Seiring waktu dan penyakit yang kian menggerogoti, makin sulit bagi Adam untuk tetap bersikap positif.

Continue reading

Another Earth – review

Secara kebetulan ada dua karya di ajang festival film tahun 2011 yang mengangkat tema serupa tapi tak sama. Yang pertama adalah Melancholia karya Lars Von Trier yang mengangkat drama dibumbui plot sebuah planet yang berpotensi menghancurkan bumi, serta Another Earth, yang juga dihiasi planet lain, namun berupa bumi paralel.

Walau Melancholia bermain di ‘liga besar’ seperti Cannes dan European Film Awards, IMHO secara storytelling daya pikat Another Earth jauh lebih besar, terbukti film ini meraih Special Jury Prize dan Alfred P. Sloan Feature Film Prize di Sundance Film Festival. Jangan membayangkan plot Another Earth akan penuh aksi terkait armageddon seperti Deep Impact, karena sesungguhnya film ini bercerita mengenai introspeksi, kontemplasi, harapan, identitas dan tentu saja, cinta. In the parallel universe, this could have been a love story. 

Continue reading

Red State – review

Belum puas menggedor isu agama lewat film Dogma (1999), kini giliran kaum fundamentalis yang diangkat Kevin Smith sebagai sentral cerita film Red State. Aktor/penulis/sutradara yang sebelumnya dikenal lewat karya komedi seperti Jay and Silent Bob, seri Clerks dan Zack & Miri Make A Porno tanpa ragu memberi label horor pada film yang dipasarkannya secara gerilya ini. Teaser-posternya yang cukup sederhana dengan  sosok putih berdiri di depan salib mungkin membuat banyak orang berpikir film ini bercerita tentang aktivitas exorcism. Namun horor yang dimaksud Kevin ternyata memang jauh lebih nyata, dan tentunya lebih mencekam.

Bayangkan saja, apa yang lebih menyeramkan dibanding sekelompok kaum ekstrimis fundamentalis yang memiliki gudang senjata, menculik dan membunuh orang yang bersebrangan paham dengan mereka? Exactly.

Living in this country with those moronic extrimist such as FPI, i know i can definitely relate. Wouldn’t you?

Kevin Smith jelas terinspirasi dari Westboro Baptist Church, sekte gereja ekstrim yang bahkan di Amerika sendiri sudah dikategorikan ke dalam hate group karena aksi protes mereka yang cukup brutal. Stasiun Televisi Inggris BBC pun pernah membuat seri dokumenter tentang kehidupan salah satu keluarga dari sekte ini yang bertajuk ‘The Most Hated Family in America’ (1997)

Dalam Red State, sekte ekstrimis tersebut bernama Five Point Church yang dikepalai oleh pendeta Abin Cooper (Michael Parks). Kota dimana mereka tinggal sedang diramaikan oleh berita orang hilang serta pembunuhan terhadap remaja gay. Kasus ini menjadi pembicaraan seisi kota, termasuk jadi bahan diskusi kelas di sebuah sekolah. Diperkenalkanlah Travis, Jared dan Billy Ray ke dalam cerita. Tiga orang pemuda ini merupakan penggambaran stereotype remaja tanggung; badung,serba ingin tahu and horny all the time. Tidak heran saat Jared mengaku mendapat undangan untuk melakukan group sex dengan seorang wanita yang ditemuinya lewat internet, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa sadar, mereka jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh aktivis Five Point Church.

Continue reading

The Raid – INAFFF

I can’t tell you much about The Raid (cause my friends would probably kill me for lashing out spoilers :D )

But i can tell you this: The Raid lives way beyond its hype.

Mind-blowing,  breathtaking, ass-kicking, jaw-breaking, blood-dripping, adrenaline-rush experience that would make the whole cast of The Expendables goes to shame.

Plot dasar dari The Raid memang terdengar sederhana. Pasukan khusus yang dipimpin Jaka (Joe Taslim) dengan misi khusus menyerbu bangunan sarang bercokolnya bos kriminal Tama (Ray Sahetapy) beserta dua orang kepercayaannya Mad Dog (Yayan Ruhiyan) dan Andi (Donny Alamsyah). Di antara pasukan tersebut terdapat Rama (Iko Uwais) yang di balik misi utamanya memiliki tujuannya sendiri.

Beberapa dialog canggung termaafkan dan tenggelam di antara dahsyatnya adegan pertarungan dan pembantaian para pasukan khusus yang menyerbu sarang bos kriminal ini. Atlet judo nasional, Joe Taslim ternyata mampu memberikan performa akting yang sama sekali tidak mengecewakan sebagai Jaka. Ray Sahetapy juga sukses menampilkan sosok bos mafia yang bengis dan ditakuti.

Continue reading

The Incident – INAFFF

Sudah biasa dalam film horor/thriller dimana situasinya digambarkan terjebak di kegelapan dan diiringi hujan badai. Namun terjebak di kegelapan, diiringi hujan badai, terkunci di dalam rumah sakit jiwa berisikan berbagai macam psikopat yang bebas berlarian? Nah, itu baru mimpi buruk sebenarnya.

Kurang lebih itulah yang ditawarkan The Incident, salah satu film yang cukup menjadi bahan pembicaraan sepanjang INAFFF. George, Max dan Ricky adalah tiga orang pemuda yang menghabiskan waktunya bekerja sebagai juru masak di rumah sakit jiwa Sans yang terletak di pinggir kota. Memang bukan pekerjaan impian, namun cukup untuk menyambung hidup dan mimpi mereka sebagai band yang sedang merintis karir dari gigs kegigs.

Sans Asylum sendiri digambarkan sebagai rumah sakit jiwa yang memang didesain untuk ‘mengurung’ para pasiennya dengan tingkat keamanan maksimum. Dari mulai bangunan yang hampir tanpa jendela serta akses elektronik untuk seluruh pintu. Yes, a very depressing asylum indeed. I don’t know why people would designed such place without making its patient even crazier :p

Suatu hari hujan turun lebih lebat dari biasanya. Dalam gemuruh petir yang saling bersahutan, tiba-tiba Sans Asylum dihadapkan pada skenario terburuk: mati listrik. Bukan hanya kegelapan yang menyambut para juru masak serta petugas Sans Asylum, namun fakta bahwa dengan matinya listrik tersebut, akses keluar masuk pun terputus dikarenakan seluruhnya dijalankan dengan elektronik.

Continue reading